<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Garam Bireuen Menuju Industri</title><description>Garam yang selama ini dikelola secara tradisional di Kecamatan Jangka,  Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh segera menuju industrialisasi seiring  dimulainya pembangunan pabrik garam beryodium senilai Rp561 juta lebih.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/01/21/320/561189/garam-bireuen-menuju-industri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/01/21/320/561189/garam-bireuen-menuju-industri"/><item><title>Garam Bireuen Menuju Industri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/01/21/320/561189/garam-bireuen-menuju-industri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/01/21/320/561189/garam-bireuen-menuju-industri</guid><pubDate>Sabtu 21 Januari 2012 16:07 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/01/21/320/561189/0BuNKebYAF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Garam.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/01/21/320/561189/0BuNKebYAF.jpg</image><title>Ilustrasi Garam.</title></images><description>BIREUN - Garam yang selama ini dikelola secara tradisional di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh segera menuju industrialisasi seiring dimulainya pembangunan pabrik garam beryodium senilai Rp561 juta lebih.Pembangunan pabrik yang mampu memproduksi tiga ton garam beryodium dalam sehari ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Bireuen, Nurdin Abdul Rahman, Sabtu (21/1/2012).&amp;nbsp;Pabrik garam itu dibangun Aceh Development Fund (ADF) dan tiga mitranya, Fakultas Teknik Unsyiah, An-Nisaa&amp;rsquo; Centre, dan Perkumpulan BIMA melalui Program Teknologi Ramah Lingkungan untuk Industri Proses Perikanan (Terapan).Program berbasis masyarakat itu dibiayai dari hibah Multi Donor Fund (MDF) melalui proyek Fasilitas Pembiayaan Pembangunan Ekonomi (EDFF) Aceh.&amp;nbsp;Program Manager Terapan, Faisal Hadi mengatakan, peletakan batu pertama itu adalah sesuatu yang sangat progresif, karena garam Bireuen yang selama ini diproduksi secara tradisional akan segera menuju industri dengan proses pengolahan peralatan mesin.&quot;Garam yang dihasilkan secara tradisional bakal ditampung oleh pabrik untuk selanjutnya diolah, sehingga menghasilkan 30 ton garam beryodium per hari. Dengan begitu petani garam tradisional tidak mengalami kesulitan lagi dalam memasarkan hasil garam mereka seperti yang selama ini terjadi,&quot; katanya.Faisal menyebutkan bahwa pihaknya juga akan memberikan berbagai macam pelatihan kepada para pengurus koperasi perempuan yang telah dibentuk dan masyarakat penerima manfaat program Terapan secara berbarengan dengan pembangunan fisik pabrik.&amp;nbsp;&quot;Dengan demikian, industri iodisasi garam di Kecamatan Jangka ini akan bisa terus berkembang dan berkelanjutan meskipun program Terapan nanti telah berakhir pada Agustus mendatang,&quot; katanya seraya berharap perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk terus mendampingi masyarakat.Ketua Dewan Pembina ADF, Prof Yusny Sabi berharap kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen terus membina koperasi perempuan yang telah dibentuk melalui program Terapan sehingga perekonomian warga masyarakat pesisir meningkat.&quot;Kita masuk ke sini, karena diterima dan tidak diperas ketika pembangunan. Saya yakin masyarakat telah berpikir jauh ke depan karena dengan berdirinya pabrik garam beryodium ini akan memberikan manfaat yang besar bagi warga Jangka dan masyarakat Bireuen,&amp;rdquo; tutur mantan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh itu.&amp;nbsp;Yusny mengingatkan semua pihak yang terlihat dalam pembangunan industri iodisasi garam itu untuk serius mengelola pabrik yang dibangun.&quot;Kita sadar bahwa program yang menjanjikan ini bisa saja macet kalau kita tidak serius mengelolanya,&amp;rdquo; katanya. Dengan hadirnya industri garam beryodium itu, maka garam yang dihasilkan masyarakat Bireuen akan lebih berkualitas dengan standar nasional sehingga dapat menembus pasar modern. Apalagi nanti garam yang diproduksi pabrik tersebut dikemas dengan baik untuk dapat dipasarkan hingga keluar Aceh,&quot; ujarnya.&quot;Kami harap kepada Bupati Bireuen untuk memikirkan pemasaran garam ini sehingga pendapatan petani garam meningkat karena sudah bernilai ekonomi dan garam yang diproduksi lebih berkualitas,&quot; katanya.Fakriah, ketua koperasi perempuan &amp;ldquo;Rahmat Kamoe Meusira&amp;rdquo; yang menjadi penerima manfaat industri iodisasi garam menyatakan bahwa pihaknya ingin meningkatkan kesejahteraan petani dan pedagang garam di Bireuen. Jumlah anggota koperasi yang baru terbentuk pada 3 Oktober 2011 adalah 125 orang.