<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kebutuhan Bahan Peledak 800 Ribu Ton</title><description>Kebutuhan bahan peledak berkekuatan rendah yakni amonium  nitrat nasional diproyeksikan akan mencapai 800 ribu ton dalam lima  tahun mendatang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/10/03/320/510274/kebutuhan-bahan-peledak-800-ribu-ton</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/10/03/320/510274/kebutuhan-bahan-peledak-800-ribu-ton"/><item><title>Kebutuhan Bahan Peledak 800 Ribu Ton</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/10/03/320/510274/kebutuhan-bahan-peledak-800-ribu-ton</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/10/03/320/510274/kebutuhan-bahan-peledak-800-ribu-ton</guid><pubDate>Senin 03 Oktober 2011 18:56 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/10/03/320/510274/QuJBPcXxfB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">image: corbis.com</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/10/03/320/510274/QuJBPcXxfB.jpg</image><title>image: corbis.com</title></images><description>KARAWANG - Kebutuhan bahan peledak berkekuatan rendah yakni amonium  nitrat nasional diproyeksikan akan mencapai 800 ribu ton dalam lima  tahun mendatang.  Untuk tahun depan, kebutuhan juga diproyeksikan akan menjadi 550 ribu  ton. Jumlah itu meningkat dari kebutuhan pada tahun ini yang sekira 500  ribu ton. Hal itu seiring dengan pertumbuhan proyek infrastruktur dan  pertambangan.  Setiap tahun, Indonesia mengimpor amonium nitrat sebanyak 400 ribu ton  atau senilai USD240 juta dari beberapa negara seperti Australia dan  Afrika. Untuk harga amonium nitrat saat ini adalah sekira USD700 per  ton.  Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pembangunan industri  nasional yang berbasis bahan galian logam dan non logam terus bertumbuh  secara signifikan, seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur  mmaupun sektor properti.  Berkembangnya berbagai kegiatan fisik tersebut, kata dia, mendorong  bertumbuhnya sektor industri pendukung seperti semen yang membutuhkan  penyediaan bahan baku seperti batu kapur dan batu bara maupun bahan  galian lainnya yang diperoleh melalui proses peledakan.  &quot;Dalam lima tahun mendatang, kebutuhan terhadap amonium nitrat  diproyeksikan mencapai 800 ribu ton seiring dengan meningkatnya kegiatan  pembangunan infrastruktur dan ini perlu diantisipasi melalui upaya  peningkatan pasokan bahan peledak tersebut dari dalam negeri,&amp;rdquo; kata  Hidayat di sela-sela acara peresmian pabrik PT Multi Nitrotama Kimia  (MNK) kedua di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Senin (3/10/2011).  Menurutnya, beroperasinya perluasan pabrik PT MNK kedua yang senilai  USD69 juta itu memberikan dampak penting terhadap pembangunan industri  maupun perekonomian nasional dalam hal penghematan devisa maupun  penyerapan tenaga kerja, dan yang terutama adalah penguatan struktur  industri. Hidayat berharap, investasi bahan peledak bisa terus meningkat  guna mengurangi ketergantungan impor.  &quot;Perluasan pabrik amonium nitrat ini merupakan langkah konkret dalam  upaya meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan industri bahan peledak  terutama yang berbasis low explosive yang terus meningkat dan selama ini  sebagian besar masih diimpor,&amp;rdquo; jelasnya.  PT MNK telah membangun pabrik kedua sejak Oktober 2009 dengan kapasitas  100 ribu ton per tahun, atau naik dari sebelumnya yang sebesar 38 ribu  ton per tahun. (rfa)</description><content:encoded>KARAWANG - Kebutuhan bahan peledak berkekuatan rendah yakni amonium  nitrat nasional diproyeksikan akan mencapai 800 ribu ton dalam lima  tahun mendatang.  Untuk tahun depan, kebutuhan juga diproyeksikan akan menjadi 550 ribu  ton. Jumlah itu meningkat dari kebutuhan pada tahun ini yang sekira 500  ribu ton. Hal itu seiring dengan pertumbuhan proyek infrastruktur dan  pertambangan.  Setiap tahun, Indonesia mengimpor amonium nitrat sebanyak 400 ribu ton  atau senilai USD240 juta dari beberapa negara seperti Australia dan  Afrika. Untuk harga amonium nitrat saat ini adalah sekira USD700 per  ton.  Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pembangunan industri  nasional yang berbasis bahan galian logam dan non logam terus bertumbuh  secara signifikan, seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur  mmaupun sektor properti.  Berkembangnya berbagai kegiatan fisik tersebut, kata dia, mendorong  bertumbuhnya sektor industri pendukung seperti semen yang membutuhkan  penyediaan bahan baku seperti batu kapur dan batu bara maupun bahan  galian lainnya yang diperoleh melalui proses peledakan.  &quot;Dalam lima tahun mendatang, kebutuhan terhadap amonium nitrat  diproyeksikan mencapai 800 ribu ton seiring dengan meningkatnya kegiatan  pembangunan infrastruktur dan ini perlu diantisipasi melalui upaya  peningkatan pasokan bahan peledak tersebut dari dalam negeri,&amp;rdquo; kata  Hidayat di sela-sela acara peresmian pabrik PT Multi Nitrotama Kimia  (MNK) kedua di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Senin (3/10/2011).  Menurutnya, beroperasinya perluasan pabrik PT MNK kedua yang senilai  USD69 juta itu memberikan dampak penting terhadap pembangunan industri  maupun perekonomian nasional dalam hal penghematan devisa maupun  penyerapan tenaga kerja, dan yang terutama adalah penguatan struktur  industri. Hidayat berharap, investasi bahan peledak bisa terus meningkat  guna mengurangi ketergantungan impor.  &quot;Perluasan pabrik amonium nitrat ini merupakan langkah konkret dalam  upaya meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan industri bahan peledak  terutama yang berbasis low explosive yang terus meningkat dan selama ini  sebagian besar masih diimpor,&amp;rdquo; jelasnya.  PT MNK telah membangun pabrik kedua sejak Oktober 2009 dengan kapasitas  100 ribu ton per tahun, atau naik dari sebelumnya yang sebesar 38 ribu  ton per tahun. (rfa)</content:encoded></item></channel></rss>
