<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Kebanyakan Impor Bikin Manufaktur Kelas Menengah Hilang</title><description>Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang begitu tinggi membuat adanya gap  antara kelas atas dengan kelas bawah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/320/701850/kebanyakan-impor-bikin-manufaktur-kelas-menengah-hilang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/320/701850/kebanyakan-impor-bikin-manufaktur-kelas-menengah-hilang"/><item><title> Kebanyakan Impor Bikin Manufaktur Kelas Menengah Hilang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/320/701850/kebanyakan-impor-bikin-manufaktur-kelas-menengah-hilang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/10/10/320/701850/kebanyakan-impor-bikin-manufaktur-kelas-menengah-hilang</guid><pubDate>Rabu 10 Oktober 2012 14:13 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/10/10/320/701850/2UUyYTsZWn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Corbis)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/10/10/320/701850/2UUyYTsZWn.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Corbis)</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang begitu tinggi membuat adanya gap antara kelas atas dengan kelas bawah. Pasalnya, dahulu Indonesia tidak mempunyai industri kelas menengah di Indonesia. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, mengungkapkan hilangnya kelas menengah (middle missing), dikarenakan sulitnya usaha kecil untuk merangkak ke arah perusahaan kelas menengah. Hal ini bukan saja dipengaruhi oleh tenaga kerja. &quot;Bukan karena labour (tenaga kerja) saja, tapi juga memang faktor-faktor di sini, persoalan kita kelas menengah itulah yang sebenarnya dulu kita tidak punya, karena semua kita impor,&quot; ujar dia pada Seminar World Bank di Gedung Graha Niaga Jakarta Jakarta, Rabu (10/10/2012).Sofjan mengatakan, komponen-komponen ini harus masuk dalam perusahaan-perusahaan menengah agar pedagang-pedagang kecil bisa naik pangkat. Sehingga komponen-komponen tersebut tidak lagi didatangkan dari luar negeri. &quot;(Perusahaan) ini bisa bikin kelas menengah kita bertambah,&quot; jelas dia.Menurut dia, pertambahan kelas menengah Indonesia bukan hanya harus berada pada pendapatan di sektor manufakturing saja, namun juga banyak bertambah dari service industries.&quot;Ya bikin restoran, dan segala macam seperti mal-mal, ritel-ritel, jadi semua ke situ mainnya. Tapi itu tidak membuat banyak masuk di situ tenaga kerja,&quot; ujar Sofjan.</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang begitu tinggi membuat adanya gap antara kelas atas dengan kelas bawah. Pasalnya, dahulu Indonesia tidak mempunyai industri kelas menengah di Indonesia. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, mengungkapkan hilangnya kelas menengah (middle missing), dikarenakan sulitnya usaha kecil untuk merangkak ke arah perusahaan kelas menengah. Hal ini bukan saja dipengaruhi oleh tenaga kerja. &quot;Bukan karena labour (tenaga kerja) saja, tapi juga memang faktor-faktor di sini, persoalan kita kelas menengah itulah yang sebenarnya dulu kita tidak punya, karena semua kita impor,&quot; ujar dia pada Seminar World Bank di Gedung Graha Niaga Jakarta Jakarta, Rabu (10/10/2012).Sofjan mengatakan, komponen-komponen ini harus masuk dalam perusahaan-perusahaan menengah agar pedagang-pedagang kecil bisa naik pangkat. Sehingga komponen-komponen tersebut tidak lagi didatangkan dari luar negeri. &quot;(Perusahaan) ini bisa bikin kelas menengah kita bertambah,&quot; jelas dia.Menurut dia, pertambahan kelas menengah Indonesia bukan hanya harus berada pada pendapatan di sektor manufakturing saja, namun juga banyak bertambah dari service industries.&quot;Ya bikin restoran, dan segala macam seperti mal-mal, ritel-ritel, jadi semua ke situ mainnya. Tapi itu tidak membuat banyak masuk di situ tenaga kerja,&quot; ujar Sofjan.</content:encoded></item></channel></rss>
