<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Masih Lebih Baik dari ASEAN</title><description>Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3 persen dinilai masih tertinggi  di ASEAN atau lebih baik dibandingkan dengan India dan China.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/12/17/20/733291/ekonomi-ri-masih-lebih-baik-dari-asean</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/12/17/20/733291/ekonomi-ri-masih-lebih-baik-dari-asean"/><item><title>Ekonomi RI Masih Lebih Baik dari ASEAN</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/12/17/20/733291/ekonomi-ri-masih-lebih-baik-dari-asean</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/12/17/20/733291/ekonomi-ri-masih-lebih-baik-dari-asean</guid><pubDate>Senin 17 Desember 2012 15:12 WIB</pubDate><dc:creator>Rizkie Fauzian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/12/17/20/733291/rrEQTVql7B.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/12/17/20/733291/rrEQTVql7B.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3 persen dinilai masih tertinggi di ASEAN atau lebih baik dibandingkan dengan India yang menurun ke 5,6 persen dan China yang bertahan di 7,6 persen.Namun basis pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih kurang produktif karena dinikmati&amp;nbsp;sektor yang bukan padat karya&amp;nbsp;serta&amp;nbsp;koefisien gini Indonesia&amp;nbsp;terburuk&amp;nbsp;(ketimpangan pendapatan) mencapai&amp;nbsp;titik tertinggi 0,41&amp;nbsp;sejak 1964.Sementara untuk target inflasi Indonesia di akhir 2012 adalah di bawah&amp;nbsp;4,5 persen&amp;nbsp;dengan BI Rate di&amp;nbsp;5,75 persen. Adapun&amp;nbsp;inflasi tahun ini adalah artifisial&amp;nbsp;karena ditopang oleh subsidi energi sebesar Rp306 triliun atau 20 persen dari APBN-P 2012 selain itu dipengaruhi oleh harga komoditas yang turun.Menurut Head of Research KSK Financial Group, David Cornelis, tahun depan inflasi akan merangkak naik ke 5,5 persen&amp;nbsp;dengan asumsi kenaikan 20 persen upah minimum provinsi dan kenaikan tarif listrik, dengan&amp;nbsp;target pesimis inflasi dua kali lipat tahun ini ke&amp;nbsp;delapan persen&amp;nbsp;jika tertaut efek rantai inflasi karena harga BBM yang ikut dinaikkan bersamaan.&amp;nbsp;&quot;Untuk tahun ini, neraca perdagangan Indonesia&amp;nbsp;sudah&amp;nbsp;empat kali mencetak defisit, dan yang&amp;nbsp;terburuk terjadi pada Oktober&amp;nbsp;lalu sebesar Rp1,54 miliar dolar dan&amp;nbsp;di Oktober pula untuk pertama kalinya&amp;nbsp;neraca perdagangan tahun berjalan 2012 mengalami defisit, yang perlu dikhawatirkan adalah impor yang tinggi dalam&amp;nbsp;jangka menengah&amp;nbsp;karena memicu inflasi dari&amp;nbsp;sisi penawaran,&quot; kata David, kepada Okezone, Senin (17/12/2012). &amp;nbsp;Di sisi lain,&amp;nbsp;ekspor menembus triliunan rupiah&amp;nbsp;namun&amp;nbsp;sayangnya hampir 2/3-nya merupakan komoditas, sehingga industri hilir kurang berkembang. Keberlanjutan fiskal tahun depan&amp;nbsp;menjadi perhatian khusus&amp;nbsp;dengan anggaran sebesar Rp1.683 triliun dengan defisit anggaran 1,65 persen.&quot;Namun&amp;nbsp;belanja infrastruktur&amp;nbsp;sebesar Rp204 triliun&amp;nbsp;masih dianaktirikan ketimbang subsidi total&amp;nbsp;Rp317 triliun, yang lebih parahnya lagi, sudah lebih sedikit dari subsidi, belanja modal baru terserap hanya 51,6 persen dengan sisa waktu hanya satu bulan lagi di 2012,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3 persen dinilai masih tertinggi di ASEAN atau lebih baik dibandingkan dengan India yang menurun ke 5,6 persen dan China yang bertahan di 7,6 persen.Namun basis pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih kurang produktif karena dinikmati&amp;nbsp;sektor yang bukan padat karya&amp;nbsp;serta&amp;nbsp;koefisien gini Indonesia&amp;nbsp;terburuk&amp;nbsp;(ketimpangan pendapatan) mencapai&amp;nbsp;titik tertinggi 0,41&amp;nbsp;sejak 1964.Sementara untuk target inflasi Indonesia di akhir 2012 adalah di bawah&amp;nbsp;4,5 persen&amp;nbsp;dengan BI Rate di&amp;nbsp;5,75 persen. Adapun&amp;nbsp;inflasi tahun ini adalah artifisial&amp;nbsp;karena ditopang oleh subsidi energi sebesar Rp306 triliun atau 20 persen dari APBN-P 2012 selain itu dipengaruhi oleh harga komoditas yang turun.Menurut Head of Research KSK Financial Group, David Cornelis, tahun depan inflasi akan merangkak naik ke 5,5 persen&amp;nbsp;dengan asumsi kenaikan 20 persen upah minimum provinsi dan kenaikan tarif listrik, dengan&amp;nbsp;target pesimis inflasi dua kali lipat tahun ini ke&amp;nbsp;delapan persen&amp;nbsp;jika tertaut efek rantai inflasi karena harga BBM yang ikut dinaikkan bersamaan.&amp;nbsp;&quot;Untuk tahun ini, neraca perdagangan Indonesia&amp;nbsp;sudah&amp;nbsp;empat kali mencetak defisit, dan yang&amp;nbsp;terburuk terjadi pada Oktober&amp;nbsp;lalu sebesar Rp1,54 miliar dolar dan&amp;nbsp;di Oktober pula untuk pertama kalinya&amp;nbsp;neraca perdagangan tahun berjalan 2012 mengalami defisit, yang perlu dikhawatirkan adalah impor yang tinggi dalam&amp;nbsp;jangka menengah&amp;nbsp;karena memicu inflasi dari&amp;nbsp;sisi penawaran,&quot; kata David, kepada Okezone, Senin (17/12/2012). &amp;nbsp;Di sisi lain,&amp;nbsp;ekspor menembus triliunan rupiah&amp;nbsp;namun&amp;nbsp;sayangnya hampir 2/3-nya merupakan komoditas, sehingga industri hilir kurang berkembang. Keberlanjutan fiskal tahun depan&amp;nbsp;menjadi perhatian khusus&amp;nbsp;dengan anggaran sebesar Rp1.683 triliun dengan defisit anggaran 1,65 persen.&quot;Namun&amp;nbsp;belanja infrastruktur&amp;nbsp;sebesar Rp204 triliun&amp;nbsp;masih dianaktirikan ketimbang subsidi total&amp;nbsp;Rp317 triliun, yang lebih parahnya lagi, sudah lebih sedikit dari subsidi, belanja modal baru terserap hanya 51,6 persen dengan sisa waktu hanya satu bulan lagi di 2012,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
