<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BKPM Yakin RI Tetap Dibanjiri Capital Inflow</title><description>Aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia diyakini masih akan mengalir kendati muncul sejumlah kekhawatiran.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/02/28/20/584000/bkpm-yakin-ri-tetap-dibanjiri-capital-inflow</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/02/28/20/584000/bkpm-yakin-ri-tetap-dibanjiri-capital-inflow"/><item><title>BKPM Yakin RI Tetap Dibanjiri Capital Inflow</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/02/28/20/584000/bkpm-yakin-ri-tetap-dibanjiri-capital-inflow</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/02/28/20/584000/bkpm-yakin-ri-tetap-dibanjiri-capital-inflow</guid><pubDate>Selasa 28 Februari 2012 15:11 WIB</pubDate><dc:creator>Yuni Astutik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/02/28/20/584000/gbEfcMdcGl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gita Wirjawan. (Foto: okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/02/28/20/584000/gbEfcMdcGl.jpg</image><title>Gita Wirjawan. (Foto: okezone)</title></images><description>JAKARTA - Aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia diyakini masih akan mengalir kendati muncul sejumlah kekhawatiran.&quot;Katakanlah ada kekhawatiran mengenai inflasi yang tentunya mengerosi suku bunga rill dengan catatan kalau suku bunga rill turun maka keinginan orang melakukan pembelian terhadap surat utang akan menurun dan bisa diekori dengan potensi pelemahan rupiah. Saya optimistis ada beberapa kekhawatiran akan tetap positif,&quot; kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (28/2/2012).Dia mengatakan, jika ternyata rupiah terpantau mengalami pelemahan, bisa juga sebagai upaya untuk menopang kepentingan dalam hal ekspor dan impor.&quot;Tetapi kalau terjadi pelemahan rupiah itu tentunya akan bisa menopang kepentingan kita untuk meningkatkan ekspor juga akan memitigasi kapasitas kita untuk mengurangi impor. Dari sisi neraca perdagangan itu seperti itu. Itu juga akan nyambung dengan current account,&quot; katanya lagi.Selanjutnya dia menjelaskan, yang harus lebih diperhatikan adalah antisipasi dari ekspektasi investasi bukan dari segi inflasinya sendiri. Jika ekspektasi inflasi masih kurang baik akan sangat terkait dengan kapasitas kita dalam membangun infrastruktur.&quot;Kalau kita tidak bisa membangun infrastruktur secara ontime itu akan membuahkan ekspektasi inflasi yg menggelembung dan ujungnya akan terjadi inflasi yang tidak bisa terkendali, tapi saya rasa itu tidak terjadi di 2012,&quot; akunya.Sehingga pada intinya dia menyatakan tetap optimistis jika investasi akan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Di mana investasi tersebut akan mengarah ke pembangunan infrastruktur. Dengan pembangunan infrastruktur itu, dia yakin bisa mengendalikan inflasi.&quot;Intinya saya tetap optimistis investasi tetap jalan dan kita akan mengarahkan ini ke pembangunan infrastruktur karena dengan pembangunan infrastruktur kita bisa mengendalikan laju inflasi. Kalau infrastruktur jalan itu bisa pertumbuhan ekonomi di 6,5 persen,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia diyakini masih akan mengalir kendati muncul sejumlah kekhawatiran.&quot;Katakanlah ada kekhawatiran mengenai inflasi yang tentunya mengerosi suku bunga rill dengan catatan kalau suku bunga rill turun maka keinginan orang melakukan pembelian terhadap surat utang akan menurun dan bisa diekori dengan potensi pelemahan rupiah. Saya optimistis ada beberapa kekhawatiran akan tetap positif,&quot; kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (28/2/2012).Dia mengatakan, jika ternyata rupiah terpantau mengalami pelemahan, bisa juga sebagai upaya untuk menopang kepentingan dalam hal ekspor dan impor.&quot;Tetapi kalau terjadi pelemahan rupiah itu tentunya akan bisa menopang kepentingan kita untuk meningkatkan ekspor juga akan memitigasi kapasitas kita untuk mengurangi impor. Dari sisi neraca perdagangan itu seperti itu. Itu juga akan nyambung dengan current account,&quot; katanya lagi.Selanjutnya dia menjelaskan, yang harus lebih diperhatikan adalah antisipasi dari ekspektasi investasi bukan dari segi inflasinya sendiri. Jika ekspektasi inflasi masih kurang baik akan sangat terkait dengan kapasitas kita dalam membangun infrastruktur.&quot;Kalau kita tidak bisa membangun infrastruktur secara ontime itu akan membuahkan ekspektasi inflasi yg menggelembung dan ujungnya akan terjadi inflasi yang tidak bisa terkendali, tapi saya rasa itu tidak terjadi di 2012,&quot; akunya.Sehingga pada intinya dia menyatakan tetap optimistis jika investasi akan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Di mana investasi tersebut akan mengarah ke pembangunan infrastruktur. Dengan pembangunan infrastruktur itu, dia yakin bisa mengendalikan inflasi.&quot;Intinya saya tetap optimistis investasi tetap jalan dan kita akan mengarahkan ini ke pembangunan infrastruktur karena dengan pembangunan infrastruktur kita bisa mengendalikan laju inflasi. Kalau infrastruktur jalan itu bisa pertumbuhan ekonomi di 6,5 persen,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
