<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bisnis Bunga Masih Merekah</title><description>Tidak semua orang berani memutuskan keluar dari pekerjaan yang mapan dan   mendapatkan penghasilan tetap. Namun, itulah yang dilakukan Rosita   Suwardi Wibawa yang kini terbukti tidak keliru membuat keputusan untuk   terjun menjadi wirausahawan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/09/18/455/505497/bisnis-bunga-masih-merekah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/09/18/455/505497/bisnis-bunga-masih-merekah"/><item><title>Bisnis Bunga Masih Merekah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/09/18/455/505497/bisnis-bunga-masih-merekah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/09/18/455/505497/bisnis-bunga-masih-merekah</guid><pubDate>Minggu 18 September 2011 09:49 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SI</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/09/21/455/505497/oCWJUbdhKz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Foto: Corbis</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/09/21/455/505497/oCWJUbdhKz.jpg</image><title>Ilustrasi. Foto: Corbis</title></images><description>TIDAK semua orang berani memutuskan keluar dari pekerjaan yang mapan dan  mendapatkan penghasilan tetap. Namun, itulah yang dilakukan Rosita  Suwardi Wibawa yang kini terbukti tidak keliru membuat keputusan untuk  terjun menjadi wirausahawan. Meski dianggap kurang populer,  Rosita memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan BUMN  yang didambakannya sekian lama. Ibu tiga orang anak ini pun terbilang  berani untuk mencoba menjadi florist, mendirikan usaha karangan bunga  yang terbilang sudah banyak pemainnya. Akan tetapi, satu hal  yang membuatnya percaya diri adalah sistem yang dipakai dalam  menjalankan bisnis bunga. Dia menggunakan konsep business opportunity berupa franchise yang dianggapnya terbilang baru di Indonesia. Selain  menjual rangkaian bunga untuk kalangan korporasi ataupun individu,  Rosita memperkaya bisnisnya dengan beragam kegiatan formal ataupun  nonformal yang tentu saja berkaitan dengan tanaman dan bunga-bungaan. Dengan  ini, jaringan bisnis rangkaian bunga Rosita semakin berkembang. Rosita  mulai mendirikan usaha karangan bunga yang dinamakan &quot;Tar A Porter&quot; di  daerah Tangerang pada awal 2010 lalu. Setahun kemudian, tepatnya  Februari 2011, dia menawarkan kemitraan usaha ini untuk mengembangkan  jaringan di seluruh Indonesia. Pada tahun pertamanya dia sudah memiliki standard operating procedure (SOP) tersendiri berdasarkan pengalaman usaha di bidang penyewaan  tanaman hias dan karangan bunga segar di kurun waktu 2003-2005. Di tahun  keduanya, perempuan yang juga bergelar magister kenotariatan itu  menduplikasikan usaha melalui business opportunity. Saat  ini sudah ada empat mitra cabang yang dibukanya. Di tahun kedua ini pula  dia mengembangkan cara pengolahan limbah berdasarkan hasil riset  sederhananya. Tujuannya, Tar A Porter harus membuat limbah bunga menjadi  bernilai ekonomis seperti potpourri atau bunga kering yang dijadikan  bahan aroma terapi. Ketertarikannya terhadap usaha bunga dimulai Rosita  2003 silam.Saat itu alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah  Mada (UGM) ini merintis usaha sendiri berbendera &amp;ldquo;Rumah Daun&amp;rdquo; dengan  bisnis utama penyewaan bunga. Bermodalkan Rp250 ribu, dia mendapatkan  order pertama dengan menyewakan tanaman hias. Dari sana order bunga  hiasnya terus berkembang dan mendapatkan klien perusahaan-perusahaan  besar seperti Mitsubishi, Medco Energi, Bank Niaga,Auto Mall, Plaza,  hingga pusat perbelanjaan seperti Plasa Semanggi. Namun, setelah  usahanya berjalan selama dua tahun, tiba-tiba kesabarannya teruji.  