<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Usaha Pariwisata di Solo Kurang Kreatif</title><description>Masih sedikitnya penawaran kemasan paket wisata dan pengembangan produk  serta layanan yang baru merupakan salah satu akibat dari kurangnya  kreatifitas para pelaku usaha pariwisata di eks Karesidenan Surakarta.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/08/320/625961/usaha-pariwisata-di-solo-kurang-kreatif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/05/08/320/625961/usaha-pariwisata-di-solo-kurang-kreatif"/><item><title>Usaha Pariwisata di Solo Kurang Kreatif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/08/320/625961/usaha-pariwisata-di-solo-kurang-kreatif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/05/08/320/625961/usaha-pariwisata-di-solo-kurang-kreatif</guid><pubDate>Selasa 08 Mei 2012 17:28 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/08/320/625961/7C5H1q0Oot.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dewan Pakar Badan Promosi Pariwisata Indonesia Solo (BPPIS) BRM Bambang Irawan. Foto: Bramantyo/okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/08/320/625961/7C5H1q0Oot.jpg</image><title>Dewan Pakar Badan Promosi Pariwisata Indonesia Solo (BPPIS) BRM Bambang Irawan. Foto: Bramantyo/okezone</title></images><description>SOLO - Masih sedikitnya penawaran kemasan paket wisata dan pengembangan produk serta layanan yang baru merupakan salah satu akibat dari kurangnya kreatifitas para pelaku usaha pariwisata di eks Karesidenan Surakarta.&quot;Sebagian besar travel agent yang ada di kota Solo dan sekitarnya masih asyik menggeluti bisnis ticketing ketimbang menggali dan mengembangkan paket-paket wisata dan berinovasi pada layanan-layanan baru,&quot; tandas anggota Dewan Pakar Badan Promosi Pariwisata Indonesia Solo (BPPIS) BRM Bambang Irawan saat mengupas Pengembangan Wisata di Solo dan sekitarnya, di Kampus Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Selasa (8/5/2012).Selain itu, kata Bambang Irawan, hotel-hotel melati yang jumlahnya sangat banyak di Solo dan sekitarnya masih menawarkan kamar-kamar dengan kondisi yang nyaris sama dengan kondisi sepuluh tahun lalu.&quot;Padahal tren industri hotel sudah berubah cukup signifikan selama kurun waktu lima tahun terakhir,&quot; ujarnya.Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa selama kurun waktu lima tahun terakhir ini produk pariwisata di Solo dan sekitarnya tidak mengalami penambahan yang berarti. Baru ada empat obyek wisata baru yang muncul, yakni seperti Taman Sondokoro di Karanganyar, Museum Batik Danar Hadi di kota Solo, Museum Karst di Wonogiri dan Pandawa Water Park di Sukoharjo.&quot;Kalau khusus di kota Solo memang ada tambahan wisata seperti Sepur Kluthuk, Wisata kuliner Galabo, Taman Balekambang, Koridor Ngarsopuro dan sebagainya,&quot; ujar anggota Dewan Pakar BPPIS.</description><content:encoded>SOLO - Masih sedikitnya penawaran kemasan paket wisata dan pengembangan produk serta layanan yang baru merupakan salah satu akibat dari kurangnya kreatifitas para pelaku usaha pariwisata di eks Karesidenan Surakarta.&quot;Sebagian besar travel agent yang ada di kota Solo dan sekitarnya masih asyik menggeluti bisnis ticketing ketimbang menggali dan mengembangkan paket-paket wisata dan berinovasi pada layanan-layanan baru,&quot; tandas anggota Dewan Pakar Badan Promosi Pariwisata Indonesia Solo (BPPIS) BRM Bambang Irawan saat mengupas Pengembangan Wisata di Solo dan sekitarnya, di Kampus Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Selasa (8/5/2012).Selain itu, kata Bambang Irawan, hotel-hotel melati yang jumlahnya sangat banyak di Solo dan sekitarnya masih menawarkan kamar-kamar dengan kondisi yang nyaris sama dengan kondisi sepuluh tahun lalu.&quot;Padahal tren industri hotel sudah berubah cukup signifikan selama kurun waktu lima tahun terakhir,&quot; ujarnya.Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa selama kurun waktu lima tahun terakhir ini produk pariwisata di Solo dan sekitarnya tidak mengalami penambahan yang berarti. Baru ada empat obyek wisata baru yang muncul, yakni seperti Taman Sondokoro di Karanganyar, Museum Batik Danar Hadi di kota Solo, Museum Karst di Wonogiri dan Pandawa Water Park di Sukoharjo.&quot;Kalau khusus di kota Solo memang ada tambahan wisata seperti Sepur Kluthuk, Wisata kuliner Galabo, Taman Balekambang, Koridor Ngarsopuro dan sebagainya,&quot; ujar anggota Dewan Pakar BPPIS.</content:encoded></item></channel></rss>
