<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pangan Dominasi Inflasi di Solo</title><description>komoditas pangan memberikan sumbangan inflasi yang cukup dominan di Jawa  Tengah selama 2012. Sedang inflasi Jawa Tengah pada 2012 tercatat 4,24  persen.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/16/20/792367/pangan-dominasi-inflasi-di-solo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/04/16/20/792367/pangan-dominasi-inflasi-di-solo"/><item><title>Pangan Dominasi Inflasi di Solo</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/16/20/792367/pangan-dominasi-inflasi-di-solo</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/04/16/20/792367/pangan-dominasi-inflasi-di-solo</guid><pubDate>Selasa 16 April 2013 15:08 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/04/16/20/792367/fk2xN7s6az.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/04/16/20/792367/fk2xN7s6az.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>SOLO &amp;ndash; komoditas pangan memberikan sumbangan inflasi yang cukup dominan di Jawa Tengah selama 2012. Sedang inflasi Jawa Tengah pada 2012 tercatat 4,24 persen.Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah V Jateng&amp;ndash;DIY Dewi Setyowati mengungkapkan, bahwa enam komoditas termasuk dalam 10 komoditas penyumbang inflasi terbesar selama 2012 di Jawa Tengah.Ke-10 komoditas pangan tersebut, menurut Dewi, adalah beras dengan sumbangan inflasi rata-rata 0,149 persen, minyak goreng rata-rata menyumbang 0,098 persen, bawang putih rata-rata menyumbang 0,095 persen, tempe 0,85 persen, bawang merah 0,084 persen, dan cabai merah 0,081 persen.&quot;Perlu adanya perhatian serius mengingat Provinsi Jawa Tengah termasuk daerah penghasil bawang merah, bawang putih dan cabai merah. Karenanya diperlukan upaya untuk menjaga pasokan antarwaktu yang lebih merata agar gejolak harga dapat lebih dikendalikan,&quot; ungkapnya, pada acara Diseminasi Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (SiHati), di Kantor Bank Indonesia Solo, Jawa Tengah, Selasa (16/4/2013).Pada kesempatan itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah V Jateng-DIY menyatakan bahwa komoditas bumbu-bumbuan juga lebih sering memberikan tekanan inflasi. Hal itu terlihat dari frekuensinya yang relatif lebih sering, empat sampai lima periode dalam setahun.Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) kelompok bahan makanan, makanan jadi dan sandang telah melampaui IHK umum. Hal ini harus menjadi perhatian, mengingat potensi terhadap tekanan inflasi dan kecenderungan di atas inflasi umum.&amp;ldquo;Sampai dengan 2012 terdapat beberapa komoditas yang saat ini memiliki IHK di atas 200 atau telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan awal penerapan Survey Biaya Hidup (SBH) pada 2007. Indeks 2007 sama dengan 100,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>SOLO &amp;ndash; komoditas pangan memberikan sumbangan inflasi yang cukup dominan di Jawa Tengah selama 2012. Sedang inflasi Jawa Tengah pada 2012 tercatat 4,24 persen.Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah V Jateng&amp;ndash;DIY Dewi Setyowati mengungkapkan, bahwa enam komoditas termasuk dalam 10 komoditas penyumbang inflasi terbesar selama 2012 di Jawa Tengah.Ke-10 komoditas pangan tersebut, menurut Dewi, adalah beras dengan sumbangan inflasi rata-rata 0,149 persen, minyak goreng rata-rata menyumbang 0,098 persen, bawang putih rata-rata menyumbang 0,095 persen, tempe 0,85 persen, bawang merah 0,084 persen, dan cabai merah 0,081 persen.&quot;Perlu adanya perhatian serius mengingat Provinsi Jawa Tengah termasuk daerah penghasil bawang merah, bawang putih dan cabai merah. Karenanya diperlukan upaya untuk menjaga pasokan antarwaktu yang lebih merata agar gejolak harga dapat lebih dikendalikan,&quot; ungkapnya, pada acara Diseminasi Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (SiHati), di Kantor Bank Indonesia Solo, Jawa Tengah, Selasa (16/4/2013).Pada kesempatan itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah V Jateng-DIY menyatakan bahwa komoditas bumbu-bumbuan juga lebih sering memberikan tekanan inflasi. Hal itu terlihat dari frekuensinya yang relatif lebih sering, empat sampai lima periode dalam setahun.Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) kelompok bahan makanan, makanan jadi dan sandang telah melampaui IHK umum. Hal ini harus menjadi perhatian, mengingat potensi terhadap tekanan inflasi dan kecenderungan di atas inflasi umum.&amp;ldquo;Sampai dengan 2012 terdapat beberapa komoditas yang saat ini memiliki IHK di atas 200 atau telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan awal penerapan Survey Biaya Hidup (SBH) pada 2007. Indeks 2007 sama dengan 100,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
