<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Usai Krisis Global, Negara Berkembang dalam Bahaya</title><description>Pengelola dana-dana ekses tersebut akan menarik dana-dana mereka dari  pasar uang dan negara-negara berkembang seperti Indonesia yang  pertumbuhan ekonominya pesat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/10/15/20/704133/usai-krisis-global-negara-berkembang-dalam-bahaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/10/15/20/704133/usai-krisis-global-negara-berkembang-dalam-bahaya"/><item><title> Usai Krisis Global, Negara Berkembang dalam Bahaya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/10/15/20/704133/usai-krisis-global-negara-berkembang-dalam-bahaya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/10/15/20/704133/usai-krisis-global-negara-berkembang-dalam-bahaya</guid><pubDate>Senin 15 Oktober 2012 15:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/10/15/20/704133/dy74AJD9z2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Corbis)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/10/15/20/704133/dy74AJD9z2.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Corbis)</title></images><description>JAKARTA - Krisis keuangan yang menghantam kawasan Eropa memang belum menemukan titik terang. Namun, jika krisis mereda, maka pasar keuangan negara berkembang diprediksi turun tajam.Pengamat ekonomi Fauzi Ichsan mengatakan, hal ini disebabkan penyerapan likuiditas di sektor riil lambat. Menurutnya, pada semester I-2013 krisis euro mulai mereda, membuat Yunani, Spanyol dan Italia risko investasinya mengecil.Otomatis, pengelola dana-dana ekses tersebut akan menarik dana-dana mereka dari pasar uang dan negara-negara berkembang seperti Indonesia yang pertumbuhan ekonominya pesat.&quot;Masalahnya, negara-negara seperti Indonesia, pertumbuhannya pesat tetapi tidak cukup pesat untuk menyerap likuiditasnya ke sektor rill sehingga eksesnya akan masuk ke sektor finansial, yakni pasar saham dan obligasi,&quot; kata dia dalam seminar 'Indonesia Economic Quarterly', di Energy Tower, SCBD, Jakarta, Senin (15/10/2012).Selain itu, dia mengungkapkan ada satu titik di mana harga aset di pasar keuangan akan naik tajam, dan Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunganya. Hal ini akan menciptakan asset bubble, di mana pasar keuangan di negara berkembang tersebut akan turun tajam.Menurut dia, pada dasarnya bank sentral di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang diperkirakan akan memberlakukan kebijakan suku bunga yang sangat rendah dalam 18-24 bulan ke depan. Selain suku bunga yang rendah mereka diperkirakan akan terus melakukan suntikan likuiditas.&quot;Kebijakan penyuntikan likuiditas ke pasar finansialnya, di AS melalui QE, di Eropa melalui pembelian surat-surat utang negara yang bermasalah, seperti Yunani dan Italia, untuk sementara kebijakan-kebijakan tersebut menciptakan ekses likuiditas,&quot; ujar Fauzi.Dia menjelaskan, ekses likuiditas itu sementara ini terparkir di pasar uang dan di pasar US treasury karena adanya krisis euro. &quot;Jadi si pengelola-pengelola dana ini masih belum berani untuk mengalokasikan dana tersebut lebih banyak di pasar modal,&quot; tukas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Krisis keuangan yang menghantam kawasan Eropa memang belum menemukan titik terang. Namun, jika krisis mereda, maka pasar keuangan negara berkembang diprediksi turun tajam.Pengamat ekonomi Fauzi Ichsan mengatakan, hal ini disebabkan penyerapan likuiditas di sektor riil lambat. Menurutnya, pada semester I-2013 krisis euro mulai mereda, membuat Yunani, Spanyol dan Italia risko investasinya mengecil.Otomatis, pengelola dana-dana ekses tersebut akan menarik dana-dana mereka dari pasar uang dan negara-negara berkembang seperti Indonesia yang pertumbuhan ekonominya pesat.&quot;Masalahnya, negara-negara seperti Indonesia, pertumbuhannya pesat tetapi tidak cukup pesat untuk menyerap likuiditasnya ke sektor rill sehingga eksesnya akan masuk ke sektor finansial, yakni pasar saham dan obligasi,&quot; kata dia dalam seminar 'Indonesia Economic Quarterly', di Energy Tower, SCBD, Jakarta, Senin (15/10/2012).Selain itu, dia mengungkapkan ada satu titik di mana harga aset di pasar keuangan akan naik tajam, dan Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunganya. Hal ini akan menciptakan asset bubble, di mana pasar keuangan di negara berkembang tersebut akan turun tajam.Menurut dia, pada dasarnya bank sentral di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang diperkirakan akan memberlakukan kebijakan suku bunga yang sangat rendah dalam 18-24 bulan ke depan. Selain suku bunga yang rendah mereka diperkirakan akan terus melakukan suntikan likuiditas.&quot;Kebijakan penyuntikan likuiditas ke pasar finansialnya, di AS melalui QE, di Eropa melalui pembelian surat-surat utang negara yang bermasalah, seperti Yunani dan Italia, untuk sementara kebijakan-kebijakan tersebut menciptakan ekses likuiditas,&quot; ujar Fauzi.Dia menjelaskan, ekses likuiditas itu sementara ini terparkir di pasar uang dan di pasar US treasury karena adanya krisis euro. &quot;Jadi si pengelola-pengelola dana ini masih belum berani untuk mengalokasikan dana tersebut lebih banyak di pasar modal,&quot; tukas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
