<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2010, Penjualan Alas Kaki Naik 30%</title><description>Penjualan alas kaki nasional di pasar domestik pada tahun ini  diproyeksikan akan mengalami kenaikan sekira 30 persen dari tahun lalu  yang sebesar Rp27 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2010/11/17/320/394204/2010-penjualan-alas-kaki-naik-30</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2010/11/17/320/394204/2010-penjualan-alas-kaki-naik-30"/><item><title>2010, Penjualan Alas Kaki Naik 30%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2010/11/17/320/394204/2010-penjualan-alas-kaki-naik-30</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2010/11/17/320/394204/2010-penjualan-alas-kaki-naik-30</guid><pubDate>Rabu 17 November 2010 18:28 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2010/11/17/320/394204/FfafnIaUss.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran SI</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2010/11/17/320/394204/FfafnIaUss.jpg</image><title>Foto: Koran SI</title></images><description>JAKARTA - Penjualan alas kaki nasional di pasar domestik pada tahun ini diproyeksikan akan mengalami kenaikan sekira 30 persen dari tahun lalu yang sebesar Rp27 triliun.Hal tersebut diungkapkan oleh Penasehat Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Djimanto. &quot;Pada tahun ini, penjualan semua jenis alas kaki di dalam negeri, mulai dari sandal hingga sepatu akan mencapai lebih dari Rp27 triliun,&quot; kata Djimanto di Jakarta, Rabu (17/11/2010).Menurut Djimanto, penjualan pada tahun 2008 dan 2009 sempat mengalami penurunan karena dampak dari krisis global. &quot;Tahun 2008 dan 2009 sempat mengalami penurunan sedikit,&amp;rdquo; ucap Djimanto.Selain penjualan di pasar domestik, Djimanto juga menyatakan, penjualan alas kaki untuk ekspor juga akan mengalami peningkatan sekira 30 persen pada tahun ini.&amp;ldquo;Pada tahun ini, kinerja ekspor akan naik sekira 30 persen dari tahun lalu yang sebesar USD1,8 miliar. Pada tahun ini, saya kira akan melebihi USD2 miliar,&amp;rdquo; jelas Djimanto.Kendati demikian, Djimanto mengakui, penjualan di pasar domestik dan ekspor masih terhambat oleh beberapa faktor, yang di antaranya adalah pasokan bahan baku dan lonjakan impor.&amp;ldquo;Bahan baku kulit sapi, kita sebagian masih impor. Kita butuh kulit sapi sekira 2,5 juta lembar per tahun, sementara pasokan lokal hanya tersedia sekitar 1,5 juta lembar. Jadi, sisanya masih harus impor. Biasanya kita impor dari Brazil, India, Argentina, dan Pakistan,&quot; papar Djiimanto.Sementara untuk lonjakan impor, Djimanto menuturkan, akan mengalami peningkatan sebesar dua kali lipat pada tahun ini.&amp;ldquo;Lonjakan impor semua jenis alas kaki akan terjadi pada tahun ini, karena masih terkena dampak ACFTA. Impor akan mencapai dua kali lipat dari tahun lalu,&amp;rdquo; katanya.Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Eddy Wijanarko sebelumnya pernah mengatakan, lonjakan impor akibat penerapan ACFTA. Sebab, kata Eddy, sebanyak 90 persen impor alas kaki berasal dari China.&quot;Jenis sepatu impor yang banyak masuk Indonesia adalah sepatu plastik dan sepatu sekolah untuk segmen menengah ke bawah,&quot; kata dia.Eddy menyebutkan, minat masyarakat pada produk Cina terutama karena harganya yang relatif murah. Dia mencontohkan untuk sepatu sekolah dengan harga Rp75 ribu-Rp129 ribu harus bersaing dengan produk China yang harganya Rp35 ribu-Rp60 ribu.Sementara itu, sepatu plastik lokal seharga Rp14 ribu-Rp30 ribu. Sementara, sepatu plastik asal China hanya Rp7.000. Eddy mengungkapkan, jika produk lokal terus kalah dari produk impor, bisa memukul industri sepatu nasional.&quot;Bisa menyebabkan pemutusan hubungan kerja di industri sepatu. Selain itu, produsen juga bisa beralih menjadi importir,&amp;rdquo; pungkas Eddy.Kementerian Perdagangan mencatat, impor alas kaki pada tahun 2009 mencapai USD63,558 juta. Pada Januari 2010 sebesar USD7,034 juta, Februari USD6,800 juta, Maret USD6,701 juta, April USD8,775 juta, dan Mei USD13,226 juta.Selain pasokan bahan baku dan lonjakan impor, Djimanto menuturkan, suku bunga yang masih tinggi dan biaya logistik yang mahal juga masih menghambat penjualan alas kaki.