Suaminya, Wibawa Prasetyawan, harus melanjutkan studi ke Inggris. Karena  waktu persiapan hanya sedikit dan belum mempersiapkan manajemen untuk  meninggalkan usahanya, Rosita merelakan menjual usaha beserta asetnya.&amp;ldquo;  Rasanya seperti menjual bayi sendiri,&amp;rdquo; ujarnya.Rosita dan  keluarga hidup di Inggris selama kurang lebih dua tahun.Di Negeri Ratu  Elizabeth itu dia bekerja bergantian dengan suaminya karena harus  menjaga anak-anak.Di samping bekerja, Rosita beruntung bisa mengambil  kursus singkat di salah satu sekolah fashion terbaik di London, yaitu  Central Saint Martin College, tempat desainer Alexander Mc Quinn dan  Stella Mc Cartney belajar mode. Hasil studinya di London  diakuinya sangat berperan dalam mengenali taste dan kualitas desain  dalam setiap rangkaian bunganya. Tak heran jika setiap rangkaian  bunganya memiliki gaya dan model menarik konsumen. Sepulangnya dari  Inggris, Rosita mendampingi suami keliling tugas di luar Jakarta. Selama  itu pula dia akhirnya merapat kepada teman-temannya yang menjadi  pengusaha sekaligus mengambil Magister Kenotariatan di Universitas  Airlangga. Barulah setelah suami kembali dinas di Jakarta, dia merintis  kembali usaha dengan bendera Tar A Porter. Dua hari setelah membangun  Tar A Porter Flower pada akhir Februari 2010, order datang bertubi- tubi  dari klien-klien lamanya ketika masih mengelola Rumah Daun. Berbekal  pengalaman sebelumnya, pada tahun pertama Tar A Porter membuat SOP yang  mendasari profesionalitas kerja karyawannya. Adapun, sistem business opportunity yang dikembangkannya memungkinkan mitra kerjanya menduplikasikan usaha  dengan tujuan menjamin kualitas mutu dan desain produk bunga dari Tar A  Porter. Saat ini Tar A Porter Flower mempunyai empat cabang  yakni di Alam Sutera (www.- taraporter.com/alamsutera), BSD  (www.taraporter.com/bsd), BSD The Green (www.taraporter.com/bsd-thegreen) dan Jakarta Pusat. Ke depan, impiannya ingin  memberikan servis dan kualitas terbaik di bidang bunga dan variannya. Adapun,  pengembangan potpourri diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada  produk impor dari Jepang, India, China dan Thailand. &amp;ldquo;Dengan mengolah  potpourri sendiri, Tar A Porter berharap dapat memberikan sumbangsih  untuk Indonesia,&amp;rdquo; tukasnya. (Nanang Wijayanto/Koran SI/nia) </description><content:encoded>TIDAK semua orang berani memutuskan keluar dari pekerjaan yang mapan dan  mendapatkan penghasilan tetap. Namun, itulah yang dilakukan Rosita  Suwardi Wibawa yang kini terbukti tidak keliru membuat keputusan untuk  terjun menjadi wirausahawan. Meski dianggap kurang populer,  Rosita memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan BUMN  yang didambakannya sekian lama. Ibu tiga orang anak ini pun terbilang  berani untuk mencoba menjadi florist, mendirikan usaha karangan bunga  yang terbilang sudah banyak pemainnya. Akan tetapi, satu hal  yang membuatnya percaya diri adalah sistem yang dipakai dalam  menjalankan bisnis bunga. Dia menggunakan konsep business opportunity berupa franchise yang dianggapnya terbilang baru di Indonesia. Selain  menjual rangkaian bunga untuk kalangan korporasi ataupun individu,  Rosita memperkaya bisnisnya dengan beragam kegiatan formal ataupun  nonformal yang tentu saja berkaitan dengan tanaman dan bunga-bungaan. Dengan  ini, jaringan bisnis rangkaian bunga Rosita semakin berkembang. Rosita  mulai mendirikan usaha karangan bunga yang dinamakan &quot;Tar A Porter&quot; di  daerah Tangerang pada awal 2010 lalu. Setahun kemudian, tepatnya  Februari 2011, dia menawarkan kemitraan usaha ini untuk mengembangkan  