<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Konversi BBM Akan Maksimalkan SDA Gas RI</title><description>PGAS mengajak seluruh stakeholder atau  pengguna gas untuk mendukung program pemerintah dalam hal konversi BBM ke BBG.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/22/19/633678/konversi-bbm-akan-maksimalkan-sda-gas-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/05/22/19/633678/konversi-bbm-akan-maksimalkan-sda-gas-ri"/><item><title> Konversi BBM Akan Maksimalkan SDA Gas RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/22/19/633678/konversi-bbm-akan-maksimalkan-sda-gas-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/05/22/19/633678/konversi-bbm-akan-maksimalkan-sda-gas-ri</guid><pubDate>Selasa 22 Mei 2012 19:25 WIB</pubDate><dc:creator>Yuni Astutik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/22/19/633678/QVvUUu8eMf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Corbis)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/22/19/633678/QVvUUu8eMf.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Corbis)</title></images><description>JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mengajak seluruh stakeholder atau pengguna gas untuk mendukung program pemerintah dalam hal konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Dengan demikian kebutuhan gas dalam negeri bisa diserap dan terpenuhi. &quot;Memang banyak yang mengeluh, tapi saya ingin ajak stakeholder untuk dukung program pemerintah,&quot; kata Direktur Utama PGAS Hendi Prio Santoso, saat konferensi pers usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (22/5/2012).Menurutnya, hal tersebut patut dilakukan lantaran lebih banyak gas dalam negeri yang diekspor dengan harga jual yang tinggi.&quot;Diekspor ke Singapura misalnya. Kalau diekspor harganya USD14-USD15 per mmbtu,&quot; katanya lagi.Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa pernah mengatakan, pemerintah harus menghentikan ekspor gas agar produksi gas bisa dioptimalkan untuk menutupi kebutuhan energi di dalam negeri. Menurut Erwin, krisis energi yang berbuntut pada pemadaman listrik antara lain merupakan akibat langsung dari mengalirnya produk gas ke luar negeri.&quot;Mengalirnya ekspor gas ke luar negeri adalah salah satu pangkal masalah krisis energi. Indonesia punya banyak pembangkit listrik tenaga gas, tetapi karena minimnya stok gas dalam negeri, akhirnya penggunaan bahan bakar beralih ke solar yang harganya jauh lebih mahal ketimbang gas,&quot; tutup Erwin.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mengajak seluruh stakeholder atau pengguna gas untuk mendukung program pemerintah dalam hal konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Dengan demikian kebutuhan gas dalam negeri bisa diserap dan terpenuhi. &quot;Memang banyak yang mengeluh, tapi saya ingin ajak stakeholder untuk dukung program pemerintah,&quot; kata Direktur Utama PGAS Hendi Prio Santoso, saat konferensi pers usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (22/5/2012).Menurutnya, hal tersebut patut dilakukan lantaran lebih banyak gas dalam negeri yang diekspor dengan harga jual yang tinggi.&quot;Diekspor ke Singapura misalnya. Kalau diekspor harganya USD14-USD15 per mmbtu,&quot; katanya lagi.Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa pernah mengatakan, pemerintah harus menghentikan ekspor gas agar produksi gas bisa dioptimalkan untuk menutupi kebutuhan energi di dalam negeri. Menurut Erwin, krisis energi yang berbuntut pada pemadaman listrik antara lain merupakan akibat langsung dari mengalirnya produk gas ke luar negeri.&quot;Mengalirnya ekspor gas ke luar negeri adalah salah satu pangkal masalah krisis energi. Indonesia punya banyak pembangkit listrik tenaga gas, tetapi karena minimnya stok gas dalam negeri, akhirnya penggunaan bahan bakar beralih ke solar yang harganya jauh lebih mahal ketimbang gas,&quot; tutup Erwin.</content:encoded></item></channel></rss>
