<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produksi Kopi Spesialti Indonesia Capai 15%</title><description> Produksi kopi spesialti Indonesia pada saat ini diperkirakan  telah mencapai 15 persen dari total produksi kopi yang diperkirakan  sebesar 690 ribu-700 ribu ton pada 2011.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2011/11/16/320/530292/produksi-kopi-spesialti-indonesia-capai-15</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2011/11/16/320/530292/produksi-kopi-spesialti-indonesia-capai-15"/><item><title>Produksi Kopi Spesialti Indonesia Capai 15%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2011/11/16/320/530292/produksi-kopi-spesialti-indonesia-capai-15</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2011/11/16/320/530292/produksi-kopi-spesialti-indonesia-capai-15</guid><pubDate>Rabu 16 November 2011 17:02 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/11/16/320/530292/YXUeQXhlbC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/11/16/320/530292/YXUeQXhlbC.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Produksi kopi spesialti Indonesia pada saat ini diperkirakan telah mencapai 15 persen dari total produksi kopi yang diperkirakan sebesar 690 ribu-700 ribu ton pada 2011. Awalnya, produksi kopi spesialti diperkirakan sebesar lima persen.Wakil Ketua Umum bidang Spesialti dan Industri Kopi Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan, sekira satu persen dari produksi kopi spesialti dikonsumsi di dalam negeri.&quot;Sisanya, kita ekspor. Nilainya lebih tinggi. Bahkan, sekarang bisa berkisar USD3-USD8 per kg. Dulu, kita belum tahu soal kopi spesialti ini. Ternyata, Indonesia memilikinya dan bernilai tinggi,&amp;rdquo; kata Pranoto di Jakarta, Rabu (16/11/2011).Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wachyudi mengatakan, pihaknya tengah mengkaji berbagai upaya-upaya untuk mendorong produksi kopi spesialti Indonesia.&quot;Kita sedang kaji, karena memang nilai tambahnya di situ tinggi. Apakah, akan memacu produksi olahan atau kopi spesialti ini. Apakah menerapkan disinsentif bea keluar untuk itu atau tidak,&amp;rdquo; kata Benny. Menurutnya, pengembangan kopi spesialti dengan indikasi geografis dan diversifikasi kopi olahan sangat penting dilakukan. Kopi, kata dia, merupakan komoditas unggulan Indonesia dengan daya saing tinggi di pasar internasional. &quot;Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas lahan,&amp;rdquo; ucapnya.Hal senada diungkapkan oleh Pranoto. &amp;ldquo;Kita mau minta tolong Brasil supaya produktivitas lahan dan kopi kita bisa meningkat,&amp;rdquo; kata Pranoto.Lebih lanjut Benny mengatakan, Indonesia memiliki sejumlah kopi spesialti seperti Gayo, Mandailing, Lampung, Java, Kintamani, Toraja, dan Luwak. Masing- masing kopi itu memiliki cita rasa dan aroma yang khas.Pada 2010, Indonesia merupakan penghasil kopi nomor tiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam, dengan produksi sebesar 690 ribu ton per tahun atau enam persen dari produksi kopi dunia sebesar 7,18 juta ton per tahun.Dari total produksi itu, mayoritas kopi yang dihasilkan adalah jenis robusta dengan produksi sebesar 540 ribu ton atau 78 persen. Sedangkan sisanya adalah kopi jenis arabika sebesar 150 ribu ton atau 22 persen. Bahan baku kopi lokal rata-rata diekpor sebesar 68 persen dalam bentuk biji atau 470 ribu ton dan sisanya yang sebesar 220 ribu ton diolah di dalam negeri.Sementara, selama 2007 hingga 2010, industri pengolahan kopi nasional mengalami perkembangan signifikan. Saat ini jumlah perusahaan yang bergerak di industri pengolahan kopi olahan mengalami peningkatan dari 77 menjadi 81 perusahaan. Jumlah itu belum termasuk industri kecil dan rumah tangga.Rata-rata kenaikan produksi kopi olahan adalah 3,5 persen per tahun dari 137.215 ton menjadi 151.671 ton dengan produk utamanya berupa kopi bubuk dan instan. Selain itu, ekspor produk kopi olahan pada tahun 2010 mencapai USD114,47 juta atau meningkat 38,7 persen per tahun.Meski, kata Benny, peluang pasar kopi di dalam negeri cukup besar, namun, konsumsi kopi secara nasional masih relatif rendah, yakni hanya 0,8 kilogram (kg) per kapita per tahun. Jumlah itu, kata dia, lebih rendah apabila dibandingkan sejumlah negara lainnya seperti Brasil yang sebesar 6,0 per kg per kapita per tahun, dan Kolombia 1,8 per kg per kapita per tahun.Kemudian Finlandia 11,9 per kg per kapita per tahun, Norwegia 9,7 per kg per kapita per tahun, Belgia 8,0 per kg per kapita per tahun, Austria 7,6 per kg per kapita per tahun, Amerika Serikat (AS) 4,3 per kg per kapita per tahun, dan Jepang 3,4 per kg per kapita per tahun. &quot;Konsumsi kopi per kapita kita masih rendah. Artinya, peluang pasar domestik masih tinggi,&quot; tandas Benny.