<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menipiskan Bunga Kredit</title><description>Sungguh tiada henti Bank Indonesia (BI) menyampaikan imbauan kepada bank  nasional untuk terus menipiskan suku bunga kredit. Hal ini bertujuan  untuk memikat sektor riil agar lebih menikmati kredit perbankan  nasional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2012/12/20/279/734755/menipiskan-bunga-kredit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2012/12/20/279/734755/menipiskan-bunga-kredit"/><item><title>Menipiskan Bunga Kredit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2012/12/20/279/734755/menipiskan-bunga-kredit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2012/12/20/279/734755/menipiskan-bunga-kredit</guid><pubDate>Kamis 20 Desember 2012 10:23 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SI</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/12/20/279/734755/zQBlNwCFz5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/12/20/279/734755/zQBlNwCFz5.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: okezone)</title></images><description>Sungguh tiada henti Bank Indonesia (BI) menyampaikan imbauan kepada bank nasional untuk terus menipiskan suku bunga kredit. Hal ini bertujuan untuk memikat sektor riil agar lebih menikmati kredit perbankan nasional.Masalahnya, bagaimana mendorong suku bunga kredit supaya lebih tipis lagi di tengah pelambatan ekonomi global? Laporan keuangan per kuartal III 2012 menunjukkan bank nasional papan atas sedang panen raya. Tengok saja BRI yang mampu mengerek laba bersih 26 persen dari tahun sebelumnya, tahun ini laba BRI Rp13,17 triliun.Luar biasa! Kinerja cemerlang itu jauh melewati laba bersih Bank Mandiri yang melesat 21,2 persen dari tahun lalu (menjadi Rp11,1 triliun), BCA 14 persen naik menjadi Rp8,3 triliun, BNI 24,5 persen naik menjadi Rp5,03 triliun, CIMB Niaga 30 persen naik menjadi Rp3,1 triliun, Bank Danamon Indonesia 22,17 persen naik menjadi Rp2,99 triliun, BTPN 50,37 persen menjadi Rp1,44 triliun, Bank Permata 16 persen menjadi Rp1,09 triliun, BTN 45,10 persen naik menjadi Rp1,02 triliun, BII 66 persen naik menjadi Rp922 miliar, OCBC NISP 26 persen naik menjadi Rp656 miliar.Bagaimana kinerja bank umum sebagai representasi enam kelompok bank? Statistik Perbankan Indonesia per Oktober 2012 yang terbit pada 12 Desember 2012 mencatat bahwa kredit tumbuh subur 22,40 persen dari Rp2.028,14 triliun per Oktober 2011 menjadi Rp2.482,52 triliun per Oktober 2012.Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pun tak kalah subur 18,39 persen dari Rp2.502,99 triliun menjadi Rp2.963,23 triliun.Pertumbuhan itu telah membuat loan to deposit ratio (LDR) menebal dari 81,03 persen menjadi 83,78 persen. Maknanya, bank umum telah melampaui LDR minimal 78 persen seperti disyaratkan oleh BI untuk menggenjot kinerja kredit perbankan nasional dengan kisaran LDR 78-100 persen. Apa artinya LDR minimal 78 persen? Artinya, manakala suatu bank dapat menghimpun DPK Rp100 triliun, bank tersebut wajib menyalurkan kredit minimal Rp78 triliun.Bagaimana LDR kelompok bank lainnya? Kelompok bank yang telah memenuhi syarat minimal 78 persen adalah bank campuran 112,12 persen, bank asing 107,55 persen, bank persero 83,72 persen, bank umum swasta nasional (BUSN) nondevisa 85,01 persen dan BUSN devisa 82,22 persen. Ringkas tutur, kelompok bank itu sanggup menunaikan fungsi mereka sebagai intermediasi keuangan. Hanya BPD yang belum memenuhi syarat itu dengan LDR 66,28 persen di tengah rata-rata 83,78 persen.Langkah StrategisDengan kinerja cantik itu, apakah suku bunga kredit dapat makin menipis? Sungguh, BI telah memainkan berbagai jurus untuk menurunkan suku bunga kredit dari menekan suku bunga