<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Konsumsi Cat Nasional Diproyeksi Naik</title><description>Konsumsi cat nasional diproyeksi akan mencapai 740.142 ton pada tahun  ini, atau naik dari tahun lalu yang sebesar 688.863 ton dan 646.700 pada  2009.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/01/30/320/419505/konsumsi-cat-nasional-diproyeksi-naik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/01/30/320/419505/konsumsi-cat-nasional-diproyeksi-naik"/><item><title>Konsumsi Cat Nasional Diproyeksi Naik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/01/30/320/419505/konsumsi-cat-nasional-diproyeksi-naik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/01/30/320/419505/konsumsi-cat-nasional-diproyeksi-naik</guid><pubDate>Minggu 30 Januari 2011 18:42 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/01/30/320/419505/DZJgvNkIJk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Foto: Corbis</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/01/30/320/419505/DZJgvNkIJk.jpg</image><title>Ilustrasi. Foto: Corbis</title></images><description>JAKARTA - Konsumsi cat nasional diproyeksi akan mencapai 740.142 ton pada tahun ini, atau naik dari tahun lalu yang sebesar 688.863 ton dan 646.700 pada 2009.Menurut Ketua Divisi Wood Coating Asosiasi Cat Indonesia Kris Rianto Adidarma, tingkat konsumsi pada tahun ini masih akan didominasi oleh cat tembok cair (wall paint water) yang diproyeksi akan mencapai 509.377 ton. Sedangkan pada tahun lalu hanya sebesar 471.590 ton dan 444.477 pada 2009.Lebih lanjut Kris mengatakan, penjualan cat di pasar domestik pada tahun lalu adalah sebesar 690 juta kilogram (kg) atau setara dengan Rp20 triliun. &quot;Untuk porsi ekspor masih sangat kecil. Sedangakan porsi impor yakni kira-kira Rp1 triliun,&amp;rdquo; kata Kris di Jakarta, Minggu (30/1/2011).Menurut Kris, penjualan di pasar domestik yang terbesar adalah di pulau Jawa.&amp;nbsp; Sementara itu, Kris mengungkapkan, jumlah kapasitas produksi cat nasional pada 2010 adalah sekira 860 juta kg, dengan utilisasi kurang lebih dari 80 persen.Kris menuturkan, peningkatan konsumsi dan penjualan didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik dan juga investasi baru di industri cat. &quot;Investasi baru adalah yang masih berputar di pembesaran kapasitas oleh produsen-produsen cat lokal,&quot; ucap Kris.Di sisi lain, Kris mengatakan, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 241/2010 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk (BM) Atas Barang Impor, berdampak buruk terhadap margin dan produksi industri cat nasional, karena sebagian besar bahan baku cat masih diimpor.&amp;nbsp; &quot;Apabila pemerintah tidak mempunyai arahan yang jelas untuk produsen kimia terutama cat, maka margin kami akan semakin tergerus. Memang kami melihat bahwa ada kebutuhan dari pemerintahan untuk memproteksi pengusaha bahan baku nasional, tetapi banyak kasus bahwa produksi bahan baku nasional tidak mencukupi untuk industri hilir,&quot; kata Kris.Selain itu, Kris menambahkan, ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang mulai diimplementasikan pada awal tahun lalu juga menekan daya saing industri cat nasional karena tidak bisa bersaing dengan China. &amp;ldquo;Karena bahan baku yang dipakai produsen nasional lebih mahal karena beban tarif bea masuk, sedangkan produk jadi impor tidak dikenakan tarif. Yang lebih berbahaya lagi adalah China sekarang menerapkan pajak ekspor di negaranya untuk beberapa bahan baku sehingga kami tidak bisa membeli bahan baku murah dari China walaupun di kitanya sudah tidak ada bea masuk,&amp;rdquo; tandas Kris.</description><content:encoded>JAKARTA - Konsumsi cat nasional diproyeksi akan mencapai 740.142 ton pada tahun ini, atau naik dari tahun lalu yang sebesar 688.863 ton dan 646.700 pada 2009.Menurut Ketua Divisi Wood Coating Asosiasi Cat Indonesia Kris Rianto Adidarma, tingkat konsumsi pada tahun ini masih akan didominasi oleh cat tembok cair (wall paint water) yang diproyeksi akan mencapai 509.377 ton. Sedangkan pada tahun lalu hanya sebesar 471.590 ton dan 444.477 pada 2009.Lebih lanjut Kris mengatakan, penjualan cat di pasar domestik pada tahun lalu adalah sebesar 690 juta kilogram (kg) atau setara dengan Rp20 triliun. &quot;Untuk porsi ekspor masih sangat kecil. Sedangakan porsi impor yakni kira-kira Rp1 triliun,&amp;rdquo; kata Kris di Jakarta, Minggu (30/1/2011).Menurut Kris, penjualan di pasar domestik yang terbesar adalah di pulau Jawa.&amp;nbsp; Sementara itu, Kris mengungkapkan, jumlah kapasitas produksi cat nasional pada 2010 adalah sekira 860 juta kg, dengan utilisasi kurang lebih dari 80 persen.Kris menuturkan, peningkatan konsumsi dan penjualan didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik dan juga investasi baru di industri cat. &quot;Investasi baru adalah yang masih berputar di pembesaran kapasitas oleh produsen-produsen cat lokal,&quot; ucap Kris.Di sisi lain, Kris mengatakan, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 241/2010 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk (BM) Atas Barang Impor, berdampak buruk terhadap margin dan produksi industri cat nasional, karena sebagian besar bahan baku cat masih diimpor.&amp;nbsp; &quot;Apabila pemerintah tidak mempunyai arahan yang jelas untuk produsen kimia terutama cat, maka margin kami akan semakin tergerus. Memang kami melihat bahwa ada kebutuhan dari pemerintahan untuk memproteksi pengusaha bahan baku nasional, tetapi banyak kasus bahwa produksi bahan baku nasional tidak mencukupi untuk industri hilir,&quot; kata Kris.Selain itu, Kris menambahkan, ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang mulai diimplementasikan pada awal tahun lalu juga menekan daya saing industri cat nasional karena tidak bisa bersaing dengan China. &amp;ldquo;Karena bahan baku yang dipakai produsen nasional lebih mahal karena beban tarif bea masuk, sedangkan produk jadi impor tidak dikenakan tarif. Yang lebih berbahaya lagi adalah China sekarang menerapkan pajak ekspor di negaranya untuk beberapa bahan baku sehingga kami tidak bisa membeli bahan baku murah dari China walaupun di kitanya sudah tidak ada bea masuk,&amp;rdquo; tandas Kris.</content:encoded></item></channel></rss>