jaringan di seluruh Indonesia. Pada tahun pertamanya dia sudah memiliki standard operating procedure (SOP) tersendiri berdasarkan pengalaman usaha di bidang penyewaan  tanaman hias dan karangan bunga segar di kurun waktu 2003-2005. Di tahun  keduanya, perempuan yang juga bergelar magister kenotariatan itu  menduplikasikan usaha melalui business opportunity. Saat  ini sudah ada empat mitra cabang yang dibukanya. Di tahun kedua ini pula  dia mengembangkan cara pengolahan limbah berdasarkan hasil riset  sederhananya. Tujuannya, Tar A Porter harus membuat limbah bunga menjadi  bernilai ekonomis seperti potpourri atau bunga kering yang dijadikan  bahan aroma terapi. Ketertarikannya terhadap usaha bunga dimulai Rosita  2003 silam.Saat itu alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah  Mada (UGM) ini merintis usaha sendiri berbendera &amp;ldquo;Rumah Daun&amp;rdquo; dengan  bisnis utama penyewaan bunga. Bermodalkan Rp250 ribu, dia mendapatkan  order pertama dengan menyewakan tanaman hias. Dari sana order bunga  hiasnya terus berkembang dan mendapatkan klien perusahaan-perusahaan  besar seperti Mitsubishi, Medco Energi, Bank Niaga,Auto Mall, Plaza,  hingga pusat perbelanjaan seperti Plasa Semanggi. Namun, setelah  usahanya berjalan selama dua tahun, tiba-tiba kesabarannya teruji.  Suaminya, Wibawa Prasetyawan, harus melanjutkan studi ke Inggris. Karena  waktu persiapan hanya sedikit dan belum mempersiapkan manajemen untuk  meninggalkan usahanya, Rosita merelakan menjual usaha beserta asetnya.&amp;ldquo;  Rasanya seperti menjual bayi sendiri,&amp;rdquo; ujarnya.Rosita dan  keluarga hidup di Inggris selama kurang lebih dua tahun.Di Negeri Ratu  Elizabeth itu dia bekerja bergantian dengan suaminya karena harus  menjaga anak-anak.Di samping bekerja, Rosita beruntung bisa mengambil  kursus singkat di salah satu sekolah fashion terbaik di London, yaitu  Central Saint Martin College, tempat desainer Alexander Mc Quinn dan  Stella Mc Cartney belajar mode. Hasil studinya di London  diakuinya sangat berperan dalam mengenali taste dan kualitas desain  dalam setiap rangkaian bunganya. Tak heran jika setiap rangkaian  bunganya memiliki gaya dan model menarik konsumen. Sepulangnya dari  Inggris, Rosita mendampingi suami keliling tugas di luar Jakarta. Selama  itu pula dia akhirnya merapat kepada teman-temannya yang menjadi  pengusaha sekaligus mengambil Magister Kenotariatan di Universitas  Airlangga. Barulah setelah suami kembali dinas di Jakarta, dia merintis  kembali usaha dengan bendera Tar A Porter. Dua hari setelah membangun  Tar A Porter Flower pada akhir Februari 2010, order datang bertubi- tubi  dari klien-klien lamanya ketika masih mengelola Rumah Daun. Berbekal  pengalaman sebelumnya, pada tahun pertama Tar A Porter membuat SOP yang  mendasari profesionalitas kerja karyawannya. Adapun, sistem business opportunity yang dikembangkannya memungkinkan mitra kerjanya menduplikasikan usaha  dengan tujuan menjamin kualitas mutu dan desain produk bunga dari Tar A  Porter. Saat ini Tar A Porter Flower mempunyai empat cabang  yakni di Alam Sutera (www.- taraporter.com/alamsutera), BSD  (www.taraporter.com/bsd), BSD The Green (www.taraporter.com/bsd-thegreen) dan Jakarta Pusat. Ke depan, impiannya ingin  memberikan servis dan kualitas terbaik di bidang bunga dan variannya. Adapun,  pengembangan potpourri diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada  produk impor dari Jepang, India, China dan Thailand. &amp;ldquo;Dengan mengolah  potpourri sendiri, Tar A Porter berharap dapat memberikan sumbangsih  untuk Indonesia,&amp;rdquo; tukasnya. (Nanang Wijayanto/Koran SI/nia) </content:encoded></item></channel></rss>
