<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Asosiasi Pilot: Bandara di Pedalaman Kurang Safety</title><description>Asosiasi Pilot Indonesia menilai kondisi lapangan bandara di Indonesia  khususnya di daerah terpencil tidak memadai dan tidak mempunyai standar  safety yang sama.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/09/320/788613/asosiasi-pilot-bandara-di-pedalaman-kurang-safety</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/04/09/320/788613/asosiasi-pilot-bandara-di-pedalaman-kurang-safety"/><item><title>Asosiasi Pilot: Bandara di Pedalaman Kurang Safety</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/09/320/788613/asosiasi-pilot-bandara-di-pedalaman-kurang-safety</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/04/09/320/788613/asosiasi-pilot-bandara-di-pedalaman-kurang-safety</guid><pubDate>Selasa 09 April 2013 13:11 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/04/09/320/788613/tdf3pff7Dr.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/04/09/320/788613/tdf3pff7Dr.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Pilot Indonesia menilai kondisi lapangan bandara di Indonesia khususnya di daerah terpencil tidak memadai dan tidak mempunyai standar safety yang sama.&quot;Di daerah terpencil Papua itu bandaranya pendek-pendek, kadang-kadang terabaikan safetynya. Di negara luar itu safetynya sama semua. Tidak ada di beda-bedakan,&quot; ujar Ketua Asosiasi Pilot Indonesia Hasfrinsyah saat RDP dengan komisi V di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (9/4/2013).Hasfrinsyah menambahkan, bandara-bandara yang lain juga seperti di Pontianak kurang fasilitas yang membuat landingnya pesawat harus holding 10-20 menit.&quot;Bandara juga yang licin, di Pontianak, banjir, banyak burung-burung di situ. Bandaranya lampunya mati, itu siapa yang disalahkan? Itu terjadi masalah. Hampir 10-20 menit holding. Itu merugikan semua, company, penumpang, akan makan waktu, dan tentunya bahan bakar (fuel) menambah, tapi hal yang harusnya tidak terjadi kok terjadi. Ini harus diselesaikan,&quot; jelasnya.Hasfrinsyah menuturkan, dengan terjadinya seperti itu akan menambahkan cost untuk airlines. Pasalnya, dengan membenarkan safety untuk lapangan bandara tidak memakan biaya yang mahal.&quot;Kami menambahkan fuel, kami harus menambahkan fuel setiap 20 menit,itu kalo di itung bisa sampai 1,7 ton per penerbangan. Kalo bangun bandara berapa sih biayanya. Patung-patungan lah para airlines. Karena safety nomor satu, mohon landasan yang pendek dilengkapi, biar terhindar dari kecelakaan,&quot; pungkasnya. (wan)</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Pilot Indonesia menilai kondisi lapangan bandara di Indonesia khususnya di daerah terpencil tidak memadai dan tidak mempunyai standar safety yang sama.&quot;Di daerah terpencil Papua itu bandaranya pendek-pendek, kadang-kadang terabaikan safetynya. Di negara luar itu safetynya sama semua. Tidak ada di beda-bedakan,&quot; ujar Ketua Asosiasi Pilot Indonesia Hasfrinsyah saat RDP dengan komisi V di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (9/4/2013).Hasfrinsyah menambahkan, bandara-bandara yang lain juga seperti di Pontianak kurang fasilitas yang membuat landingnya pesawat harus holding 10-20 menit.&quot;Bandara juga yang licin, di Pontianak, banjir, banyak burung-burung di situ. Bandaranya lampunya mati, itu siapa yang disalahkan? Itu terjadi masalah. Hampir 10-20 menit holding. Itu merugikan semua, company, penumpang, akan makan waktu, dan tentunya bahan bakar (fuel) menambah, tapi hal yang harusnya tidak terjadi kok terjadi. Ini harus diselesaikan,&quot; jelasnya.Hasfrinsyah menuturkan, dengan terjadinya seperti itu akan menambahkan cost untuk airlines. Pasalnya, dengan membenarkan safety untuk lapangan bandara tidak memakan biaya yang mahal.&quot;Kami menambahkan fuel, kami harus menambahkan fuel setiap 20 menit,itu kalo di itung bisa sampai 1,7 ton per penerbangan. Kalo bangun bandara berapa sih biayanya. Patung-patungan lah para airlines. Karena safety nomor satu, mohon landasan yang pendek dilengkapi, biar terhindar dari kecelakaan,&quot; pungkasnya. (wan)</content:encoded></item></channel></rss>
