<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> EFT Indonesia di Bawah Malaysia &amp; Singapura</title><description>Berdasarkan data World Federation Of Exchange sepanjang kuartal pertama  hanya sebesar USD100 ribu. </description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/26/278/797846/eft-indonesia-di-bawah-malaysia-singapura</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/04/26/278/797846/eft-indonesia-di-bawah-malaysia-singapura"/><item><title> EFT Indonesia di Bawah Malaysia &amp; Singapura</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/04/26/278/797846/eft-indonesia-di-bawah-malaysia-singapura</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/04/26/278/797846/eft-indonesia-di-bawah-malaysia-singapura</guid><pubDate>Jum'at 26 April 2013 08:35 WIB</pubDate><dc:creator>Rizkie Fauzian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/04/26/278/797846/1Q1bpvNcK1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/04/26/278/797846/1Q1bpvNcK1.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Banyaknya transaksi pembelian exchange traded fund (EFT) melalui delaer yang tidak tercatat di pasar primer, menjadi penyebab minimnya total transaksi ETF di Indonesia selama kuartal pertama. Berdasarkan data World Federation Of Exchange sepanjang kuartal pertama hanya sebesar USD100 ribu. Direktur Indo Premier Investment Management, Ernawan Rahmat Salimsyah mengungkapkan, jumlah tersebut sangat berbeda dengan total transaksi ETF di bursa Malaysia yang mencapai USD21,9 juta, Singapura USD757,5 juta, ataupun Thailand USD130,9 juta.&quot;Saat ini pertumbuhan produk ETF, khususnya produk ETF milik Indo Premier sudah tumbuh 10 kali lipat sejak pertama kali diluncurkan di 2011,&quot; jelasnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (25/4/2013) malam.Pertumbuhan tersebut, terlihat dari asset under management (AUM) keduanya yang mengalami peningkatan menjadi Rp275 miliar dari Rp25 miliar di 2011 dengan rentang transaksi yang terjadi di pasar primer sendiri antara Rp5 miliar-Rp80 miliar.Lebih lanjut menurutnya, produk ETF di Malaysia jauh lebih besar dibandingkan di Indonesia, sebagai contoh salah satu produk ETF Syariah terbesar di Malaysia NAB-nya sudah mencapai USD98 juta. &quot;Namun kami yakin produk ETF di Indonesia akan terus berkembang, karena semakin banyak investor yang telah merasakan manfaatnya,&quot; kata dia.Menurutnya, saat ini dua produk seperti ETF LQ45 ditargetkan NAB-nya dapat tumbuh menjadi Rp200-Rp250 miliar di akhir 2013 dari saat ini Rp125 miliar dan produk ETF IDX30 diproyeksikan dapat naik menjadi Rp200-Rp250 miliar. &quot;Kami juga berencana meluncurkan dua produk baru ETF yang akan diluncurkan, yakni ETF Jakarta Islamic Index (XIJI) dan ETF Indeks Saham Konsumer (XIIC) NAB-nya ditargetkan dapat mencapai masing-masing Rp100 miliar di akhir tahun ini,&quot; imbuh dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Banyaknya transaksi pembelian exchange traded fund (EFT) melalui delaer yang tidak tercatat di pasar primer, menjadi penyebab minimnya total transaksi ETF di Indonesia selama kuartal pertama. Berdasarkan data World Federation Of Exchange sepanjang kuartal pertama hanya sebesar USD100 ribu. Direktur Indo Premier Investment Management, Ernawan Rahmat Salimsyah mengungkapkan, jumlah tersebut sangat berbeda dengan total transaksi ETF di bursa Malaysia yang mencapai USD21,9 juta, Singapura USD757,5 juta, ataupun Thailand USD130,9 juta.&quot;Saat ini pertumbuhan produk ETF, khususnya produk ETF milik Indo Premier sudah tumbuh 10 kali lipat sejak pertama kali diluncurkan di 2011,&quot; jelasnya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (25/4/2013) malam.Pertumbuhan tersebut, terlihat dari asset under management (AUM) keduanya yang mengalami peningkatan menjadi Rp275 miliar dari Rp25 miliar di 2011 dengan rentang transaksi yang terjadi di pasar primer sendiri antara Rp5 miliar-Rp80 miliar.Lebih lanjut menurutnya, produk ETF di Malaysia jauh lebih besar dibandingkan di Indonesia, sebagai contoh salah satu produk ETF Syariah terbesar di Malaysia NAB-nya sudah mencapai USD98 juta. &quot;Namun kami yakin produk ETF di Indonesia akan terus berkembang, karena semakin banyak investor yang telah merasakan manfaatnya,&quot; kata dia.Menurutnya, saat ini dua produk seperti ETF LQ45 ditargetkan NAB-nya dapat tumbuh menjadi Rp200-Rp250 miliar di akhir 2013 dari saat ini Rp125 miliar dan produk ETF IDX30 diproyeksikan dapat naik menjadi Rp200-Rp250 miliar. &quot;Kami juga berencana meluncurkan dua produk baru ETF yang akan diluncurkan, yakni ETF Jakarta Islamic Index (XIJI) dan ETF Indeks Saham Konsumer (XIIC) NAB-nya ditargetkan dapat mencapai masing-masing Rp100 miliar di akhir tahun ini,&quot; imbuh dia.</content:encoded></item></channel></rss>
