<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lemahnya Rupiah Dinilai Lebih Moderat</title><description>Nilai tukar rupiah selama triwulan pertama 2013 secara rata-rata melemah  sebesar 0,7 persen menjadi R9.680 per USD dinilai lebih moderat  dibanding triwulan sebelumnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/11/278/790071/lemahnya-rupiah-dinilai-lebih-moderat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/04/11/278/790071/lemahnya-rupiah-dinilai-lebih-moderat"/><item><title>Lemahnya Rupiah Dinilai Lebih Moderat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/11/278/790071/lemahnya-rupiah-dinilai-lebih-moderat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/04/11/278/790071/lemahnya-rupiah-dinilai-lebih-moderat</guid><pubDate>Kamis 11 April 2013 17:12 WIB</pubDate><dc:creator>Rezkiana Nisaputra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/04/11/278/790071/7WjewI5jnH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/04/11/278/790071/7WjewI5jnH.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Nilai tukar rupiah selama triwulan pertama 2013 secara rata-rata melemah sebesar 0,7 persen menjadi R9.680 per USD dinilai lebih moderat dibanding triwulan sebelumnya. Dalam hal ini pelemahan tersebut dianggap lebih moderat dibandingkan periode-periode sebelumnya, sejalan dengan berlanjutnya aliran modal masuk.&quot;Kami tahu tekanan depresiasi itu semakin moderate. Maka BI sudah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi itu termasuk memperkuat intervensi kita di pasar valuta asing,&quot; ujar Gubernur BI Darmin Nasution saat Konfrensi Pers hasil RDG Triwulan I-2013, di Gedung BI, Jakarta (11/4/13).Darmin mengungkap, lemahnya nilai tukar rupiah merupakan konsekuensi dari kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya. &quot;Kondisi fundamental yang dimaksud itu seperti neraca pembayaran yang masih defisit, meskipun defisitnya diharapkan akan mengecil pada triwulan kedua tahun ini,&quot; tukas dia.Sedangkan neraca pembayaran Indonesia yang defisit itu disebabkan bengkaknya impor BBM. &quot;Ekspor nonmigas kitakan sebenarnya udah baik, namun tidak bisa mengimbangi defisit neraca perdagangan migasnya,&quot; jelas Darmin.Selain itu, Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono juga mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah tidak dilakukan BI sebagai kebijakan untuk memperlambat laju impor.&quot;Inikan perlu ditegaskan bahwa BI tidak seperti itu, BI tidak menggunakan nilai tukar untuk mengurangi impor,&quot; ucap dia.Hartadi menambahkan, pihaknya tetap dalam rezim mengambang bebas. BI tetap memoderasi pelemahan rupiah sesuai dengan fundaementalnya. &quot;Kalau neraca pembayaran melemah, wajar kalau ada ekspektasi depresiasi. Kita hanya memperlambat gejolak pelemahannya,&quot; tutup Hartadi.</description><content:encoded>JAKARTA - Nilai tukar rupiah selama triwulan pertama 2013 secara rata-rata melemah sebesar 0,7 persen menjadi R9.680 per USD dinilai lebih moderat dibanding triwulan sebelumnya. Dalam hal ini pelemahan tersebut dianggap lebih moderat dibandingkan periode-periode sebelumnya, sejalan dengan berlanjutnya aliran modal masuk.&quot;Kami tahu tekanan depresiasi itu semakin moderate. Maka BI sudah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi itu termasuk memperkuat intervensi kita di pasar valuta asing,&quot; ujar Gubernur BI Darmin Nasution saat Konfrensi Pers hasil RDG Triwulan I-2013, di Gedung BI, Jakarta (11/4/13).Darmin mengungkap, lemahnya nilai tukar rupiah merupakan konsekuensi dari kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya. &quot;Kondisi fundamental yang dimaksud itu seperti neraca pembayaran yang masih defisit, meskipun defisitnya diharapkan akan mengecil pada triwulan kedua tahun ini,&quot; tukas dia.Sedangkan neraca pembayaran Indonesia yang defisit itu disebabkan bengkaknya impor BBM. &quot;Ekspor nonmigas kitakan sebenarnya udah baik, namun tidak bisa mengimbangi defisit neraca perdagangan migasnya,&quot; jelas Darmin.Selain itu, Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono juga mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah tidak dilakukan BI sebagai kebijakan untuk memperlambat laju impor.&quot;Inikan perlu ditegaskan bahwa BI tidak seperti itu, BI tidak menggunakan nilai tukar untuk mengurangi impor,&quot; ucap dia.Hartadi menambahkan, pihaknya tetap dalam rezim mengambang bebas. BI tetap memoderasi pelemahan rupiah sesuai dengan fundaementalnya. &quot;Kalau neraca pembayaran melemah, wajar kalau ada ekspektasi depresiasi. Kita hanya memperlambat gejolak pelemahannya,&quot; tutup Hartadi.</content:encoded></item></channel></rss>
