<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Simpan Cadangan Devisa Dalam Bentuk USD</title><description>Pemerintah Indonesia diminta untuk tidak menyimpan cadangan devisanya  dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS) dan berganti ke mata uang lain  yang lebih stabil seperti Euro atau emas. Pasalnya, pascapenurunan bunga  kredit AS menjadi &quot;AA+&quot; Indonesia akan merugi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/08/07/20/489048/jangan-simpan-cadangan-devisa-dalam-bentuk-usd</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/08/07/20/489048/jangan-simpan-cadangan-devisa-dalam-bentuk-usd"/><item><title>Jangan Simpan Cadangan Devisa Dalam Bentuk USD</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/08/07/20/489048/jangan-simpan-cadangan-devisa-dalam-bentuk-usd</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/08/07/20/489048/jangan-simpan-cadangan-devisa-dalam-bentuk-usd</guid><pubDate>Minggu 07 Agustus 2011 12:12 WIB</pubDate><dc:creator>Gina Nur Maftuhah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/08/07/20/489048/NP6f9KpWCc.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Foto: okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/08/07/20/489048/NP6f9KpWCc.JPG</image><title>Ilustrasi. Foto: okezone</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah Indonesia diminta untuk tidak menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS) dan berganti ke mata uang lain yang lebih stabil seperti Euro atau emas. Pasalnya, pascapenurunan bunga kredit AS menjadi &quot;AA+&quot; Indonesia akan merugi.&quot;AS menjalankan perekonomian negaranya dengan banyak menerbitkan surat utang. Surat-surat utang inilah yang pada masa lalu sering dibeli oleh negara-negara lain juga bank-bank sentral. Salah satunya Indonesia yang menggunakan cadangan devisanya untuk membeli tress ribbon AS,&quot; ungkap Pengamat Ekonomi Farial Anwar, ketika berbincang dengan okezone, Minggu (7/8/2011).Ia melanjutkan, pasca kemelut keuangan yang dialami AS dan yang terbaru adalah diturunkannya peringkat utang AS oleh Standars and Poors (S&amp;amp;P) dari &quot;AAA&quot; menjadi &quot;AA+&quot;, memegang surat utang AS bukanlah suatu langkah yang bijak karena dua hal, suku bunga yang kecil dan terus menurunnya nilai tukar dolar (AS) terhadap hampir semua mata uang di dunia.&quot;Negara-negara lain yang lebih pintar seperti China sudah mulai mengurangi dan sekarang memegang sedikit sekali surat utang AS. Mereka memang melihat bahwa tak ada gunanya lagi memegang nya karena bunganya hanya 0,25 persen, belum lagi nilai tukar dolar (AS) yang terus menurun khusunya terhadap Euro. Banyak negara yang akhirnya menyimpan devisa mereka dalam Euro dan yang paling aman emas, kita belum,&quot; lanjut dia.Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta pelaku ekonomi dan pelaku pasar dalam negeri tidak panik menanggapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kondisi ekonomi di Amerika Serikat yang dikhawatirkan berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia.Ia meyakini kondisi ekonomi nasional masih cukup kuat. Meskipun saat ini lembaga pemeringkat internasional S&amp;amp;P menurunkan rating AS, kondisi tersebut diyakini tidak akan terlalu berpengaruh signifikan terhadap ekonomi dalam negeri.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah Indonesia diminta untuk tidak menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS) dan berganti ke mata uang lain yang lebih stabil seperti Euro atau emas. Pasalnya, pascapenurunan bunga kredit AS menjadi &quot;AA+&quot; Indonesia akan merugi.&quot;AS menjalankan perekonomian negaranya dengan banyak menerbitkan surat utang. Surat-surat utang inilah yang pada masa lalu sering dibeli oleh negara-negara lain juga bank-bank sentral. Salah satunya Indonesia yang menggunakan cadangan devisanya untuk membeli tress ribbon AS,&quot; ungkap Pengamat Ekonomi Farial Anwar, ketika berbincang dengan okezone, Minggu (7/8/2011).Ia melanjutkan, pasca kemelut keuangan yang dialami AS dan yang terbaru adalah diturunkannya peringkat utang AS oleh Standars and Poors (S&amp;amp;P) dari &quot;AAA&quot; menjadi &quot;AA+&quot;, memegang surat utang AS bukanlah suatu langkah yang bijak karena dua hal, suku bunga yang kecil dan terus menurunnya nilai tukar dolar (AS) terhadap hampir semua mata uang di dunia.&quot;Negara-negara lain yang lebih pintar seperti China sudah mulai mengurangi dan sekarang memegang sedikit sekali surat utang AS. Mereka memang melihat bahwa tak ada gunanya lagi memegang nya karena bunganya hanya 0,25 persen, belum lagi nilai tukar dolar (AS) yang terus menurun khusunya terhadap Euro. Banyak negara yang akhirnya menyimpan devisa mereka dalam Euro dan yang paling aman emas, kita belum,&quot; lanjut dia.Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa meminta pelaku ekonomi dan pelaku pasar dalam negeri tidak panik menanggapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kondisi ekonomi di Amerika Serikat yang dikhawatirkan berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia.Ia meyakini kondisi ekonomi nasional masih cukup kuat. Meskipun saat ini lembaga pemeringkat internasional S&amp;amp;P menurunkan rating AS, kondisi tersebut diyakini tidak akan terlalu berpengaruh signifikan terhadap ekonomi dalam negeri.</content:encoded></item></channel></rss>
