<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Nilai Ekspor Manufaktur Naik 14,75%</title><description>Ekspor produk manufaktur nasional tahun ini diperkirakan akan mencapai USD140 miliar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/24/320/634539/nilai-ekspor-manufaktur-naik-14-75</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/05/24/320/634539/nilai-ekspor-manufaktur-naik-14-75"/><item><title> Nilai Ekspor Manufaktur Naik 14,75%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/05/24/320/634539/nilai-ekspor-manufaktur-naik-14-75</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/05/24/320/634539/nilai-ekspor-manufaktur-naik-14-75</guid><pubDate>Kamis 24 Mei 2012 08:27 WIB</pubDate><dc:creator>Sandra Karina</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/24/320/634539/Qq7Ia8bYwj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Corbis)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/24/320/634539/Qq7Ia8bYwj.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Corbis)</title></images><description>JAKARTA - Nilai ekspor produk manufaktur nasional tahun ini diperkirakan akan mencapai USD140 miliar. Jumlah itu naik sekitar 14,75 persen dibandingkan 2011 yang sebesar USD122,2 miliar. Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, pihaknya optimistis, angka USD140 miliar bisa tercapai. Meski, ada sejumlah hambatan seperti perlambatan ekonomi global dan gejolak politik.&amp;ldquo;Tahun ini, nilai ekspor produk manufaktur ditargetkan mencapai USD140 miliar. Saya rasa, target itu masih realistis. Ada ketidakyakinan juga dengan target itu. Tapi, pemerintah harus yakin dengan targetnya,&amp;rdquo; kata Panggah di Kemenperin, Jakarta, kemarin.Maka dari itu, ujarnya, perlu dilakukan efisiensi, restrukturisasi teknologi industri, pembenahan sistem regulasi, menerapkan langkah antisipasi terhadap kondisi perekonomian global, serta pemenuhan pasokan gas dan bahan baku untuk industri manufaktur nasional.&amp;ldquo;Kami tidak akan masuk terlalu dalam pembahasan harga. Itu biar menjadi urusan B to B karena ada yang keberatan ada yang tidak. Yang menjadi perhatian utama Kemenperin adalah, penuhi dulu pasokan bagi industri, sesuai kebutuhan. Kalau pasokan tidak memenuhi, persoalan yang menjadi beban industri kan dua kali,&amp;rdquo; ucapnya.Panggah menjelaskan, pihaknya akan fokus mendorong program akselerasi hilirisasi industri, terutama yang berbasis sumber daya alam (SDA) pertambangan dan mineral.&amp;ldquo;Ketika ekspor manufaktur naik, porsi ekspor bahan mentah SDA naik. Bahkan, ada yang ekspornya melonjak 7-11 kali lipat dalam empat tahun berturut-turut. Ini yang menjadi fokus kita dalam percepatan hilirisasi industrialisasi. Mewaspadai dan menyikapi peningkatan ekspor barang mentah,&amp;rdquo; katanya.Kerangka berpikirnya, kata dia, tidak lagi mengandalkan pendapatan negara atas ekspor mentah SDA, menjual gas, hingga batu bara. &amp;ldquo;Kandungan bahan baku dan energi itu harus diutamakan untuk kebutuhan industri manufaktur lokal. Karena itulah keunggulan kita untuk memacu pertumbuhan dan membangun industri manufaktur,&amp;rdquo; paparnya.Menurutnya, struktur ekspor harus diubah dengan cara memaksimalkan daya saing dan memacu hilirasi. Kalau masih berkutat seperti sekarang, ekspor manufaktur kita tidak akan bisa bertumbuh. &quot;Untuk itu, kita harus membenahi dan mengembangkan tiga hal utama yang menjadi topangan industri. Yakni, bahan baku industri kimia atau refinery petrokimia, energi, dan barang modal,&amp;rdquo; ujarnya.Untuk bahan baku petrokimia, ujar dia, pembangunan refinery harus dipercepat. Setidaknya, untuk menekan impor produk hulu petrokimia yang