deposito, penghasilan bunga bersih (net interest margin/NIM) hingga menerbitkan kebijakan suku bunga dasar kredit (SBDK/prime lending rates).Lantas, bagaimana menipiskan suku bunga kredit? Pertama, terus menekan suku bunga dasar kredit (SBDK). Ketika kebijakan SBDK berlaku efektif 31 Maret 2011, suku bunga rata-rata kredit bank umum mencapai 13,57 persen (rupiah) per Maret 2011 menjadi 11,69 persen per Oktober 2012 untuk kredit modal kerja. Jadi, suku bunga rata-rata kredit menipis 188 basis point (bps) atau 1,88 persen.Sementara itu, suku bunga rata-rata kredit untuk kredit investasi mencapai 12,19 persen (rupiah) per Maret 2011 menjadi 11,30 persen atau menurun 89 bps atau 0,89 persen per Oktober 2012. Untuk kredit konsumsi, menipis dari 15,70 persen (rupiah) menjadi 13,60 persen atau menurun 210 bps (2,10 persen) pada periode yang sama. Penipisan suku bunga kredit itu menegaskan bahwa SBDK mulai berjalan meskipun pelan.Menurut Tinjauan Kebijakan Moneter yang terbit 8 November 2012, SBDK menurun di hampir seluruh segmen kecuali korporasi. SBDK per September 2012 untuk korporasi dan ritel masing-masing tercatat 9,75 persen dan 11,03 persen. Sementara itu, SBDK untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan non-KPR masing-masing 10,45 persen dan 10,67 persen.Selama ini, BI hanya melaporkan SBDK per bank bukan SBDK rata-rata per bulan. Karena itu, sepatutnya BI melaporkan SBDK rata-rata setiap bulan sebagai indikator untuk mengukur sejauh mana kinerja SBDK. Kedua, menetapkan target SBDK. Seperti target inflasi, BI pun dapat menetapkan target SBDK setiap tahun. Hal ini lebih taktis dalam mengetahui sejauh mana kinerja SBDK pada tahun berjalan.Pada pertemuan tahunan perbankan pada 23 November 2012, Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan pada pidatonya (butir 35) &quot;Hasil SBDK sudah tampak pada penurunan suku bunga kredit secara bertahap, meskipun belum optimal. Lapisan masyarakat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), misalnya, masih harus menanggung beban suku bunga pinjaman kredit mikro sekira 30 persen&quot;.Oleh sebab itu, BI dapat mewajibkan bank nasional untuk memasukkan rencana penurunan SBDK secara bertahap dalam rencana bisnis bank (RBB) setiap tahun. Hal ini bertujuan untuk menanggapi target SBDK tersebut. Sarinya, terdapat dua sisi target yang patut disasar, yakni sisi BI dan bank nasional. Klop. Kiat ini akan membantu untuk menipiskan suku bunga kredit mikro tersebut. Ketiga, memperpendek selisih (spread) antara suku bunga kredit dan suku bunga simpanan.Data BI mencatat rata-rata suku bunga kredit dan suku bunga deposito satu bulan masing-masing 12,2 persen dan 5,4 persen per Oktober 2012. Artinya, terdapat selisih 6,84 persen. Selisih itu selayaknya terus ditekan hingga mencapai 5 persen. Ini sejatinya masih lebih tinggi daripada selisih bank-bank Malaysia (3,54 persen), Thailand (4 persen), Filipina (1,21 persen), dan Korea Selatan (2,44 persen). Keempat, menaikkan tingkat efisiensi.Kini tingkat efisiensi yang tampak pada rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bank umum tampak terus membaik dari 86,44 persen per Oktober 2011 menjadi 74,02 persen per Oktober 2012. Angka ini termasuk rasio ideal, 70-80 persen. Namun angka itu masih kalah jauh bila dibandingkan dengan BOPO bankbank Asia Tenggara yang mencapai 40-60 persen. Karena itu, BOPO bank nasional wajib ditekan hingga 60-70 persen.Hal ini sekaligus untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) yang akan berlaku efektif pada 2015. Dengan demikian, bank nasional bakal lebih mampu bersaing dengan bank asing yang bermodal perkasa, tingkat efisiensi tinggi, dan kualitas aset tinggi. Dengan aneka langkah strategis demikian, suku bunga