<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KTT-8, Kekuatan Alternatif Atasi Krisis Ekonomi Global</title><description>Pertemuan delapan kepala negara yang tergabung dalam Developing-Eight  (D-8), termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Islamabad,  Pakistan dalam Summit (KTT) ke-8 dapat mempengaruhi percaturan ekonomi  global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/11/24/20/722581/ktt-8-kekuatan-alternatif-atasi-krisis-ekonomi-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/11/24/20/722581/ktt-8-kekuatan-alternatif-atasi-krisis-ekonomi-global"/><item><title>KTT-8, Kekuatan Alternatif Atasi Krisis Ekonomi Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/11/24/20/722581/ktt-8-kekuatan-alternatif-atasi-krisis-ekonomi-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/11/24/20/722581/ktt-8-kekuatan-alternatif-atasi-krisis-ekonomi-global</guid><pubDate>Sabtu 24 November 2012 10:23 WIB</pubDate><dc:creator>Rohmat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/11/23/20/722581/s6YRFUx4co.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/11/23/20/722581/s6YRFUx4co.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: okezone)</title></images><description>DENPASAR - Pertemuan delapan kepala negara yang tergabung dalam Developing-Eight (D-8), termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Islamabad, Pakistan dalam Summit (KTT) ke-8 dapat mempengaruhi percaturan ekonomi global.KTT D-8 kali ini mengambil tema besar, Democrratic Partnership for Peace and Prosperity. Tema besar ini menunjukkan adanya keinginan dari ke-8 negara tersebut untuk memastikan proses demokrasi berbanding lurus dengan kedamaian dan kesejahteraan.&quot;Indonesia sebagai salah satu negara anggota D-8 punya peluang besar untuk bersama negara-negara anggota lainnya, seperti Mesir, Pakistan, Banglades, Malaysia, Turki, Iran, dan Nigeria memastikan agenda penting tersebut,&quot; kata dosen Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta, A Bakir Ihsan kepada Okezone, Jumat (23/11/2012) malam.Bakir yang hadir dalam pertemuan tersebut menambahkan, KTT D-8 sebenarnya bisa menjadi kekuatan strategis karena dua alasan. Pertama, secara politik dari delapan negara yang tergabung dalam D-8 relatif stabil.Kedua, ekonomi masing-masing negara relatif cukup baik. Bahkan Indonesia termasuk 16 besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Bersama Turki, Indonesia menjadi anggota G-20, sebuah perkumpulan 20 negara dengan tingkat perekonomiannya terbesar di dunia.&quot;Dengan modal tersebut sejatinya D-8 bisa berperan lebih aktif dalam percaturan ekonomi global, karena misi awal D-8 ini adalah meningkatkan posisi negara-negara anggotanya menghadapi kekuatan ekonomi global (improve member state&amp;rsquo;s position in the global economy),&quot; paparnya.Bahkan, pertemuan tersebut bisa menjadi kekuatan alternatif di tengah ancaman krisis finansial global saat ini. Untuk menghadapi ekonomi global tentu diperlukan penguatan ekonomi nasional masing-masing negara anggota D-8.Menurut Bakir, penguatan di sini tidak hanya terkait dengan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah pemerataan sebagai basis terciptanya kesejahteraan bagi semua. Karena itu, tema KTT D-8 kali ini secara tidak langsung menyadari pentingnya hal tersebut, yaitu perdamaian dan kesejahteraan (peace and prosperity) bagi semua.&quot;Inilah bagian penting di tengah hiruk pikuk demokrasi di berbagai belahan dunia, yaitu perdamaian dan kesejahteraan yang masih memerlukan perjuangan keras untuk mewujudkannya secara lebih efektif,&quot; pungkas staf khusus Presiden SBY ini.</description><content:encoded>DENPASAR - Pertemuan delapan kepala negara yang tergabung dalam Developing-Eight (D-8), termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Islamabad, Pakistan dalam Summit (KTT) ke-8 dapat mempengaruhi percaturan ekonomi global.KTT D-8 kali ini mengambil tema besar, Democrratic Partnership for Peace and Prosperity. Tema besar ini menunjukkan adanya keinginan dari ke-8 negara tersebut untuk memastikan proses demokrasi berbanding lurus dengan kedamaian dan kesejahteraan.&quot;Indonesia sebagai salah satu negara anggota D-8 punya peluang besar untuk bersama negara-negara anggota lainnya, seperti Mesir, Pakistan, Banglades, Malaysia, Turki, Iran, dan Nigeria memastikan agenda penting tersebut,&quot; kata dosen Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta, A Bakir Ihsan kepada Okezone, Jumat (23/11/2012) malam.Bakir yang hadir dalam pertemuan tersebut menambahkan, KTT D-8 sebenarnya bisa menjadi kekuatan strategis karena dua alasan. Pertama, secara politik dari delapan negara yang tergabung dalam D-8 relatif stabil.Kedua, ekonomi masing-masing negara relatif cukup baik. Bahkan Indonesia termasuk 16 besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Bersama Turki, Indonesia menjadi anggota G-20, sebuah perkumpulan 20 negara dengan tingkat perekonomiannya terbesar di dunia.&quot;Dengan modal tersebut sejatinya D-8 bisa berperan lebih aktif dalam percaturan ekonomi global, karena misi awal D-8 ini adalah meningkatkan posisi negara-negara anggotanya menghadapi kekuatan ekonomi global (improve member state&amp;rsquo;s position in the global economy),&quot; paparnya.Bahkan, pertemuan tersebut bisa menjadi kekuatan alternatif di tengah ancaman krisis finansial global saat ini. Untuk menghadapi ekonomi global tentu diperlukan penguatan ekonomi nasional masing-masing negara anggota D-8.Menurut Bakir, penguatan di sini tidak hanya terkait dengan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah pemerataan sebagai basis terciptanya kesejahteraan bagi semua. Karena itu, tema KTT D-8 kali ini secara tidak langsung menyadari pentingnya hal tersebut, yaitu perdamaian dan kesejahteraan (peace and prosperity) bagi semua.&quot;Inilah bagian penting di tengah hiruk pikuk demokrasi di berbagai belahan dunia, yaitu perdamaian dan kesejahteraan yang masih memerlukan perjuangan keras untuk mewujudkannya secara lebih efektif,&quot; pungkas staf khusus Presiden SBY ini.</content:encoded></item></channel></rss>