saat ini mencapai USD5,5 miliar per tahun. Dia menjelaskan, tahun ini, sejumlah persiapan akan dipercepat agar segera selesai. &quot;Pada 2013, dijadwalkan semua program dan strategi-strategi bisa terlaksana dan terealisasi. Perlahan, kita bisa mengubah struktur ekspor secara signifikan. Kalau ini terjadi dan lancar, periode 2017-2018, kita mencapai titik sebagai negara industri, dimana secara struktur ekspor, produk manufaktur teruji kekuangan kontribusinya,&amp;rdquo; tegasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai ekspor produk manufaktur nasional tahun ini diperkirakan akan mencapai USD140 miliar. Jumlah itu naik sekitar 14,75 persen dibandingkan 2011 yang sebesar USD122,2 miliar. Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, pihaknya optimistis, angka USD140 miliar bisa tercapai. Meski, ada sejumlah hambatan seperti perlambatan ekonomi global dan gejolak politik.&amp;ldquo;Tahun ini, nilai ekspor produk manufaktur ditargetkan mencapai USD140 miliar. Saya rasa, target itu masih realistis. Ada ketidakyakinan juga dengan target itu. Tapi, pemerintah harus yakin dengan targetnya,&amp;rdquo; kata Panggah di Kemenperin, Jakarta, kemarin.Maka dari itu, ujarnya, perlu dilakukan efisiensi, restrukturisasi teknologi industri, pembenahan sistem regulasi, menerapkan langkah antisipasi terhadap kondisi perekonomian global, serta pemenuhan pasokan gas dan bahan baku untuk industri manufaktur nasional.&amp;ldquo;Kami tidak akan masuk terlalu dalam pembahasan harga. Itu biar menjadi urusan B to B karena ada yang keberatan ada yang tidak. Yang menjadi perhatian utama Kemenperin adalah, penuhi dulu pasokan bagi industri, sesuai kebutuhan. Kalau pasokan tidak memenuhi, persoalan yang menjadi beban industri kan dua kali,&amp;rdquo; ucapnya.Panggah menjelaskan, pihaknya akan fokus mendorong program akselerasi hilirisasi industri, terutama yang berbasis sumber daya alam (SDA) pertambangan dan mineral.&amp;ldquo;Ketika ekspor manufaktur naik, porsi ekspor bahan mentah SDA naik. Bahkan, ada yang ekspornya melonjak 7-11 kali lipat dalam empat tahun berturut-turut. Ini yang menjadi fokus kita dalam percepatan hilirisasi industrialisasi. Mewaspadai dan menyikapi peningkatan ekspor barang mentah,&amp;rdquo; katanya.Kerangka berpikirnya, kata dia, tidak lagi mengandalkan pendapatan negara atas ekspor mentah SDA, menjual gas, hingga batu bara. &amp;ldquo;Kandungan bahan baku dan energi itu harus diutamakan untuk kebutuhan industri manufaktur lokal. Karena itulah keunggulan kita untuk memacu pertumbuhan dan membangun industri manufaktur,&amp;rdquo; paparnya.Menurutnya, struktur ekspor harus diubah dengan cara memaksimalkan daya saing dan memacu hilirasi. Kalau masih berkutat seperti sekarang, ekspor manufaktur kita tidak akan bisa bertumbuh. &quot;Untuk itu, kita harus membenahi dan mengembangkan tiga hal utama yang menjadi topangan industri. Yakni, bahan baku industri kimia atau refinery petrokimia, energi, dan barang modal,&amp;rdquo; ujarnya.Untuk bahan baku petrokimia, ujar dia, pembangunan refinery harus dipercepat. Setidaknya, untuk menekan impor produk hulu petrokimia yang saat ini mencapai USD5,5 miliar per tahun. Dia menjelaskan, tahun ini, sejumlah persiapan akan dipercepat agar segera selesai. &quot;Pada 2013, dijadwalkan semua program dan strategi-strategi bisa terlaksana dan terealisasi. Perlahan, kita bisa mengubah struktur ekspor secara signifikan. Kalau ini terjadi dan lancar, periode 2017-2018, kita mencapai titik sebagai negara industri, dimana secara struktur ekspor, produk manufaktur teruji kekuangan kontribusinya,&amp;rdquo; tegasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
