<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wujudkan Ketahanan Pangan, Jangan Ketergantungan Makan Nasi!</title><description>Nur Mahmudi mengkritik masyarakat yang melupakan diversifikasi pangan.  Yakni dengan mengganti makanan pokok seperti beras dengan umbi-umbian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/23/320/796409/wujudkan-ketahanan-pangan-jangan-ketergantungan-makan-nasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/04/23/320/796409/wujudkan-ketahanan-pangan-jangan-ketergantungan-makan-nasi"/><item><title>Wujudkan Ketahanan Pangan, Jangan Ketergantungan Makan Nasi!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/23/320/796409/wujudkan-ketahanan-pangan-jangan-ketergantungan-makan-nasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/04/23/320/796409/wujudkan-ketahanan-pangan-jangan-ketergantungan-makan-nasi</guid><pubDate>Selasa 23 April 2013 18:13 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>DEPOK - Wali Kota Depok yang juga Pengamat Teknologi Pangan dari A&amp;amp;M Texas University, Nur Mahmudi Ismail mengatakan jumlah konsumsi beras atau nasi masyarakat Indonesia sudah terlampau banyak. Akibatnya ketergantungan terhadap impor beras pun terus terjadi.&quot;Produksi kita 65-70 juta ton padi per tahun. Namun yang jadi problem, makan nasi kita jadi kebanyakan. Sedikit-sedikit impor,&quot; tukasnya dalam Seminar Ekonomi Kreatif di Universitas Gunadarma, Depok, Selasa (23/04/2013).Nur Mahmudi mengkritik masyarakat yang melupakan diversifikasi pangan. Yakni dengan mengganti makanan pokok seperti beras dengan umbi-umbian.&quot;Sudah melupakan umbi-umbian. Konsumsi Indonesia 139,15 kilogram perkapita pertahun. Rata-rata dunia hanya 60 kilogram per tahun, bayangkan saja kita dua kali lipat lebih,&quot; paparnya.Nur Mahmudi mengatakan masyarakat perlu terus diberikan pemahaman tentang pentingnya ketidaktergantungan terhadap padi dan terigu. Konsumsi beras masyarakat Indonesia juga terlampau besar dibanding dengan masyarakat Thailand yakni hanya 70 kg per kapita per tahun.&quot;Konsumsi beras per tahun masyarakat Indonesia itu 35 juta ton per tahun. Bayangin jika sehari tidak makan nasi dilakukan seluruh masyarakat maka Indonesia akan mempunyai cadangan beras 18 juta ton per tahun. Cadangan beras itu bisa disumbangkan atau dikomersilkan,&quot; tuturnya.Ketua Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Toto Sugiharto menyatakan gerakan Sehari Tanpa Nasi atau One Day No Rice patut didukung. Karena dapat membuat masyarakat menjadi cerdas dan sehat.&quot;Gerakan tersebut juga mempunyai landasan hukum yang kuat yakni peraturan presiden. Dulu saya diajarkan orang Madura makanan pokok jagung, Maluku makan sagu, Papua umbi-umbian. Namun sejak orde baru perpindahan pergeseran, beras jadi lambang kemakmuran,&quot; tutupnya. (wan)</description><content:encoded>DEPOK - Wali Kota Depok yang juga Pengamat Teknologi Pangan dari A&amp;amp;M Texas University, Nur Mahmudi Ismail mengatakan jumlah konsumsi beras atau nasi masyarakat Indonesia sudah terlampau banyak. Akibatnya ketergantungan terhadap impor beras pun terus terjadi.&quot;Produksi kita 65-70 juta ton padi per tahun. Namun yang jadi problem, makan nasi kita jadi kebanyakan. Sedikit-sedikit impor,&quot; tukasnya dalam Seminar Ekonomi Kreatif di Universitas Gunadarma, Depok, Selasa (23/04/2013).Nur Mahmudi mengkritik masyarakat yang melupakan diversifikasi pangan. Yakni dengan mengganti makanan pokok seperti beras dengan umbi-umbian.&quot;Sudah melupakan umbi-umbian. Konsumsi Indonesia 139,15 kilogram perkapita pertahun. Rata-rata dunia hanya 60 kilogram per tahun, bayangkan saja kita dua kali lipat lebih,&quot; paparnya.Nur Mahmudi mengatakan masyarakat perlu terus diberikan pemahaman tentang pentingnya ketidaktergantungan terhadap padi dan terigu. Konsumsi beras masyarakat Indonesia juga terlampau besar dibanding dengan masyarakat Thailand yakni hanya 70 kg per kapita per tahun.&quot;Konsumsi beras per tahun masyarakat Indonesia itu 35 juta ton per tahun. Bayangin jika sehari tidak makan nasi dilakukan seluruh masyarakat maka Indonesia akan mempunyai cadangan beras 18 juta ton per tahun. Cadangan beras itu bisa disumbangkan atau dikomersilkan,&quot; tuturnya.Ketua Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Toto Sugiharto menyatakan gerakan Sehari Tanpa Nasi atau One Day No Rice patut didukung. Karena dapat membuat masyarakat menjadi cerdas dan sehat.&quot;Gerakan tersebut juga mempunyai landasan hukum yang kuat yakni peraturan presiden. Dulu saya diajarkan orang Madura makanan pokok jagung, Maluku makan sagu, Papua umbi-umbian. Namun sejak orde baru perpindahan pergeseran, beras jadi lambang kemakmuran,&quot; tutupnya. (wan)</content:encoded></item></channel></rss>
