<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Michelin Targetkan Penjualan 700.000 Unit Ban</title><description>Produsen ban asal Perancis, Michelin menargetkan, mampu menjual 700.000  unit ban di Indonesia pada 2016. Hal itu menyusul dengan dliuncurkannya  cabang resmi kantor pemasaran di Indonesia yakni PT Michelin Indonesia  (Michelin).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/04/06/320/443282/michelin-targetkan-penjualan-700-000-unit-ban</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/04/06/320/443282/michelin-targetkan-penjualan-700-000-unit-ban"/><item><title>Michelin Targetkan Penjualan 700.000 Unit Ban</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/04/06/320/443282/michelin-targetkan-penjualan-700-000-unit-ban</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/04/06/320/443282/michelin-targetkan-penjualan-700-000-unit-ban</guid><pubDate>Rabu 06 April 2011 19:24 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/04/06/320/443282/fmGWKpV6kM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Grafik</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/04/06/320/443282/fmGWKpV6kM.jpg</image><title>Ilustrasi: Grafik</title></images><description>JAKARTA - Produsen ban asal Perancis, Michelin menargetkan, mampu menjual 700.000 unit ban di Indonesia pada 2016. Hal itu menyusul dengan dliuncurkannya cabang resmi kantor pemasaran di Indonesia yakni PT Michelin Indonesia (Michelin).Managing Partner Michelin Group Jean-Dominique Senard mengatakan, dari target tersebut, sekitar 500.000 unit, diantaranya merupakan ban untuk kendaraan berpenumpang (passenger car) dan truk ringan. Sedangkan, sekitar 200.000 unit ban untuk truk dan bis per tahun.&quot;Kami yakin akan mencapai target-target itu. Target kami akan naik bertahap sampai menyentuh angka itu pada 2016,&quot; kata Senard di Jakarta, Rabu (6/4/2011).Sementara itu, Country Director Michelin untuk Indonesia Jean Pierre Kopp menjelaskan, produk untuk kebutuhan pasar Indonesia, dipasok dari pabrikan yang berlokasi di Thailand. Pabrikan Thailand juga memasok kebutuhan untuk pasar di Asia Tenggara.Jean optimistis, potensi pasar di Indonesia bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Michelin. Hal itu seiring dengan pertumbuhan pasar kendaraan di Indonesia. Termasuk, upaya percepatan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Dia memproyeksi, populasi kendaraan dunia akan mencapai 1,6 miliar unit pada 2030, atau naik dari saat ini yang sebesar 800 juta unit.Seperti diketahui, pada tahun 2011, pasar kendaraan nasional diproyeksi mampu mencapai sekitar 800.000 unit dan tujuh juta unit motor. &quot;Dalam lima tahun mendatang, kami menargetkan menjadi pemain utama di pasar ban untuk truk dan kendaraan berpenumpang. Kekuatan merek Michelin menjadi keunggulan kami di Indonesia,&quot; kata Jean.Kedepan, kata dia, Michelin akan memfokuskan untuk mengembangkan ban radial untuk truk dan bus. &quot;Pada saat ini, 95 persen di Indonesia pakai ban bias,&quot;ucapnya.Terkait rencana investasi membangun manufaktur di Indonesia, Senard mengaku, pihaknya belum bisa memastikan hal itu. &quot;Terlalu dini untuk bilang. Saat ini, belum. Kami membutuhkan waktu untuk memahami kebutuhan pasar dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kalau memang sudah nyaman dan stabil, kami akan mulai memikirkan soal itu. Tapi untuk kedepannya, kenapa tidak?,&quot; tegas Senard.Terkait kebutuhan bahan baku, Senard menambahkan, sekitar 30 persen kebutuhan karet alam produksi Michelin di seluruh dunia dipasok dari dari Indonesia. Pada saat ini, Michelin telah hadir di 170 negara dan memiliki 111.000 tenaga kerja serta mengoperasikan 70 fasilitas produksi di 18 negara berbeda.Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) Azis. Pane mengatakan, pada 2010, pasar ban nasional yang dipasok dari lokal adalah sebanyak 10,5 juta unit. Sedangkan impor yakni 2-3 juta unit ban. &quot;Impor didominasi dari Jepang dan Korea,&quot;kata Azis.Pada 2011, Azis memproyeksi, pasokan ban dari lokal akan naik 10 persen menjadi 11 juta unit, sedangkan impor tiga juta unit. &quot;15-10 persen konsumsi lokal merupakan ban untuk truk dan bus,&quot;ucapnya.Untuk impor ban dari Thailand, menurut Azis, hal itu harus menjadi perhatian. &quot;Karena sudah berlaku Bea Masuk (BM) nol persen, impor dari sana bebas kesini, dan kita sulit masuk ke sana. Ini kekhawatiran kita. Bisa-bisa nanti, pabrikan membangun pabrik ban di Vietnam, lalu memasok ke Indonesia,&quot;jelas Azis.Azis menambahkan, kedepan, tren ban radial akan meningkat. Pada tahun 2008, porsi ban radial di pasar nasional masih 45 persen, sedangkan ban bias 55 persen. Pada 2010, porsi masing-masing sudah mencapai 50-50 persen.