<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Menkeu: Sulit Hapus Kepemilikan Asing di SBN</title><description>Pemerintah berencana mengurangi kepemilikan asing dalam Surat Berharga  Negara (SBN). Namun, porsi asing dalam SBN sulit dihilangkan dari  obligasi negara.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/11/22/20/721849/menkeu-sulit-hapus-kepemilikan-asing-di-sbn</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/11/22/20/721849/menkeu-sulit-hapus-kepemilikan-asing-di-sbn"/><item><title> Menkeu: Sulit Hapus Kepemilikan Asing di SBN</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/11/22/20/721849/menkeu-sulit-hapus-kepemilikan-asing-di-sbn</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/11/22/20/721849/menkeu-sulit-hapus-kepemilikan-asing-di-sbn</guid><pubDate>Kamis 22 November 2012 15:59 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/11/22/20/721849/9aOElMtF7A.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/11/22/20/721849/9aOElMtF7A.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah berencana mengurangi kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara (SBN). Namun, porsi asing dalam SBN sulit dihilangkan dari obligasi negara.&quot;Secondary market itu kan bebas, dan tidak bisa kita atur. Itu fenomena permintaan di seluruh Asia, sekarang di Thailand, Asia itu 30 persen kepemilikan bonds dimiliki asing,&quot; ujar Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (22/11/2012).Dia menambahkan, negara maju saat ini masih menerapkan zero interest. Sehingga, dana asing tersebut masuk ke obligasi negara emerging market yang mempunyai fundamental bagus seperti Indonesia. &quot;Kita mungkin dari pemerintah memberikan regulasi seperti untuk dana pensiun, asuransi, reksa dana itu dengan insentif,&quot; ujar Agus.Namun, pada 2013 Agus mengatakan, porsi penerbitan SBN akan dibatasi sekira 20 persen untuk valas, dan 80 persen rupiah. &quot;Maksimal 20 persen lah valasnya. Kami masih punya waktu sampai akhir tahun untuk bisa menetapkan berapa porsi valas, berapa porsi rupiah, dan berapa yang syariah dan berapa yang konvensional,&quot; tuturnya.Dia menambahkan, bagi investor lokal yang ingin membeli bond pemerintah dengan nominasi rupiah, dapat masuk melalui bank nasional, baik BUMN maupun non-BUMN. Adapun posisi tersbesar, yakni 38 persen dari bank nasional, kedua terbesar investor asing, setelah itu asuransi dan dana pensiun. &quot;Ini market yang enggak bisa diatur-atur, kalau pemerintah kan primary market, mungkin lewat tax insentif kalau mau,&quot; tukasn</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah berencana mengurangi kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara (SBN). Namun, porsi asing dalam SBN sulit dihilangkan dari obligasi negara.&quot;Secondary market itu kan bebas, dan tidak bisa kita atur. Itu fenomena permintaan di seluruh Asia, sekarang di Thailand, Asia itu 30 persen kepemilikan bonds dimiliki asing,&quot; ujar Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (22/11/2012).Dia menambahkan, negara maju saat ini masih menerapkan zero interest. Sehingga, dana asing tersebut masuk ke obligasi negara emerging market yang mempunyai fundamental bagus seperti Indonesia. &quot;Kita mungkin dari pemerintah memberikan regulasi seperti untuk dana pensiun, asuransi, reksa dana itu dengan insentif,&quot; ujar Agus.Namun, pada 2013 Agus mengatakan, porsi penerbitan SBN akan dibatasi sekira 20 persen untuk valas, dan 80 persen rupiah. &quot;Maksimal 20 persen lah valasnya. Kami masih punya waktu sampai akhir tahun untuk bisa menetapkan berapa porsi valas, berapa porsi rupiah, dan berapa yang syariah dan berapa yang konvensional,&quot; tuturnya.Dia menambahkan, bagi investor lokal yang ingin membeli bond pemerintah dengan nominasi rupiah, dapat masuk melalui bank nasional, baik BUMN maupun non-BUMN. Adapun posisi tersbesar, yakni 38 persen dari bank nasional, kedua terbesar investor asing, setelah itu asuransi dan dana pensiun. &quot;Ini market yang enggak bisa diatur-atur, kalau pemerintah kan primary market, mungkin lewat tax insentif kalau mau,&quot; tukasn</content:encoded></item></channel></rss>
