<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Industri Reksa Dana Lesu, Ini Alasannya</title><description>Lesunya industri reksa dana terlihat dari pergerakannya akhir tahun lalu sampai saat ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/08/02/278/672320/industri-reksa-dana-lesu-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/08/02/278/672320/industri-reksa-dana-lesu-ini-alasannya"/><item><title>Industri Reksa Dana Lesu, Ini Alasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/08/02/278/672320/industri-reksa-dana-lesu-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/08/02/278/672320/industri-reksa-dana-lesu-ini-alasannya</guid><pubDate>Kamis 02 Agustus 2012 15:29 WIB</pubDate><dc:creator>Yuni Astutik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/08/02/278/672320/DH18qneYpp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Corbis)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/08/02/278/672320/DH18qneYpp.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Corbis)</title></images><description>JAKARTA - PT Schroder Investment Management Indonesia mengungkapkan jika industri reksa dana lesu. Hal itu terlihat dari pergerakannya akhir tahun lalu sampai saat ini.&quot;Industri reksa dana almost flat sejak akhir tahun sampai sekarang. Menurut saya ada kecenderungan orang berhati-hati,&quot; kata Presdir PT Schroder Investment Management Indonesia, Michael T Tjoajadi saat berdiskusi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (2/8/2012).Hal tersebut erat kaitannya dengan kondisi di Eropa yang saat ini sedang dilanda krisis ekonomi. Hal tersbutlah yang membuat sejumlah investor berhati-hati untuk berinvestasi. &quot;Investor berhati-hati untuk melakukan investasi yang lebih agresif di reksa dana,&quot; ungkapnya.Dia mengaku, kondisi pasar juga terpantau sepi, imbas dari krisis yang terjadi di Eropa. Namun, sepinya pasar tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. &quot;Kondisi global juga turun, karena pasar tidak menentu, Indonesia juga kena imbas,&quot; tuturnya.Namun menurutnya, lesunya capital market global maupun regional menjadi peluang bagi capital market Indonesia untuk mempersiapkan diri menyambut masuknya aliran dana asing dengan cara meningkatkan likuiditas pasar.&quot;Peningkatan likuiditas pasar ada beberapa caranya seperti dengan memperbanyak Initial Public Offering (IPO), right issue atau peningkatan porsi pemegang saham publik,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Schroder Investment Management Indonesia mengungkapkan jika industri reksa dana lesu. Hal itu terlihat dari pergerakannya akhir tahun lalu sampai saat ini.&quot;Industri reksa dana almost flat sejak akhir tahun sampai sekarang. Menurut saya ada kecenderungan orang berhati-hati,&quot; kata Presdir PT Schroder Investment Management Indonesia, Michael T Tjoajadi saat berdiskusi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (2/8/2012).Hal tersebut erat kaitannya dengan kondisi di Eropa yang saat ini sedang dilanda krisis ekonomi. Hal tersbutlah yang membuat sejumlah investor berhati-hati untuk berinvestasi. &quot;Investor berhati-hati untuk melakukan investasi yang lebih agresif di reksa dana,&quot; ungkapnya.Dia mengaku, kondisi pasar juga terpantau sepi, imbas dari krisis yang terjadi di Eropa. Namun, sepinya pasar tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. &quot;Kondisi global juga turun, karena pasar tidak menentu, Indonesia juga kena imbas,&quot; tuturnya.Namun menurutnya, lesunya capital market global maupun regional menjadi peluang bagi capital market Indonesia untuk mempersiapkan diri menyambut masuknya aliran dana asing dengan cara meningkatkan likuiditas pasar.&quot;Peningkatan likuiditas pasar ada beberapa caranya seperti dengan memperbanyak Initial Public Offering (IPO), right issue atau peningkatan porsi pemegang saham publik,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
