<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Triwulan I, Penjualan Ban Menurun</title><description>Penjualan ban selama triwulan I-2011 tercatat menurun. Tren itu terjadi setiap bulan dan stok masih menumpuk di gudang pedagang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/04/18/320/447353/triwulan-i-penjualan-ban-menurun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/04/18/320/447353/triwulan-i-penjualan-ban-menurun"/><item><title>Triwulan I, Penjualan Ban Menurun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/04/18/320/447353/triwulan-i-penjualan-ban-menurun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/04/18/320/447353/triwulan-i-penjualan-ban-menurun</guid><pubDate>Senin 18 April 2011 16:21 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/04/18/320/447353/BK8eLbkIJe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Foto: Corbis</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/04/18/320/447353/BK8eLbkIJe.jpg</image><title>Ilustrasi. Foto: Corbis</title></images><description>JAKARTA - Penjualan ban selama triwulan I-2011 tercatat menurun. Tren itu terjadi setiap bulan dan stok masih menumpuk di gudang pedagang.Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) mengatakan, selama Januari-Maret 2011, kinerja penjualan sangat berat. Menurut Azis, penjualan ke dealer (sale in) memang mengalami kenaikan. Tapi, dari distributor ke end user (sale out) pada tahun ini anjlok.&quot;Stok di gudang-gudang menumpuk. Itu akibat pemerintah terlalu menekan inflasi sehingga tidak ada gairah pasar. Pemerintah bangga dengan kondisi makroekonomi karena surplus anggaran. Tapi, pasar tidak bergerak,&amp;rdquo; kata Aziz di Jakarta, Senin (18/4/2011).Azis mengaku, penjualan ban untuk dealer dan ATPM tetap mengalami kenaikan seiring dengan pertumbuhan pasar kendaraan. APBI mencatat, penjualan ban selama Januari-Februari 2011 mencapai 8,66 juta unit atau naik dibandingkan periode sama di 2010 yang sebanyak 7,86 juta unit.Sementara itu, penjualan pada Februari 2011 turun menjadi 4,16 juta unit dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 4,49 juta unit. Ekspor ban selama Januari-Februari 2011 naik menjadi 6,02 juta dibandingkan periode sama 2010 yakni 5,67 juta.&amp;ldquo;Kondisi ini semakin diperparah oleh penguatan rupiah. Akibatnya, pasar dipenuhi oleh ban impor dari China dan India. Seharusnya, posisi rupiah yang ideal adalah Rp9.000 dan inflasi jangan terlalu ditekan. Kami sadar ada kebutuhan biaya anak sekolah. Tapi, kalau sale out tidak bergerak, pembayaran kepada distributor akan tertunggak. Akibatnya, pembayaran ke pabrik juga tertahan. Kalau dibiarkan, bisa-bisa pabrik tutup,&amp;rdquo; jelasnya. Selain itu, kenaikan harga bahan baku karet dan minyak bumi turut menghambat penjualan. Pasalnya, ujar dia, dengan kondisi pasar yang lesu, produsen tidak bisa menaikkan harga jual.&amp;rdquo;Tidak ada daya beli. Nanti, akan terlihat lesunya minat ke pihak leasing. Seharusnya, pemerintah jangan terlalu jaim. Coba lihat India. Inflasinya tidak terlalu ditekan, sehingga pasarnya bergairah,&amp;rdquo; tegas Azis.Masalah lain, ujar dia, adalah pemberlakuan kawasan pasar bebas Asean. Sehingga, kata dia, produsen ban global akan berinvestasi di Vietnam dan Thailand untuk memanfaatkan tarif nol persen di kawasan regional.&amp;ldquo;Sementara itu, kita juga kalah cepat menikmati ekspor. Pasca tsunami yang menghantam Jepang, seharusnya kita bisa memanfaatkan pasar mereka selama ini. Tapi, karena langkah aksi atase perdagangan India lebih cepat, akhirnya mereka mendahului kita menimati potensi yang ada,&amp;rdquo; tutur Azis.</description><content:encoded>JAKARTA - Penjualan ban selama triwulan I-2011 tercatat menurun. Tren itu terjadi setiap bulan dan stok masih menumpuk di gudang pedagang.Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) mengatakan, selama Januari-Maret 2011, kinerja penjualan sangat berat. Menurut Azis, penjualan ke dealer (sale in) memang mengalami kenaikan. Tapi, dari distributor ke end user (sale out) pada tahun ini anjlok.&quot;Stok di gudang-gudang menumpuk. Itu akibat pemerintah terlalu menekan inflasi sehingga tidak ada gairah pasar. Pemerintah bangga dengan kondisi makroekonomi karena surplus anggaran. Tapi, pasar tidak bergerak,&amp;rdquo; kata Aziz di Jakarta, Senin (18/4/2011).Azis mengaku, penjualan ban untuk dealer dan ATPM tetap mengalami kenaikan seiring dengan pertumbuhan pasar kendaraan. APBI mencatat, penjualan ban selama Januari-Februari 2011 mencapai 8,66 juta unit atau naik dibandingkan periode sama di 2010 yang sebanyak 7,86 juta unit.Sementara itu, penjualan pada Februari 2011 turun menjadi 4,16 juta unit dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 4,49 juta unit. Ekspor ban selama Januari-Februari 2011 naik menjadi 6,02 juta dibandingkan periode sama 2010 yakni 5,67 juta.&amp;ldquo;Kondisi ini semakin diperparah oleh penguatan rupiah. Akibatnya, pasar dipenuhi oleh ban impor dari China dan India. Seharusnya, posisi rupiah yang ideal adalah Rp9.000 dan inflasi jangan terlalu ditekan. Kami sadar ada kebutuhan biaya anak sekolah. Tapi, kalau sale out tidak bergerak, pembayaran kepada distributor akan tertunggak. Akibatnya, pembayaran ke pabrik juga tertahan. Kalau dibiarkan, bisa-bisa pabrik tutup,&amp;rdquo; jelasnya. Selain itu, kenaikan harga bahan baku karet dan minyak bumi turut menghambat penjualan. Pasalnya, ujar dia, dengan kondisi pasar yang lesu, produsen tidak bisa menaikkan harga jual.&amp;rdquo;Tidak ada daya beli. Nanti, akan terlihat lesunya minat ke pihak leasing. Seharusnya, pemerintah jangan terlalu jaim. Coba lihat India. Inflasinya tidak terlalu ditekan, sehingga pasarnya bergairah,&amp;rdquo; tegas Azis.Masalah lain, ujar dia, adalah pemberlakuan kawasan pasar bebas Asean. Sehingga, kata dia, produsen ban global akan berinvestasi di Vietnam dan Thailand untuk memanfaatkan tarif nol persen di kawasan regional.&amp;ldquo;Sementara itu, kita juga kalah cepat menikmati ekspor. Pasca tsunami yang menghantam Jepang, seharusnya kita bisa memanfaatkan pasar mereka selama ini. Tapi, karena langkah aksi atase perdagangan India lebih cepat, akhirnya mereka mendahului kita menimati potensi yang ada,&amp;rdquo; tutur Azis.</content:encoded></item></channel></rss>