&quot;Setelah beroperasi Hankook asal Korea, itu akan memacu radialisasi ban di Indonesia. Ditambah dengan produk Michelin. Karena memang, ban radial itu lebih efisien 10 persen dan lebih kuat. Memang menggunakan teknologi tinggi. Hanya saja, tantangannya, jalan-jalan kita berlubang padahal ban radial bagus digunakan di jalan mulus,&quot;tandas Azis.</description><content:encoded>JAKARTA - Produsen ban asal Perancis, Michelin menargetkan, mampu menjual 700.000 unit ban di Indonesia pada 2016. Hal itu menyusul dengan dliuncurkannya cabang resmi kantor pemasaran di Indonesia yakni PT Michelin Indonesia (Michelin).Managing Partner Michelin Group Jean-Dominique Senard mengatakan, dari target tersebut, sekitar 500.000 unit, diantaranya merupakan ban untuk kendaraan berpenumpang (passenger car) dan truk ringan. Sedangkan, sekitar 200.000 unit ban untuk truk dan bis per tahun.&quot;Kami yakin akan mencapai target-target itu. Target kami akan naik bertahap sampai menyentuh angka itu pada 2016,&quot; kata Senard di Jakarta, Rabu (6/4/2011).Sementara itu, Country Director Michelin untuk Indonesia Jean Pierre Kopp menjelaskan, produk untuk kebutuhan pasar Indonesia, dipasok dari pabrikan yang berlokasi di Thailand. Pabrikan Thailand juga memasok kebutuhan untuk pasar di Asia Tenggara.Jean optimistis, potensi pasar di Indonesia bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Michelin. Hal itu seiring dengan pertumbuhan pasar kendaraan di Indonesia. Termasuk, upaya percepatan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Dia memproyeksi, populasi kendaraan dunia akan mencapai 1,6 miliar unit pada 2030, atau naik dari saat ini yang sebesar 800 juta unit.Seperti diketahui, pada tahun 2011, pasar kendaraan nasional diproyeksi mampu mencapai sekitar 800.000 unit dan tujuh juta unit motor. &quot;Dalam lima tahun mendatang, kami menargetkan menjadi pemain utama di pasar ban untuk truk dan kendaraan berpenumpang. Kekuatan merek Michelin menjadi keunggulan kami di Indonesia,&quot; kata Jean.Kedepan, kata dia, Michelin akan memfokuskan untuk mengembangkan ban radial untuk truk dan bus. &quot;Pada saat ini, 95 persen di Indonesia pakai ban bias,&quot;ucapnya.Terkait rencana investasi membangun manufaktur di Indonesia, Senard mengaku, pihaknya belum bisa memastikan hal itu. &quot;Terlalu dini untuk bilang. Saat ini, belum. Kami membutuhkan waktu untuk memahami kebutuhan pasar dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kalau memang sudah nyaman dan stabil, kami akan mulai memikirkan soal itu. Tapi untuk kedepannya, kenapa tidak?,&quot; tegas Senard.Terkait kebutuhan bahan baku, Senard menambahkan, sekitar 30 persen kebutuhan karet alam produksi Michelin di seluruh dunia dipasok dari dari Indonesia. Pada saat ini, Michelin telah hadir di 170 negara dan memiliki 111.000 tenaga kerja serta mengoperasikan 70 fasilitas produksi di 18 negara berbeda.Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) Azis. Pane mengatakan, pada 2010, pasar ban nasional yang dipasok dari lokal adalah sebanyak 10,5 juta unit. Sedangkan impor yakni 2-3 juta unit ban. &quot;Impor didominasi dari Jepang dan Korea,&quot;kata Azis.Pada 2011, Azis memproyeksi, pasokan ban dari lokal akan naik 10 persen menjadi 11 juta unit, sedangkan impor tiga juta unit. &quot;15-10 persen konsumsi lokal merupakan ban untuk truk dan bus,&quot;ucapnya.Untuk impor ban dari Thailand, menurut Azis, hal itu harus menjadi perhatian. &quot;Karena sudah berlaku Bea Masuk (BM) nol persen, impor dari sana bebas kesini, dan kita sulit masuk ke sana. Ini kekhawatiran kita. Bisa-bisa nanti, pabrikan membangun pabrik ban di Vietnam, lalu memasok ke Indonesia,&quot;jelas Azis.Azis menambahkan, kedepan, tren ban radial akan meningkat. Pada tahun 2008, porsi ban radial di pasar nasional masih 45 persen, sedangkan ban bias 55 persen. Pada 2010, porsi masing-masing sudah mencapai 50-50 persen.&quot;Setelah beroperasi Hankook asal Korea, itu akan memacu radialisasi ban di Indonesia. Ditambah dengan produk Michelin. Karena memang, ban radial itu lebih efisien 10 persen dan lebih kuat. Memang menggunakan teknologi tinggi. Hanya saja, tantangannya, jalan-jalan kita berlubang padahal ban radial bagus digunakan di jalan mulus,&quot;tandas Azis.</content:encoded></item></channel></rss>
