<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> BBM &amp; TDL Bisa Picu Pelambatan Ekonomi RI</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencatat perekonomian Indonesia di  2011 lalu tumbuh sebesar 6,5 persen. Meskipun begitu, jika pemerintah  tidak bisa menjinakkan nilai tukar rupiah, disertai dengan kenaikan  harga BBM dan tarif dasar listrik, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun  ini hanya akan tumbuh di angka 5,5 sampai enam persen saja.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/02/06/20/570274/bbm-tdl-bisa-picu-pelambatan-ekonomi-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/02/06/20/570274/bbm-tdl-bisa-picu-pelambatan-ekonomi-ri"/><item><title> BBM &amp; TDL Bisa Picu Pelambatan Ekonomi RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/02/06/20/570274/bbm-tdl-bisa-picu-pelambatan-ekonomi-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/02/06/20/570274/bbm-tdl-bisa-picu-pelambatan-ekonomi-ri</guid><pubDate>Senin 06 Februari 2012 13:54 WIB</pubDate><dc:creator>Gina Nur Maftuhah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/02/06/20/570274/CX5ZkCWY3A.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Corbis</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/02/06/20/570274/CX5ZkCWY3A.jpg</image><title>Ilustrasi: Corbis</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencatat perekonomian Indonesia di 2011 lalu tumbuh sebesar 6,5 persen. Meskipun begitu, jika pemerintah tidak bisa menjinakkan nilai tukar rupiah, disertai dengan kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan tumbuh di angka 5,5 sampai enam persen saja.&quot;Tahun ini pelambatan belum terlalu terasa, tetapi kalau nilai tukar rupiah lepas dari Rp9.400 bahkan sampai Rp9.700 per dolar Amerika Serikat (AS) dan disertai dengan kenaikan BBM dan Tarif Dasar Listrik, perlambatan ekonomi akan terasa sekali, bisa di 5,5 persen sampai enam persen,&quot; ungkap pengamat Ekonomi Yanuar Rizki ketika dihubungi okezone, Senin (6/2/2012).Yanuar berpendapat, pemerintah masih ragu untuk memutuskan kebijakan-kebijakan tersebut. Kalau pemerintah mengurungkan niatnya ini, Yanuar optimistis pertumbuhan ekonomi akan berkisar antara 6,2-6,3 persen seperti asumsi makropemerintah dan prediksi Bank Sentral.&quot;Ekonomi kita tahun ini terjaga di 6,5 persen dipicu beberapa hal seperti nilai tukar dolar AS yang terjaga, konsumsi domestik yang tinggi meskipun dipicu oleh barang-barang impor dan inflasi yang rendah,&quot; lanjut dia.Namun, adanya kenyataan di pasar keuangan yang mulai bergejolak di kuartal terakhir menjadi pemicu ekonomi Indonesia 2012 ini diprediksi akan melambat di angka 6,2-6,3 persen.&amp;nbsp; (gna)</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencatat perekonomian Indonesia di 2011 lalu tumbuh sebesar 6,5 persen. Meskipun begitu, jika pemerintah tidak bisa menjinakkan nilai tukar rupiah, disertai dengan kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan tumbuh di angka 5,5 sampai enam persen saja.&quot;Tahun ini pelambatan belum terlalu terasa, tetapi kalau nilai tukar rupiah lepas dari Rp9.400 bahkan sampai Rp9.700 per dolar Amerika Serikat (AS) dan disertai dengan kenaikan BBM dan Tarif Dasar Listrik, perlambatan ekonomi akan terasa sekali, bisa di 5,5 persen sampai enam persen,&quot; ungkap pengamat Ekonomi Yanuar Rizki ketika dihubungi okezone, Senin (6/2/2012).Yanuar berpendapat, pemerintah masih ragu untuk memutuskan kebijakan-kebijakan tersebut. Kalau pemerintah mengurungkan niatnya ini, Yanuar optimistis pertumbuhan ekonomi akan berkisar antara 6,2-6,3 persen seperti asumsi makropemerintah dan prediksi Bank Sentral.&quot;Ekonomi kita tahun ini terjaga di 6,5 persen dipicu beberapa hal seperti nilai tukar dolar AS yang terjaga, konsumsi domestik yang tinggi meskipun dipicu oleh barang-barang impor dan inflasi yang rendah,&quot; lanjut dia.Namun, adanya kenyataan di pasar keuangan yang mulai bergejolak di kuartal terakhir menjadi pemicu ekonomi Indonesia 2012 ini diprediksi akan melambat di angka 6,2-6,3 persen.&amp;nbsp; (gna)</content:encoded></item></channel></rss>
