<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2030, Indonesia Diprediksi Alami Perubahan Besar</title><description>Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas  Indonesia (UI) Dorodjatun Kuntjoro Jakti mengungkapkan pada 2030  Indonesia memiliki posisi istimewa. Sebab pada tahun itu Indonesia  berada di tengah periode &quot;demografic bonus&quot;.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/20/701880/2030-indonesia-diprediksi-alami-perubahan-besar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/20/701880/2030-indonesia-diprediksi-alami-perubahan-besar"/><item><title>2030, Indonesia Diprediksi Alami Perubahan Besar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/20/701880/2030-indonesia-diprediksi-alami-perubahan-besar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/20/701880/2030-indonesia-diprediksi-alami-perubahan-besar</guid><pubDate>Rabu 10 Oktober 2012 14:42 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/10/10/20/701880/SwYvY4X43z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Guru Besar FISIP UI Dorodjatun Kuntjoro Jakti. (Foto: Tokohindonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/10/10/20/701880/SwYvY4X43z.jpg</image><title>Guru Besar FISIP UI Dorodjatun Kuntjoro Jakti. (Foto: Tokohindonesia)</title></images><description>DEPOK - Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Dorodjatun Kuntjoro Jakti mengungkapkan pada 2030 Indonesia memiliki posisi istimewa. Sebab pada tahun itu Indonesia berada di tengah periode &quot;demografic bonus&quot;.Periode itu, kata dia, berlangsung antara 2010 hingga 2040. Demografic bonus merupakan sebuah window of opportunity yang tak terulang kembali, yang tingkat beban ketergantungan Indonesia berada pada posisi terendah.&quot;Sesudah 2040, hal itu akan mulai berakhir dengan segala konsekuensinya. Tidak lama sebelum memasuki periode demographic bonus Indonesia sudah memasuki tahap perkembangan regionalisme ASEAN yang sangat mendasar sifatnya,&quot; katanya saat bedah buku Menerawang Indonesia Pada Dasawarsa Ketiga Abad ke-21, di FISIP UI, Depok, Rabu (10/10/2012).Diperkirakan, Indonesia di 2030 akan sangat ditentukan oleh pencapaian nyata dalam mengejar sasaran sebelum tahun tersebut. Menurutnya, tiga unsur besar penentu nasib bangsa yaitu geografi, demografi, dan sejarah. &quot;Di negara baru di Benua Asia dan Afrika ketiga unsur tersebut merupakan suatu destiny mendasar. Alasannya, para penguasa negara baru tersebut bergelut untuk mengarahkan ke tujuan pembangunan jangka panjang dan mengisi kemerdekaan politik yang berhasil diproleh. Idealisme mereka diadu dengan realisme yang ada dan bersumber dari ketiga unsur tersebut. Sebagian upaya besar tersebut dilakukan dengan menggunana grand design,&quot; paparnya.Menurut Dorodjatun, perubahan yang terjadi saat ini semakin digerakkan oleh kenyataan yang dibarengi dengan luasnya sistem politik demokrasi dan ekonomi pasar terbuka di berbagai kawasan dunia. Perkembangan dari pragmatisme semakin melemahkan peranan ideologi. Setelah 2030, perkembangan dunia semakin sulit diramalkan dengan cara berfikir konvensional.&quot;Ini bukan karena pertarungan ideologi tetapi akibat perubahan cepat yang disesuaikan dengan pragmatisme,&quot; tutup Dorodjatun.</description><content:encoded>DEPOK - Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Dorodjatun Kuntjoro Jakti mengungkapkan pada 2030 Indonesia memiliki posisi istimewa. Sebab pada tahun itu Indonesia berada di tengah periode &quot;demografic bonus&quot;.Periode itu, kata dia, berlangsung antara 2010 hingga 2040. Demografic bonus merupakan sebuah window of opportunity yang tak terulang kembali, yang tingkat beban ketergantungan Indonesia berada pada posisi terendah.&quot;Sesudah 2040, hal itu akan mulai berakhir dengan segala konsekuensinya. Tidak lama sebelum memasuki periode demographic bonus Indonesia sudah memasuki tahap perkembangan regionalisme ASEAN yang sangat mendasar sifatnya,&quot; katanya saat bedah buku Menerawang Indonesia Pada Dasawarsa Ketiga Abad ke-21, di FISIP UI, Depok, Rabu (10/10/2012).Diperkirakan, Indonesia di 2030 akan sangat ditentukan oleh pencapaian nyata dalam mengejar sasaran sebelum tahun tersebut. Menurutnya, tiga unsur besar penentu nasib bangsa yaitu geografi, demografi, dan sejarah. &quot;Di negara baru di Benua Asia dan Afrika ketiga unsur tersebut merupakan suatu destiny mendasar. Alasannya, para penguasa negara baru tersebut bergelut untuk mengarahkan ke tujuan pembangunan jangka panjang dan mengisi kemerdekaan politik yang berhasil diproleh. Idealisme mereka diadu dengan realisme yang ada dan bersumber dari ketiga unsur tersebut. Sebagian upaya besar tersebut dilakukan dengan menggunana grand design,&quot; paparnya.Menurut Dorodjatun, perubahan yang terjadi saat ini semakin digerakkan oleh kenyataan yang dibarengi dengan luasnya sistem politik demokrasi dan ekonomi pasar terbuka di berbagai kawasan dunia. Perkembangan dari pragmatisme semakin melemahkan peranan ideologi. Setelah 2030, perkembangan dunia semakin sulit diramalkan dengan cara berfikir konvensional.&quot;Ini bukan karena pertarungan ideologi tetapi akibat perubahan cepat yang disesuaikan dengan pragmatisme,&quot; tutup Dorodjatun.</content:encoded></item></channel></rss>
