<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anggaran Kesehatan Aceh Masih Berorientasi Kuratif</title><description>Anggaran kesehatan di Aceh selama ini masih bertumpu pada belanja penyembuhan (kuratif) daripada pencegahan (preventif).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/02/20/785181/anggaran-kesehatan-aceh-masih-berorientasi-kuratif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/04/02/20/785181/anggaran-kesehatan-aceh-masih-berorientasi-kuratif"/><item><title>Anggaran Kesehatan Aceh Masih Berorientasi Kuratif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/02/20/785181/anggaran-kesehatan-aceh-masih-berorientasi-kuratif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/04/02/20/785181/anggaran-kesehatan-aceh-masih-berorientasi-kuratif</guid><pubDate>Selasa 02 April 2013 17:15 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/04/02/20/785181/FXcFHCFx7n.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/04/02/20/785181/FXcFHCFx7n.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Koran Sindo)</title></images><description>BANDA ACEH - Anggaran kesehatan di Aceh selama ini masih bertumpu pada belanja penyembuhan (kuratif) daripada pencegahan (preventif). Ke depan diharapkan, upaya preventif maupun promotif mendapat porsi penganggaran yang lebih besar.Peneliti dari Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP) Rachmad Suhanda mengatakan, besarnya belanja kuratif dikhawatirkan akan membuat beban anggaran semakin berat dalam jangka panjang.&amp;ldquo;Karena sebenarnya upaya preventif atau penyembuhan lebih murah dari pengobatan,&amp;rdquo; katanya, dalam diskusi publik tentang hasil analisa Anggaran Aceh 2007-2012 bidang kesehatan, di 3 in 1 cafe, Banda Aceh, Selasa (2/4/2013).Rachmad memaparkan belanja kuratif mendapat anggaran yang besar dalam tiga tahun terakhir. Pada 2012, anggaran kesehatan untuk upaya kuratif mencapai 64 persen dari total anggaran Provinsi Aceh bidang kesehatan yang mencapai Rp931 miliar. &amp;ldquo;Sedangkan untuk preventif hanya empat persen saja,&amp;rdquo; kata Rachmad.Tren membesarnya upaya kuratif dimulai sejak 2010, saat program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dimulai. Sebelumnya, pada 2007, anggaran kesehatan untuk kuratif hanya 37 persen. Anggaran untuk preventif di Provinsi Aceh hingga 2012, masih jauh di bawah angka survei sebesar 30 persen seperti yang dipublikasikan oleh Pusdiklat Aparatur Kementerian Kesehatan.Berdasarkan kajian PECAPP, saban tahun belanja kesehatan di Aceh cenderung meningkat. Pada 2012, total belanja kesehatan seluruh Aceh, baik provinsi maupun kabupaten/kota, meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan 2005. &amp;ldquo;Ini membuktikan pemerintah di Aceh punya perhatian besar terhadap sektor kesehatan,&amp;rdquo; ujarnya.Tetapi, besarnya anggaran ini masih belum disertai pencapaian beberapa indikator kesehatan yang lebih baik. Beberapa tantangan sektor kesehatan di antaranya angka kematian ibu masih tinggi di mana pada 2011 tercatat 158 per 100 ribu kelahiran hidup (KH). Sementara secara nasional ditargetkan 112 per 100 ribu KH pada 2014. Masalah lainnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana serta sumberdaya tenaga kesehatan yang belum mencukupi dan terdistribusi secara merata di Aceh. Sarana puskesmas di Aceh diakui sudah mencukupi, dengan rasio satu berbanding 14 ribu 000 penduduk (1:14 ribu penduduk), sementara target nasional hanya 1:30 ribu penduduk. Tetapi rasio dokter di Aceh masih berada di bawah target nasional, 1:4.000 penduduk, sementara target nasional 1:2.500 penduduk.PECAPP merekomendasikan agar Pemerintah Aceh membelanjakan sumber daya keuangan yang lebih baik di sektor kesehatan sesuai analisis, kebutuhan masyarakat, serta mengacu pada pencapaian target-target nasional.Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Muhammad Yani mengakui, anggaran preventif lebih kecil dibandingkan kuratif. Tetapi pihaknya berusaha maksimal untuk melakukan upaya preventif dan promosi kesehatan lebih optimal. &amp;ldquo;Kami sudah meminta kabupaten kota untuk memperhatikan upaya preventif ini,&amp;rdquo; ujarnya.Pihaknya saat ini sedang melaksanakan Musrenbang kesehatan Aceh, untuk mendorong kabupaten/kota melakukan hal tersebut. Yani mengklaim perhatian kepada preventif dan promosi sebagai upaya pertama yang digiring untuk meningkatkan mutu kesehatan di Aceh. &amp;ldquo;Kita lakukan ini pelan-pelan,&amp;rdquo; sebutnya.Dinas Kesehatan, kata Yani, sebelumnya juga telah melakukan analisis terkait isu kesehatan di Aceh. Analisis tersebut menjadi data awal untuk memperbaiki capaian indikator kesehatan yang lebih baik.</description><content:encoded>BANDA ACEH - Anggaran kesehatan di Aceh selama ini masih bertumpu pada belanja penyembuhan (kuratif) daripada pencegahan (preventif). Ke depan diharapkan, upaya preventif maupun promotif mendapat porsi penganggaran yang lebih besar.Peneliti dari Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECAPP) Rachmad Suhanda mengatakan, besarnya belanja kuratif dikhawatirkan akan membuat beban anggaran semakin berat dalam jangka panjang.&amp;ldquo;Karena sebenarnya upaya preventif atau penyembuhan lebih murah dari pengobatan,&amp;rdquo; katanya, dalam diskusi publik tentang hasil analisa Anggaran Aceh 2007-2012 bidang kesehatan, di 3 in 1 cafe, Banda Aceh, Selasa (2/4/2013).Rachmad memaparkan belanja kuratif mendapat anggaran yang besar dalam tiga tahun terakhir. Pada 2012, anggaran kesehatan untuk upaya kuratif mencapai 64 persen dari total anggaran Provinsi Aceh bidang kesehatan yang mencapai Rp931 miliar. &amp;ldquo;Sedangkan untuk preventif hanya empat persen saja,&amp;rdquo; kata Rachmad.Tren membesarnya upaya kuratif dimulai sejak 2010, saat program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dimulai. Sebelumnya, pada 2007, anggaran kesehatan untuk kuratif hanya 37 persen. Anggaran untuk preventif di Provinsi Aceh hingga 2012, masih jauh di bawah angka survei sebesar 30 persen seperti yang dipublikasikan oleh Pusdiklat Aparatur Kementerian Kesehatan.Berdasarkan kajian PECAPP, saban tahun belanja kesehatan di Aceh cenderung meningkat. Pada 2012, total belanja kesehatan seluruh Aceh, baik provinsi maupun kabupaten/kota, meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan 2005. &amp;ldquo;Ini membuktikan pemerintah di Aceh punya perhatian besar terhadap sektor kesehatan,&amp;rdquo; ujarnya.Tetapi, besarnya anggaran ini masih belum disertai pencapaian beberapa indikator kesehatan yang lebih baik. Beberapa tantangan sektor kesehatan di antaranya angka kematian ibu masih tinggi di mana pada 2011 tercatat 158 per 100 ribu kelahiran hidup (KH). Sementara secara nasional ditargetkan 112 per 100 ribu KH pada 2014. Masalah lainnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana serta sumberdaya tenaga kesehatan yang belum mencukupi dan terdistribusi secara merata di Aceh. Sarana puskesmas di Aceh diakui sudah mencukupi, dengan rasio satu berbanding 14 ribu 000 penduduk (1:14 ribu penduduk), sementara target nasional hanya 1:30 ribu penduduk. Tetapi rasio dokter di Aceh masih berada di bawah target nasional, 1:4.000 penduduk, sementara target nasional 1:2.500 penduduk.PECAPP merekomendasikan agar Pemerintah Aceh membelanjakan sumber daya keuangan yang lebih baik di sektor kesehatan sesuai analisis, kebutuhan masyarakat, serta mengacu pada pencapaian target-target nasional.Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Muhammad Yani mengakui, anggaran preventif lebih kecil dibandingkan kuratif. Tetapi pihaknya berusaha maksimal untuk melakukan upaya preventif dan promosi kesehatan lebih optimal. &amp;ldquo;Kami sudah meminta kabupaten kota untuk memperhatikan upaya preventif ini,&amp;rdquo; ujarnya.Pihaknya saat ini sedang melaksanakan Musrenbang kesehatan Aceh, untuk mendorong kabupaten/kota melakukan hal tersebut. Yani mengklaim perhatian kepada preventif dan promosi sebagai upaya pertama yang digiring untuk meningkatkan mutu kesehatan di Aceh. &amp;ldquo;Kita lakukan ini pelan-pelan,&amp;rdquo; sebutnya.Dinas Kesehatan, kata Yani, sebelumnya juga telah melakukan analisis terkait isu kesehatan di Aceh. Analisis tersebut menjadi data awal untuk memperbaiki capaian indikator kesehatan yang lebih baik.</content:encoded></item></channel></rss>
