<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Pengelolaan Migas Belum Berjalan Baik</title><description>Keputusan pemerintah untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai tidak memiliki dasar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/04/17/19/613162/pengelolaan-migas-belum-berjalan-baik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/04/17/19/613162/pengelolaan-migas-belum-berjalan-baik"/><item><title> Pengelolaan Migas Belum Berjalan Baik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/04/17/19/613162/pengelolaan-migas-belum-berjalan-baik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/04/17/19/613162/pengelolaan-migas-belum-berjalan-baik</guid><pubDate>Selasa 17 April 2012 15:03 WIB</pubDate><dc:creator>Angkasa Yudhistira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/04/17/19/613162/H47sDV8i6B.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Corbis)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/04/17/19/613162/H47sDV8i6B.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Corbis)</title></images><description>JAKARTA - Keputusan pemerintah untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai tidak memiliki dasar. Pengurangan subsidi tidak perlu dilakukan bila pengelolaan dan pengadaan migas dilakukan dengan benar.&quot;Impor minyak ke indonesia, seharusnya langsung pada produsen, dan jika ini dapat dilakukan, maka pemerintah dapat menghemat Rp70 triliun, yang sebelumnya menghabiskan kurang lebih Rp350 triliun,&quot; ungkap Pengamat Migas, Kartubi, kepada wartawan dalam acara dialog mingguan yang diadakan oleh rumah perubahan 2.0 di komplek duta merlin, Jakarta, Selasa (17/4/2012). Dia menjelaskan, pemerintah khususnya BP Migas, tidak dapat mengeksplor hasil minyak yang ada. Selain itu, dia menambahkan, selama ini pemerintah hanya mengungkapkan cadangan minyak tersisa 3,9 juta barel. &quot;Padahal, banyak sudah ahli dari luar yang melakukan penelitian di Indonesia, bahwa negeri ini memiliki lebih dari 50 juta barel minyak mentah,&quot; kata Kurtubi.Lebih jauh dia mengungkapkan, memang pengelolaan migas membutuhkan dana besar untuk dapat mengeksplor titik-titik baru untuk dapatkan minyak. &quot;Namun ada hal terpenting dari rencana pengurangan subsidi ini, realisasikan konversi BBM ke BBG, jangan konversi dari minyak ke minyak, Premium ke Pertamax kan sama-sama minyak.&quot; Ujarnya.Karena itu, dia menilai dasar dari rentetan kasus ini adalah UU Migas. Di mana pada UU migas no.22 tahun 2001, harus segera di hapus. &quot;Itu adalah biang kerok dari hancurnya pengelolaan Migas, dari pada ngurusin APBN akal-akalan ini,&quot; tegas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Keputusan pemerintah untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai tidak memiliki dasar. Pengurangan subsidi tidak perlu dilakukan bila pengelolaan dan pengadaan migas dilakukan dengan benar.&quot;Impor minyak ke indonesia, seharusnya langsung pada produsen, dan jika ini dapat dilakukan, maka pemerintah dapat menghemat Rp70 triliun, yang sebelumnya menghabiskan kurang lebih Rp350 triliun,&quot; ungkap Pengamat Migas, Kartubi, kepada wartawan dalam acara dialog mingguan yang diadakan oleh rumah perubahan 2.0 di komplek duta merlin, Jakarta, Selasa (17/4/2012). Dia menjelaskan, pemerintah khususnya BP Migas, tidak dapat mengeksplor hasil minyak yang ada. Selain itu, dia menambahkan, selama ini pemerintah hanya mengungkapkan cadangan minyak tersisa 3,9 juta barel. &quot;Padahal, banyak sudah ahli dari luar yang melakukan penelitian di Indonesia, bahwa negeri ini memiliki lebih dari 50 juta barel minyak mentah,&quot; kata Kurtubi.Lebih jauh dia mengungkapkan, memang pengelolaan migas membutuhkan dana besar untuk dapat mengeksplor titik-titik baru untuk dapatkan minyak. &quot;Namun ada hal terpenting dari rencana pengurangan subsidi ini, realisasikan konversi BBM ke BBG, jangan konversi dari minyak ke minyak, Premium ke Pertamax kan sama-sama minyak.&quot; Ujarnya.Karena itu, dia menilai dasar dari rentetan kasus ini adalah UU Migas. Di mana pada UU migas no.22 tahun 2001, harus segera di hapus. &quot;Itu adalah biang kerok dari hancurnya pengelolaan Migas, dari pada ngurusin APBN akal-akalan ini,&quot; tegas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