&amp;ldquo;Suku bunga bank kita masih dua digit, sementara di negara lain sudah satu digit. Selain itu, biaya pemungutan logistik ketika kami melakukan distribusi juga mahal sekali,&amp;rdquo;kata Djimanto.Di sisi lain, Djimanto menambahkan, pada tahun ini, belum ada investasi baru, baik berupa relokasi maupun ekspansi ke Indonesia. &amp;ldquo;Tahun ini belum ada, karena para investor terpengaruh isu sulit dan mahalnya merekrut tenaga kerja di Indonesia,&amp;rdquo;ucapnya.Hal itu, kata dia, pernah dialami oleh dua prinsipal sepatu yang sudah membangun pabrik di Serang dan Pasar Kamis namun belum juga beroperasi karena terganjal masalah tenaga kerja. &amp;ldquo;Sehingga investor lain jadi pikir dua kali karena mereka mendengar hal itu,&amp;rdquo; tandas Djimanto.</description><content:encoded>JAKARTA - Penjualan alas kaki nasional di pasar domestik pada tahun ini diproyeksikan akan mengalami kenaikan sekira 30 persen dari tahun lalu yang sebesar Rp27 triliun.Hal tersebut diungkapkan oleh Penasehat Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Djimanto. &quot;Pada tahun ini, penjualan semua jenis alas kaki di dalam negeri, mulai dari sandal hingga sepatu akan mencapai lebih dari Rp27 triliun,&quot; kata Djimanto di Jakarta, Rabu (17/11/2010).Menurut Djimanto, penjualan pada tahun 2008 dan 2009 sempat mengalami penurunan karena dampak dari krisis global. &quot;Tahun 2008 dan 2009 sempat mengalami penurunan sedikit,&amp;rdquo; ucap Djimanto.Selain penjualan di pasar domestik, Djimanto juga menyatakan, penjualan alas kaki untuk ekspor juga akan mengalami peningkatan sekira 30 persen pada tahun ini.&amp;ldquo;Pada tahun ini, kinerja ekspor akan naik sekira 30 persen dari tahun lalu yang sebesar USD1,8 miliar. Pada tahun ini, saya kira akan melebihi USD2 miliar,&amp;rdquo; jelas Djimanto.Kendati demikian, Djimanto mengakui, penjualan di pasar domestik dan ekspor masih terhambat oleh beberapa faktor, yang di antaranya adalah pasokan bahan baku dan lonjakan impor.&amp;ldquo;Bahan baku kulit sapi, kita sebagian masih impor. Kita butuh kulit sapi sekira 2,5 juta lembar per tahun, sementara pasokan lokal hanya tersedia sekitar 1,5 juta lembar. Jadi, sisanya masih harus impor. Biasanya kita impor dari Brazil, India, Argentina, dan Pakistan,&quot; papar Djiimanto.Sementara untuk lonjakan impor, Djimanto menuturkan, akan mengalami peningkatan sebesar dua kali lipat pada tahun ini.&amp;ldquo;Lonjakan impor semua jenis alas kaki akan terjadi pada tahun ini, karena masih terkena dampak ACFTA. Impor akan mencapai dua kali lipat dari tahun lalu,&amp;rdquo; katanya.Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Eddy Wijanarko sebelumnya pernah mengatakan, lonjakan impor akibat penerapan ACFTA. Sebab, kata Eddy, sebanyak 90 persen impor alas kaki berasal dari China.&quot;Jenis sepatu impor yang banyak masuk Indonesia adalah sepatu plastik dan sepatu sekolah untuk segmen menengah ke bawah,&quot; kata dia.Eddy menyebutkan, minat masyarakat pada produk Cina terutama karena harganya yang relatif murah. Dia mencontohkan untuk sepatu sekolah dengan harga Rp75 ribu-Rp129 ribu harus bersaing dengan produk China yang harganya Rp35 ribu-Rp60 ribu.Sementara itu, sepatu plastik lokal seharga Rp14 ribu-Rp30 ribu. Sementara, sepatu plastik asal China hanya Rp7.000. Eddy mengungkapkan, jika produk lokal terus kalah dari produk impor, bisa memukul industri sepatu nasional.&quot;Bisa menyebabkan pemutusan hubungan kerja di industri sepatu. Selain itu, produsen juga bisa beralih menjadi importir,&amp;rdquo; pungkas Eddy.Kementerian Perdagangan mencatat, impor alas kaki pada tahun 2009 mencapai USD63,558 juta. Pada Januari 2010 sebesar USD7,034 juta, Februari USD6,800 juta, Maret USD6,701 juta, April USD8,775 juta, dan Mei USD13,226 juta.Selain pasokan bahan baku dan lonjakan impor, Djimanto menuturkan, suku bunga yang masih tinggi dan biaya logistik yang mahal juga masih menghambat penjualan alas kaki.&amp;ldquo;Suku bunga bank kita masih dua digit, sementara di negara lain sudah satu digit. Selain itu, biaya pemungutan logistik ketika kami melakukan distribusi juga mahal sekali,&amp;rdquo;kata Djimanto.Di sisi lain, Djimanto menambahkan, pada tahun ini, belum ada investasi baru, baik berupa relokasi maupun ekspansi ke Indonesia. &amp;ldquo;Tahun ini belum ada, karena para investor terpengaruh isu sulit dan mahalnya merekrut tenaga kerja di Indonesia,&amp;rdquo;ucapnya.Hal itu, kata dia, pernah dialami oleh dua prinsipal sepatu yang sudah membangun pabrik di Serang dan Pasar Kamis namun belum juga beroperasi karena terganjal masalah tenaga kerja. &amp;ldquo;Sehingga investor lain jadi pikir dua kali karena mereka mendengar hal itu,&amp;rdquo; tandas Djimanto.</content:encoded></item></channel></rss>