kredit bank nasional masih memiliki ruang untuk lebih ramping lagi.Pada gilirannya sektor riil pun akan makin melaju dengan memanfaatkan kredit perbankan. Hal ini sangat diharapkan mampu menggenjot sekaligus menyuburkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 6,3 persen pada kuartal IV-2012. Alhasil, pertumbuhan ekonomi nasional yang setinggi itu diharapkan sanggup menekan tingkat pengangguran 6,14 persen per Agustus 2012.PAUL SUTARYONOPengamat Perbankan &amp;amp;Mantan Assistant Vice President BNI</description><content:encoded>Sungguh tiada henti Bank Indonesia (BI) menyampaikan imbauan kepada bank nasional untuk terus menipiskan suku bunga kredit. Hal ini bertujuan untuk memikat sektor riil agar lebih menikmati kredit perbankan nasional.Masalahnya, bagaimana mendorong suku bunga kredit supaya lebih tipis lagi di tengah pelambatan ekonomi global? Laporan keuangan per kuartal III 2012 menunjukkan bank nasional papan atas sedang panen raya. Tengok saja BRI yang mampu mengerek laba bersih 26 persen dari tahun sebelumnya, tahun ini laba BRI Rp13,17 triliun.Luar biasa! Kinerja cemerlang itu jauh melewati laba bersih Bank Mandiri yang melesat 21,2 persen dari tahun lalu (menjadi Rp11,1 triliun), BCA 14 persen naik menjadi Rp8,3 triliun, BNI 24,5 persen naik menjadi Rp5,03 triliun, CIMB Niaga 30 persen naik menjadi Rp3,1 triliun, Bank Danamon Indonesia 22,17 persen naik menjadi Rp2,99 triliun, BTPN 50,37 persen menjadi Rp1,44 triliun, Bank Permata 16 persen menjadi Rp1,09 triliun, BTN 45,10 persen naik menjadi Rp1,02 triliun, BII 66 persen naik menjadi Rp922 miliar, OCBC NISP 26 persen naik menjadi Rp656 miliar.Bagaimana kinerja bank umum sebagai representasi enam kelompok bank? Statistik Perbankan Indonesia per Oktober 2012 yang terbit pada 12 Desember 2012 mencatat bahwa kredit tumbuh subur 22,40 persen dari Rp2.028,14 triliun per Oktober 2011 menjadi Rp2.482,52 triliun per Oktober 2012.Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pun tak kalah subur 18,39 persen dari Rp2.502,99 triliun menjadi Rp2.963,23 triliun.Pertumbuhan itu telah membuat loan to deposit ratio (LDR) menebal dari 81,03 persen menjadi 83,78 persen. Maknanya, bank umum telah melampaui LDR minimal 78 persen seperti disyaratkan oleh BI untuk menggenjot kinerja kredit perbankan nasional dengan kisaran LDR 78-100 persen. Apa artinya LDR minimal 78 persen? Artinya, manakala suatu bank dapat menghimpun DPK Rp100 triliun, bank tersebut wajib menyalurkan kredit minimal Rp78 triliun.Bagaimana LDR kelompok bank lainnya? Kelompok bank yang telah memenuhi syarat minimal 78 persen adalah bank campuran 112,12 persen, bank asing 107,55 persen, bank persero 83,72 persen, bank umum swasta nasional (BUSN) nondevisa 85,01 persen dan BUSN devisa 82,22 persen. Ringkas tutur, kelompok bank itu sanggup menunaikan fungsi mereka sebagai intermediasi keuangan. Hanya BPD yang belum memenuhi syarat itu dengan LDR 66,28 persen di tengah rata-rata 83,78 persen.Langkah StrategisDengan kinerja cantik itu, apakah suku bunga kredit dapat makin menipis? Sungguh, BI telah memainkan berbagai jurus untuk menurunkan suku bunga kredit dari menekan suku bunga deposito, penghasilan bunga bersih (net interest margin/NIM) hingga menerbitkan kebijakan suku bunga dasar kredit (SBDK/prime lending rates).Lantas, bagaimana menipiskan suku bunga kredit? Pertama, terus menekan suku bunga dasar kredit (SBDK). Ketika kebijakan SBDK berlaku efektif 31 Maret 2011, suku bunga rata-rata kredit bank umum mencapai 13,57 persen (rupiah) per Maret 2011 menjadi 11,69 persen per Oktober 2012 untuk kredit modal kerja. Jadi, suku bunga rata-rata kredit menipis 188 basis point (bps) atau 1,88 persen.Sementara itu, suku bunga rata-rata