<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berkaca pada Negeri Kincir Angin</title><description>Belanda terkenal dengan sebutan Negeri Kincir Angin. Kincir angin dan bendungan atau dam, merupakan dua ikon negara tersebut.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/01/23/471/750486/berkaca-pada-negeri-kincir-angin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/01/23/471/750486/berkaca-pada-negeri-kincir-angin"/><item><title>Berkaca pada Negeri Kincir Angin</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/01/23/471/750486/berkaca-pada-negeri-kincir-angin</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/01/23/471/750486/berkaca-pada-negeri-kincir-angin</guid><pubDate>Rabu 23 Januari 2013 10:20 WIB</pubDate><dc:creator>Yuni Astutik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/01/23/471/750486/RUq98Ge5H6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Bendungan (Sumber: moniqueblueprint.wordpress)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/01/23/471/750486/RUq98Ge5H6.jpg</image><title>Ilustrasi: Bendungan (Sumber: moniqueblueprint.wordpress)</title></images><description>JAKARTA - Belanda terkenal dengan sebutan Negeri Kincir Angin. Kincir angin dan bendungan atau dam, merupakan dua ikon negara tersebut.Belanda merupakan negara yang 60 persen daratannya terletak di bawah permukaan laut. Namun dengan kondisi tersebut, Belanda mampu mengatasi banjir yang bisa saja datang setiap saat.Belanda dikenal memiliki teknologi yang baik untuk mengatasi banjir. Caranya adalah dengan kincir angin yang dibagi menjadi tiga kategori. Kincir angin pengering air, penggilingan jagung dan kincir angin untuk keperluan industri.Dengan kincir angin itu, air dipompa, setelah otu dengan roda besar memindahklan air dari sisi satu ke sisi lainnya. Dengan teknologi tersebut, Belanda berhasil mengeringkan air laut menjadi daratan. Untuk menahan air laut, Belanda membuat dam untuk menahan air laut.Tanggul di sungai-sungai besar seperti Rhine dan Meuse mencegah banjir dari air yang mengalir, sementara sistem yang rumit dari saluran drainase, kanal dan stasiun pompa atau kincir angin menjaga bagian dataran rendah agar tetap kering.Sejak zaman penjajahan, Belanda meninggalkan warisan berupa bendungan atau kanal-kanal air yang dibangun untuk menampung air di wilayah DKI Jakarta, yang saat itu bernama Batavia. Namun sayangnya, saat warisan Belanda itu belum rampung terbangun seluruhnya, Indonesia harus diserahkan kepada penjajah lainnya, yakni Jepang.Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DKI Jakarta Steve Manahampi, tidak ada yang salah dengan bendungan-bendungan yang ditinggalkan Belanda. Yang salah adalah perilaku (attitude) masyarakat Jakarta dari zaman dahulu yang sudah salah dalam memperlakukan warisan tersebut.&quot;Sebelum masa Indonesia Merdeka pun banyak dinding kanal yang sudah dibangun malah dirobohkan dan ditutup untuk dibuat jadi daratan demi pembangunan kota,&quot; kata Steve kepada Okezone.Saat ini Jakarta menghadapi masalah banjir. Minimnya infrastruktur untuk mengatasi banjir, pola hidup Ibu Kota Jakarta yang tidak mengindahkan alam, maraknya pembangunan disebut-sebut sebagai pemicu datangnya banjir. Lalu, dengan adanya teknologi yang dimiliki Belanda, apakah Indonesia patut mencontohnya? (nia)</description><content:encoded>JAKARTA - Belanda terkenal dengan sebutan Negeri Kincir Angin. Kincir angin dan bendungan atau dam, merupakan dua ikon negara tersebut.Belanda merupakan negara yang 60 persen daratannya terletak di bawah permukaan laut. Namun dengan kondisi tersebut, Belanda mampu mengatasi banjir yang bisa saja datang setiap saat.Belanda dikenal memiliki teknologi yang baik untuk mengatasi banjir. Caranya adalah dengan kincir angin yang dibagi menjadi tiga kategori. Kincir angin pengering air, penggilingan jagung dan kincir angin untuk keperluan industri.Dengan kincir angin itu, air dipompa, setelah otu dengan roda besar memindahklan air dari sisi satu ke sisi lainnya. Dengan teknologi tersebut, Belanda berhasil mengeringkan air laut menjadi daratan. Untuk menahan air laut, Belanda membuat dam untuk menahan air laut.Tanggul di sungai-sungai besar seperti Rhine dan Meuse mencegah banjir dari air yang mengalir, sementara sistem yang rumit dari saluran drainase, kanal dan stasiun pompa atau kincir angin menjaga bagian dataran rendah agar tetap kering.Sejak zaman penjajahan, Belanda meninggalkan warisan berupa bendungan atau kanal-kanal air yang dibangun untuk menampung air di wilayah DKI Jakarta, yang saat itu bernama Batavia. Namun sayangnya, saat warisan Belanda itu belum rampung terbangun seluruhnya, Indonesia harus diserahkan kepada penjajah lainnya, yakni Jepang.Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DKI Jakarta Steve Manahampi, tidak ada yang salah dengan bendungan-bendungan yang ditinggalkan Belanda. Yang salah adalah perilaku (attitude) masyarakat Jakarta dari zaman dahulu yang sudah salah dalam memperlakukan warisan tersebut.&quot;Sebelum masa Indonesia Merdeka pun banyak dinding kanal yang sudah dibangun malah dirobohkan dan ditutup untuk dibuat jadi daratan demi pembangunan kota,&quot; kata Steve kepada Okezone.Saat ini Jakarta menghadapi masalah banjir. Minimnya infrastruktur untuk mengatasi banjir, pola hidup Ibu Kota Jakarta yang tidak mengindahkan alam, maraknya pembangunan disebut-sebut sebagai pemicu datangnya banjir. Lalu, dengan adanya teknologi yang dimiliki Belanda, apakah Indonesia patut mencontohnya? (nia)</content:encoded></item></channel></rss>
