<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> 500 Ribu Ton Gula Impor Masih &quot;Menyusup&quot; ke Pasar Domestik</title><description>&quot;Ada sekira 25 persen gula rafinasi atau 500 ribu ton merembes ke pasar domestik,&quot; </description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/01/04/320/551556/500-ribu-ton-gula-impor-masih-menyusup-ke-pasar-domestik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/01/04/320/551556/500-ribu-ton-gula-impor-masih-menyusup-ke-pasar-domestik"/><item><title> 500 Ribu Ton Gula Impor Masih &quot;Menyusup&quot; ke Pasar Domestik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/01/04/320/551556/500-ribu-ton-gula-impor-masih-menyusup-ke-pasar-domestik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/01/04/320/551556/500-ribu-ton-gula-impor-masih-menyusup-ke-pasar-domestik</guid><pubDate>Rabu 04 Januari 2012 15:15 WIB</pubDate><dc:creator>Saugi Riyandi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/01/04/320/551556/2zJHkI8jhB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/01/04/320/551556/2zJHkI8jhB.jpg</image><title>Ilustrasi.</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menegaskan masuknya gula rafinasi ke pasar dalam negeri membuat keberadaan petani tebu domestik tergerus.Hal ini disampaikan Ketua Umum APTRI Soemitro Sumitro Samadikoen yang ditemui dalam acara diskusi Format Kedaulatan Gula Nasional di Megawati Institute, Jakarta, Rabu (4/1/2012).&quot;Di 2010 pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk gula rafinasi beredar dan banyak di pasaran domestik dan ini akan menghancurkan para petani tebu kita,&quot; ujar Soemitro.Menurutnya perhitungan pemerintah dalam kelebihan gula nasional patut dikritisi dan ditinjau ulang. &quot;Karena pada 2010 kita punya kelebihan gula 876 ribu ton. Sekarang dari jumlah itu apa benar segitu? Hitung-hitungan yang dilakukan oleh pemerintah,&quot; jelasnya.Dia menegaskan, pihaknya jelas tidak setuju dengan keberadaan gula rafinasi yang beredar di pasar domestik. &quot;Ada sekira 25 persen gula rafinasi atau 500 ribu ton merembes ke pasar domestik,&quot; tuturnya.Lebih lanjut Soemitro menambahkan, jika impor gula tetap dilakukan, pemerintah akan melumpuhkan industri gula nasional. &quot;Kalau impor gula di 2012 tetap dilakukan itu akan melumpuhkan industri gula dan kedaulatan gula nasional kita,&quot; pungkasnya. (mrt)</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menegaskan masuknya gula rafinasi ke pasar dalam negeri membuat keberadaan petani tebu domestik tergerus.Hal ini disampaikan Ketua Umum APTRI Soemitro Sumitro Samadikoen yang ditemui dalam acara diskusi Format Kedaulatan Gula Nasional di Megawati Institute, Jakarta, Rabu (4/1/2012).&quot;Di 2010 pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk gula rafinasi beredar dan banyak di pasaran domestik dan ini akan menghancurkan para petani tebu kita,&quot; ujar Soemitro.Menurutnya perhitungan pemerintah dalam kelebihan gula nasional patut dikritisi dan ditinjau ulang. &quot;Karena pada 2010 kita punya kelebihan gula 876 ribu ton. Sekarang dari jumlah itu apa benar segitu? Hitung-hitungan yang dilakukan oleh pemerintah,&quot; jelasnya.Dia menegaskan, pihaknya jelas tidak setuju dengan keberadaan gula rafinasi yang beredar di pasar domestik. &quot;Ada sekira 25 persen gula rafinasi atau 500 ribu ton merembes ke pasar domestik,&quot; tuturnya.Lebih lanjut Soemitro menambahkan, jika impor gula tetap dilakukan, pemerintah akan melumpuhkan industri gula nasional. &quot;Kalau impor gula di 2012 tetap dilakukan itu akan melumpuhkan industri gula dan kedaulatan gula nasional kita,&quot; pungkasnya. (mrt)</content:encoded></item></channel></rss>