kredit untuk kredit investasi mencapai 12,19 persen (rupiah) per Maret 2011 menjadi 11,30 persen atau menurun 89 bps atau 0,89 persen per Oktober 2012. Untuk kredit konsumsi, menipis dari 15,70 persen (rupiah) menjadi 13,60 persen atau menurun 210 bps (2,10 persen) pada periode yang sama. Penipisan suku bunga kredit itu menegaskan bahwa SBDK mulai berjalan meskipun pelan.Menurut Tinjauan Kebijakan Moneter yang terbit 8 November 2012, SBDK menurun di hampir seluruh segmen kecuali korporasi. SBDK per September 2012 untuk korporasi dan ritel masing-masing tercatat 9,75 persen dan 11,03 persen. Sementara itu, SBDK untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan non-KPR masing-masing 10,45 persen dan 10,67 persen.Selama ini, BI hanya melaporkan SBDK per bank bukan SBDK rata-rata per bulan. Karena itu, sepatutnya BI melaporkan SBDK rata-rata setiap bulan sebagai indikator untuk mengukur sejauh mana kinerja SBDK. Kedua, menetapkan target SBDK. Seperti target inflasi, BI pun dapat menetapkan target SBDK setiap tahun. Hal ini lebih taktis dalam mengetahui sejauh mana kinerja SBDK pada tahun berjalan.Pada pertemuan tahunan perbankan pada 23 November 2012, Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan pada pidatonya (butir 35) &quot;Hasil SBDK sudah tampak pada penurunan suku bunga kredit secara bertahap, meskipun belum optimal. Lapisan masyarakat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), misalnya, masih harus menanggung beban suku bunga pinjaman kredit mikro sekira 30 persen&quot;.Oleh sebab itu, BI dapat mewajibkan bank nasional untuk memasukkan rencana penurunan SBDK secara bertahap dalam rencana bisnis bank (RBB) setiap tahun. Hal ini bertujuan untuk menanggapi target SBDK tersebut. Sarinya, terdapat dua sisi target yang patut disasar, yakni sisi BI dan bank nasional. Klop. Kiat ini akan membantu untuk menipiskan suku bunga kredit mikro tersebut. Ketiga, memperpendek selisih (spread) antara suku bunga kredit dan suku bunga simpanan.Data BI mencatat rata-rata suku bunga kredit dan suku bunga deposito satu bulan masing-masing 12,2 persen dan 5,4 persen per Oktober 2012. Artinya, terdapat selisih 6,84 persen. Selisih itu selayaknya terus ditekan hingga mencapai 5 persen. Ini sejatinya masih lebih tinggi daripada selisih bank-bank Malaysia (3,54 persen), Thailand (4 persen), Filipina (1,21 persen), dan Korea Selatan (2,44 persen). Keempat, menaikkan tingkat efisiensi.Kini tingkat efisiensi yang tampak pada rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bank umum tampak terus membaik dari 86,44 persen per Oktober 2011 menjadi 74,02 persen per Oktober 2012. Angka ini termasuk rasio ideal, 70-80 persen. Namun angka itu masih kalah jauh bila dibandingkan dengan BOPO bankbank Asia Tenggara yang mencapai 40-60 persen. Karena itu, BOPO bank nasional wajib ditekan hingga 60-70 persen.Hal ini sekaligus untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) yang akan berlaku efektif pada 2015. Dengan demikian, bank nasional bakal lebih mampu bersaing dengan bank asing yang bermodal perkasa, tingkat efisiensi tinggi, dan kualitas aset tinggi. Dengan aneka langkah strategis demikian, suku bunga kredit bank nasional masih memiliki ruang untuk lebih ramping lagi.Pada gilirannya sektor riil pun akan makin melaju dengan memanfaatkan kredit perbankan. Hal ini sangat diharapkan mampu menggenjot sekaligus menyuburkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 6,3 persen pada kuartal IV-2012. Alhasil, pertumbuhan ekonomi nasional yang setinggi itu diharapkan sanggup menekan tingkat pengangguran 6,14 persen per Agustus 2012.PAUL SUTARYONOPengamat Perbankan &amp;amp;Mantan Assistant Vice President BNI</content:encoded></item></channel></rss>