&amp;nbsp;&quot;Koperasi ini masih lemah di semua sisi, baik manajemen maupun keuangan. Dengan ini kami menyatakan membuka diri kepada semua pihak untuk turut memberikan dukungan, bimbingan, binaan dan arahan sehingga fungsi dari koperasi perempuan dapat kami jalankan untuk mewujudkan kesejahteraan petani garam Bireuen,&quot; katanya.</description><content:encoded>BIREUN - Garam yang selama ini dikelola secara tradisional di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh segera menuju industrialisasi seiring dimulainya pembangunan pabrik garam beryodium senilai Rp561 juta lebih.Pembangunan pabrik yang mampu memproduksi tiga ton garam beryodium dalam sehari ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Bireuen, Nurdin Abdul Rahman, Sabtu (21/1/2012).&amp;nbsp;Pabrik garam itu dibangun Aceh Development Fund (ADF) dan tiga mitranya, Fakultas Teknik Unsyiah, An-Nisaa&amp;rsquo; Centre, dan Perkumpulan BIMA melalui Program Teknologi Ramah Lingkungan untuk Industri Proses Perikanan (Terapan).Program berbasis masyarakat itu dibiayai dari hibah Multi Donor Fund (MDF) melalui proyek Fasilitas Pembiayaan Pembangunan Ekonomi (EDFF) Aceh.&amp;nbsp;Program Manager Terapan, Faisal Hadi mengatakan, peletakan batu pertama itu adalah sesuatu yang sangat progresif, karena garam Bireuen yang selama ini diproduksi secara tradisional akan segera menuju industri dengan proses pengolahan peralatan mesin.&quot;Garam yang dihasilkan secara tradisional bakal ditampung oleh pabrik untuk selanjutnya diolah, sehingga menghasilkan 30 ton garam beryodium per hari. Dengan begitu petani garam tradisional tidak mengalami kesulitan lagi dalam memasarkan hasil garam mereka seperti yang selama ini terjadi,&quot; katanya.Faisal menyebutkan bahwa pihaknya juga akan memberikan berbagai macam pelatihan kepada para pengurus koperasi perempuan yang telah dibentuk dan masyarakat penerima manfaat program Terapan secara berbarengan dengan pembangunan fisik pabrik.&amp;nbsp;&quot;Dengan demikian, industri iodisasi garam di Kecamatan Jangka ini akan bisa terus berkembang dan berkelanjutan meskipun program Terapan nanti telah berakhir pada Agustus mendatang,&quot; katanya seraya berharap perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk terus mendampingi masyarakat.Ketua Dewan Pembina ADF, Prof Yusny Sabi berharap kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen terus membina koperasi perempuan yang telah dibentuk melalui program Terapan sehingga perekonomian warga masyarakat pesisir meningkat.&quot;Kita masuk ke sini, karena diterima dan tidak diperas ketika pembangunan. Saya yakin masyarakat telah berpikir jauh ke depan karena dengan berdirinya pabrik garam beryodium ini akan memberikan manfaat yang besar bagi warga Jangka dan masyarakat Bireuen,&amp;rdquo; tutur mantan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh itu.&amp;nbsp;Yusny mengingatkan semua pihak yang terlihat dalam pembangunan industri iodisasi garam itu untuk serius mengelola pabrik yang dibangun.&quot;Kita sadar bahwa program yang menjanjikan ini bisa saja macet kalau kita tidak serius mengelolanya,&amp;rdquo; katanya. Dengan hadirnya industri garam beryodium itu, maka garam yang dihasilkan masyarakat Bireuen akan lebih berkualitas dengan standar nasional sehingga dapat menembus pasar modern. Apalagi nanti garam yang diproduksi pabrik tersebut dikemas dengan baik untuk dapat dipasarkan hingga keluar Aceh,&quot; ujarnya.&quot;Kami harap kepada Bupati Bireuen untuk memikirkan pemasaran garam ini sehingga pendapatan petani garam meningkat karena sudah bernilai ekonomi dan garam yang diproduksi lebih berkualitas,&quot; katanya.Fakriah, ketua koperasi perempuan &amp;ldquo;Rahmat Kamoe Meusira&amp;rdquo; yang menjadi penerima manfaat industri iodisasi garam menyatakan bahwa pihaknya ingin meningkatkan kesejahteraan petani dan pedagang garam di Bireuen. Jumlah anggota koperasi yang baru terbentuk pada 3 Oktober 2011 adalah 125 orang.&amp;nbsp;&quot;Koperasi ini masih lemah di semua sisi, baik manajemen maupun keuangan. Dengan ini kami menyatakan membuka diri kepada semua pihak untuk turut memberikan dukungan, bimbingan, binaan dan arahan sehingga fungsi dari koperasi perempuan dapat kami jalankan untuk mewujudkan kesejahteraan petani garam Bireuen,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