</description><content:encoded>JAKARTA - Produksi kopi spesialti Indonesia pada saat ini diperkirakan telah mencapai 15 persen dari total produksi kopi yang diperkirakan sebesar 690 ribu-700 ribu ton pada 2011. Awalnya, produksi kopi spesialti diperkirakan sebesar lima persen.Wakil Ketua Umum bidang Spesialti dan Industri Kopi Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan, sekira satu persen dari produksi kopi spesialti dikonsumsi di dalam negeri.&quot;Sisanya, kita ekspor. Nilainya lebih tinggi. Bahkan, sekarang bisa berkisar USD3-USD8 per kg. Dulu, kita belum tahu soal kopi spesialti ini. Ternyata, Indonesia memilikinya dan bernilai tinggi,&amp;rdquo; kata Pranoto di Jakarta, Rabu (16/11/2011).Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wachyudi mengatakan, pihaknya tengah mengkaji berbagai upaya-upaya untuk mendorong produksi kopi spesialti Indonesia.&quot;Kita sedang kaji, karena memang nilai tambahnya di situ tinggi. Apakah, akan memacu produksi olahan atau kopi spesialti ini. Apakah menerapkan disinsentif bea keluar untuk itu atau tidak,&amp;rdquo; kata Benny. Menurutnya, pengembangan kopi spesialti dengan indikasi geografis dan diversifikasi kopi olahan sangat penting dilakukan. Kopi, kata dia, merupakan komoditas unggulan Indonesia dengan daya saing tinggi di pasar internasional. &quot;Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas lahan,&amp;rdquo; ucapnya.Hal senada diungkapkan oleh Pranoto. &amp;ldquo;Kita mau minta tolong Brasil supaya produktivitas lahan dan kopi kita bisa meningkat,&amp;rdquo; kata Pranoto.Lebih lanjut Benny mengatakan, Indonesia memiliki sejumlah kopi spesialti seperti Gayo, Mandailing, Lampung, Java, Kintamani, Toraja, dan Luwak. Masing- masing kopi itu memiliki cita rasa dan aroma yang khas.Pada 2010, Indonesia merupakan penghasil kopi nomor tiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam, dengan produksi sebesar 690 ribu ton per tahun atau enam persen dari produksi kopi dunia sebesar 7,18 juta ton per tahun.Dari total produksi itu, mayoritas kopi yang dihasilkan adalah jenis robusta dengan produksi sebesar 540 ribu ton atau 78 persen. Sedangkan sisanya adalah kopi jenis arabika sebesar 150 ribu ton atau 22 persen. Bahan baku kopi lokal rata-rata diekpor sebesar 68 persen dalam bentuk biji atau 470 ribu ton dan sisanya yang sebesar 220 ribu ton diolah di dalam negeri.Sementara, selama 2007 hingga 2010, industri pengolahan kopi nasional mengalami perkembangan signifikan. Saat ini jumlah perusahaan yang bergerak di industri pengolahan kopi olahan mengalami peningkatan dari 77 menjadi 81 perusahaan. Jumlah itu belum termasuk industri kecil dan rumah tangga.Rata-rata kenaikan produksi kopi olahan adalah 3,5 persen per tahun dari 137.215 ton menjadi 151.671 ton dengan produk utamanya berupa kopi bubuk dan instan. Selain itu, ekspor produk kopi olahan pada tahun 2010 mencapai USD114,47 juta atau meningkat 38,7 persen per tahun.Meski, kata Benny, peluang pasar kopi di dalam negeri cukup besar, namun, konsumsi kopi secara nasional masih relatif rendah, yakni hanya 0,8 kilogram (kg) per kapita per tahun. Jumlah itu, kata dia, lebih rendah apabila dibandingkan sejumlah negara lainnya seperti Brasil yang sebesar 6,0 per kg per kapita per tahun, dan Kolombia 1,8 per kg per kapita per tahun.Kemudian Finlandia 11,9 per kg per kapita per tahun, Norwegia 9,7 per kg per kapita per tahun, Belgia 8,0 per kg per kapita per tahun, Austria 7,6 per kg per kapita per tahun, Amerika Serikat (AS) 4,3 per kg per kapita per tahun, dan Jepang 3,4 per kg per kapita per tahun. &quot;Konsumsi kopi per kapita kita masih rendah. Artinya, peluang pasar domestik masih tinggi,&quot; tandas Benny.</content:encoded></item></channel></rss>
