<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Kemenkeu Cari Celah Tutup Defisit Perdagangan</title><description>Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mencari pembiayaan lain guna  menutup defisit neraca perdagangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/02/15/20/762362/kemenkeu-cari-celah-tutup-defisit-perdagangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/02/15/20/762362/kemenkeu-cari-celah-tutup-defisit-perdagangan"/><item><title> Kemenkeu Cari Celah Tutup Defisit Perdagangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/02/15/20/762362/kemenkeu-cari-celah-tutup-defisit-perdagangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/02/15/20/762362/kemenkeu-cari-celah-tutup-defisit-perdagangan</guid><pubDate>Jum'at 15 Februari 2013 14:32 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/02/15/20/762362/FvzB5vnMSf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/02/15/20/762362/FvzB5vnMSf.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mencari pembiayaan lain guna menutup defisit neraca perdagangan. Pasalnya, kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi diperkirakan melebihi kuota.Kepala bidang Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kemenkeu Rofiyanto Kurniawan mengatakan, jika harga minyak mentah naik, maka defisit juga akan bertambah. Oleh karena itu, pemerintah harus mencermati daya dukung fiskal saat ini. &quot;Kira-kira kenaikan subsidi itu bisa dikompensasi dari sumber-sumber mana yang bisa diefisienkan, kita masih fokus di situ,&quot; ujar dia, saat ditemui wartawan, Jakarta, Jumat (15/2/2013).Rofiyanto mengatakan, pemerintah masih memfokuskan untuk menjaga volume BBM berusbsidi dalam APBN sebesar 46 juta kiloliter (kl). Dia menjelaskan, yang menjadi masalah adalah jika kuota tersebut terlampaui dan nilai tukar terus melemah.&quot;Yang kita khawatirkan kalau di atas itu sampai 50 juta kl. Nah itu dampaknya ke subsidi akan sangat besar apalagi rupiah terdepresiasi, kan di APBN Rp9.300 per USD, sementara sekarang Rp9.700-Rp9.600 per USD, lifting juga turun, harga minyak USD100 rata-rata di Januari USD111-an. Kita masih monitor itu terus,&quot; ujar Rofiyanto.Oleh karena itu, Kemenkeu akan melihat dana cadangan yang ada dan belanja Kementerian Lembaga (K/L), yang bisa dimaksimalkan agar terjadi efisiensi dalam belanja.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mencari pembiayaan lain guna menutup defisit neraca perdagangan. Pasalnya, kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi diperkirakan melebihi kuota.Kepala bidang Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kemenkeu Rofiyanto Kurniawan mengatakan, jika harga minyak mentah naik, maka defisit juga akan bertambah. Oleh karena itu, pemerintah harus mencermati daya dukung fiskal saat ini. &quot;Kira-kira kenaikan subsidi itu bisa dikompensasi dari sumber-sumber mana yang bisa diefisienkan, kita masih fokus di situ,&quot; ujar dia, saat ditemui wartawan, Jakarta, Jumat (15/2/2013).Rofiyanto mengatakan, pemerintah masih memfokuskan untuk menjaga volume BBM berusbsidi dalam APBN sebesar 46 juta kiloliter (kl). Dia menjelaskan, yang menjadi masalah adalah jika kuota tersebut terlampaui dan nilai tukar terus melemah.&quot;Yang kita khawatirkan kalau di atas itu sampai 50 juta kl. Nah itu dampaknya ke subsidi akan sangat besar apalagi rupiah terdepresiasi, kan di APBN Rp9.300 per USD, sementara sekarang Rp9.700-Rp9.600 per USD, lifting juga turun, harga minyak USD100 rata-rata di Januari USD111-an. Kita masih monitor itu terus,&quot; ujar Rofiyanto.Oleh karena itu, Kemenkeu akan melihat dana cadangan yang ada dan belanja Kementerian Lembaga (K/L), yang bisa dimaksimalkan agar terjadi efisiensi dalam belanja.</content:encoded></item></channel></rss>
