<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Geliat Bisnis Ulat Hong Kong Beromzet Hingga Rp7 Juta/Bulan</title><description>Bisnis ulat Hong Kong di kalangan warga desa Bandung sudah berjalan hampir sepuluh tahun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/19/455/632005/geliat-bisnis-ulat-hong-kong-beromzet-hingga-rp7-juta-bulan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/05/19/455/632005/geliat-bisnis-ulat-hong-kong-beromzet-hingga-rp7-juta-bulan"/><item><title>Geliat Bisnis Ulat Hong Kong Beromzet Hingga Rp7 Juta/Bulan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/19/455/632005/geliat-bisnis-ulat-hong-kong-beromzet-hingga-rp7-juta-bulan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/05/19/455/632005/geliat-bisnis-ulat-hong-kong-beromzet-hingga-rp7-juta-bulan</guid><pubDate>Sabtu 19 Mei 2012 18:47 WIB</pubDate><dc:creator>Mukhtar Bagus</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/19/455/632005/W2p81n5ytJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/19/455/632005/W2p81n5ytJ.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>BAGI kebanyakan orang, ulat merupakan jenis binatang yang menjijikkan. Tapi siapa sangka, di tangan warga desa Bandung Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ulat justru menjadi sumber mata pencaharian utama mereka.Bisnis ulat Hong Kong di kalangan warga desa Bandung sudah berjalan hampir sepuluh tahun. Salah satunya adalah Baidowi, pria berusia 53 tahun ini rela banting setir dari usaha yang telah digelutinya selama puluhan tahun, yakni beternak ikan lele.Awalnya, bisnis ini dipilihnya karena keuntungan berternak ikan lele terus merosot. Baidowi yang melihat tetangganya sukses beternak ulat ini pun tergiur untuk mencoba. Setelah enam bulan menekuni usaha ini, Baidowi mengungkapkan bila beternak ulat memang lebih mudah dan relatif jauh dari risiko kematian ataupun penyakit.Modal AwalUntuk mulai beternak ulat Hong Kong, Baidowi mengatakan ada beberapa cara yang harus ditempuh. Sebagai awalan, harus membeli bibit dengan modal Rp1 juta-Rp2 juta maka akan mendapatkan 50 kilogram indukan (kepik) yang banyak di jual di toko pertanian.Indukan tersebut, kemudian diletakkan pada sebuah tempat berupa ijuk atau serabut kelapa. Setelah bertelur dan menjadi anak ulat, pisahkan anak ulat tersebut ke dalam wadah tersendiri yang penuh dengan bekatul. Untuk memelihara ulat Hong Kong ini cukup mudah, setiap hari Baidowi hanya memberi makan ulat-ulatnya dengan polar atau serbuk sagu. KeuntunganDengan modal awal 50 kg indukan, maka setiap tiga hari sekali, Baidowi dapat memanen sedikitnya 25 kilogram ulat Hong Kong. Karena sudah tenar, maka penjualan pun tidak terlampau sulit. Baidowi mengaku juga tidak sulit, karena setiap hari selalu ada saja pengepul yang datang dan memborong ulat Hong Kong hasil peternakan warga. Ulat ini, dia lego dengan harga Rp25 ribu per kilogram. Menurut Baidowi, kebutuhan masyarakat akan ulat jenis ini memang banyak. Pasalnya, ulat Hong Kong kebanyakan digunakan untuk pakan burung atau ikan. Dengan modal awal Rp1 juta-Rp2 juta, maka dari 50 kilogram indukan Baidowi dapat meraup omzet antara Rp6 juta-Rp7 juta per bulan.</description><content:encoded>BAGI kebanyakan orang, ulat merupakan jenis binatang yang menjijikkan. Tapi siapa sangka, di tangan warga desa Bandung Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ulat justru menjadi sumber mata pencaharian utama mereka.Bisnis ulat Hong Kong di kalangan warga desa Bandung sudah berjalan hampir sepuluh tahun. Salah satunya adalah Baidowi, pria berusia 53 tahun ini rela banting setir dari usaha yang telah digelutinya selama puluhan tahun, yakni beternak ikan lele.Awalnya, bisnis ini dipilihnya karena keuntungan berternak ikan lele terus merosot. Baidowi yang melihat tetangganya sukses beternak ulat ini pun tergiur untuk mencoba. Setelah enam bulan menekuni usaha ini, Baidowi mengungkapkan bila beternak ulat memang lebih mudah dan relatif jauh dari risiko kematian ataupun penyakit.Modal AwalUntuk mulai beternak ulat Hong Kong, Baidowi mengatakan ada beberapa cara yang harus ditempuh. Sebagai awalan, harus membeli bibit dengan modal Rp1 juta-Rp2 juta maka akan mendapatkan 50 kilogram indukan (kepik) yang banyak di jual di toko pertanian.Indukan tersebut, kemudian diletakkan pada sebuah tempat berupa ijuk atau serabut kelapa. Setelah bertelur dan menjadi anak ulat, pisahkan anak ulat tersebut ke dalam wadah tersendiri yang penuh dengan bekatul. Untuk memelihara ulat Hong Kong ini cukup mudah, setiap hari Baidowi hanya memberi makan ulat-ulatnya dengan polar atau serbuk sagu. KeuntunganDengan modal awal 50 kg indukan, maka setiap tiga hari sekali, Baidowi dapat memanen sedikitnya 25 kilogram ulat Hong Kong. Karena sudah tenar, maka penjualan pun tidak terlampau sulit. Baidowi mengaku juga tidak sulit, karena setiap hari selalu ada saja pengepul yang datang dan memborong ulat Hong Kong hasil peternakan warga. Ulat ini, dia lego dengan harga Rp25 ribu per kilogram. Menurut Baidowi, kebutuhan masyarakat akan ulat jenis ini memang banyak. Pasalnya, ulat Hong Kong kebanyakan digunakan untuk pakan burung atau ikan. Dengan modal awal Rp1 juta-Rp2 juta, maka dari 50 kilogram indukan Baidowi dapat meraup omzet antara Rp6 juta-Rp7 juta per bulan.</content:encoded></item></channel></rss>
