<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Gambaran Nilai</title><description>Mengapa tidak murah tapi tetap laku? Mungkinkah pakai pelet atau  jampi-jampi? Bagi saya, kalaupun warung tadi benar menggunakan &quot;pelet&quot;,  maka saya yakin yang dimaksudkan adalah menggunakan &quot;pelet marketing&quot;,  dan bukan jampi-jampi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/09/27/219/507785/harga-gambaran-nilai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/09/27/219/507785/harga-gambaran-nilai"/><item><title>Harga Gambaran Nilai</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/09/27/219/507785/harga-gambaran-nilai</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/09/27/219/507785/harga-gambaran-nilai</guid><pubDate>Selasa 27 September 2011 19:05 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/09/27/219/507785/gukeJ0P3l1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto. Dok Pribadi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/09/27/219/507785/gukeJ0P3l1.jpg</image><title>Foto. Dok Pribadi</title></images><description>DISKON, turun harga dan produk berharga sangat murah sedang mewabah di mana-mana. Konsumen sedang dimanjakan oleh pebisnis yang lagi hobi mengobral produk berharga murah. Namun dalam kondisi seperti ini, jika diperhatikan dengan seksama, ternyata barang dan jasa yang dijual dengan harga tidak murah tetap saja mempunyai pasarnya tersendiri.Warung lele langganan saya di Jombang menjual sepiring pecel lele dengan harga hampir dua kali lipat tetangganya. Hebatnya, meskipun harga pecel lele di sana lebih mahal, tetap saja warung lele tadi paling laku diantara puluhan warung sejenis yang berderet-deret di daerah tersebut.Mengapa tidak murah tapi tetap laku? Mungkinkah pakai pelet atau jampi-jampi? Bagi saya, kalaupun warung tadi benar menggunakan &quot;pelet&quot;, maka saya yakin yang dimaksudkan adalah menggunakan &quot;pelet marketing&quot;, dan bukan jampi-jampi.Pada contoh warung pecel lele di atas, harga penting, tetapi bukan merupakan satu-satunya alasan kesuksesan. Konsumen bukan membeli harga, tetapi membeli nilai yang ditawarkan oleh produk.Produk yang dijual pada tingkat harga semurah apapun, kalau tidak dapat memberikan manfaat bagi konsumen. atau jika konsumen merasa tidak mendapatkan manfaat dari produk tersebut, maka tentu saja produk tersebut tetap saja tidak laku. Begitu juga sebaliknya, bila harga jual dinaikkan dan konsumen merasa mendapat nilai yang memadai, maka konsumen tetap rajin membeli.Tentu saja &quot;angka keramat&quot; psikologis tertentu yang menjadi batas maksimal kenaikan harga. Bila harga dinaikkan melebihi &quot;angka keramat&quot; tadi maka konsumen jadi akan mencari produk lain. (wdi)DR Handito JoewonoChief Strategy Consultant Arrbeywww.arrbey.com </description><content:encoded>DISKON, turun harga dan produk berharga sangat murah sedang mewabah di mana-mana. Konsumen sedang dimanjakan oleh pebisnis yang lagi hobi mengobral produk berharga murah. Namun dalam kondisi seperti ini, jika diperhatikan dengan seksama, ternyata barang dan jasa yang dijual dengan harga tidak murah tetap saja mempunyai pasarnya tersendiri.Warung lele langganan saya di Jombang menjual sepiring pecel lele dengan harga hampir dua kali lipat tetangganya. Hebatnya, meskipun harga pecel lele di sana lebih mahal, tetap saja warung lele tadi paling laku diantara puluhan warung sejenis yang berderet-deret di daerah tersebut.Mengapa tidak murah tapi tetap laku? Mungkinkah pakai pelet atau jampi-jampi? Bagi saya, kalaupun warung tadi benar menggunakan &quot;pelet&quot;, maka saya yakin yang dimaksudkan adalah menggunakan &quot;pelet marketing&quot;, dan bukan jampi-jampi.Pada contoh warung pecel lele di atas, harga penting, tetapi bukan merupakan satu-satunya alasan kesuksesan. Konsumen bukan membeli harga, tetapi membeli nilai yang ditawarkan oleh produk.Produk yang dijual pada tingkat harga semurah apapun, kalau tidak dapat memberikan manfaat bagi konsumen. atau jika konsumen merasa tidak mendapatkan manfaat dari produk tersebut, maka tentu saja produk tersebut tetap saja tidak laku. Begitu juga sebaliknya, bila harga jual dinaikkan dan konsumen merasa mendapat nilai yang memadai, maka konsumen tetap rajin membeli.Tentu saja &quot;angka keramat&quot; psikologis tertentu yang menjadi batas maksimal kenaikan harga. Bila harga dinaikkan melebihi &quot;angka keramat&quot; tadi maka konsumen jadi akan mencari produk lain. (wdi)DR Handito JoewonoChief Strategy Consultant Arrbeywww.arrbey.com </content:encoded></item></channel></rss>
