<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Naiknya Harga BBM Tambah Jumlah Masyarakat Miskin&quot;</title><description>Adanya kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak  (BBM) bersubsidi, mendapat penolakan. Pasalnya langkah yang akan  ditempuh pemerintah tersebut dianggap akan menciptakan masyarakat miskin  baru.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810904/naiknya-harga-bbm-tambah-jumlah-masyarakat-miskin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810904/naiknya-harga-bbm-tambah-jumlah-masyarakat-miskin"/><item><title>&quot;Naiknya Harga BBM Tambah Jumlah Masyarakat Miskin&quot;</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810904/naiknya-harga-bbm-tambah-jumlah-masyarakat-miskin</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810904/naiknya-harga-bbm-tambah-jumlah-masyarakat-miskin</guid><pubDate>Rabu 22 Mei 2013 14:53 WIB</pubDate><dc:creator>Rezkiana Nisaputra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/22/19/810904/qCXOtCeGB7.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/22/19/810904/qCXOtCeGB7.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Adanya kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, mendapat penolakan. Pasalnya langkah yang akan ditempuh pemerintah tersebut dianggap akan menciptakan masyarakat miskin baru.&quot;Memang menurut Pasal 8 ayat 10 UU APBN 2013, pemerintah mempunyai kewenangan untuk menaikan harga BBM bersubsidi, tapi dalam hal&amp;nbsp; kami tidak setuju dengan cara pemerintah yang mempertahankan kemiskinan dan menambah orang miskin baru,&quot; ujar Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR Dolfie Of Palit dalam Rapat Badan Anggaran DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (22/5/13).Sedangkan pada draf RAPBN-P 2013, Dolfie beranggapan, keinginan utama pemerintah ada pada upaya menaikkan harga BBM bersubsidi, maka pada akhirnya terjadi sejumlah penyesuaian terhadap ketidakberhasilan pencapaian target makro ekonomi. &quot;Kami malah tidak mendapatkan kejelasan alasan pemerintah yang ingin menaikkan harga BBM. Pemerintahkan juga harus mampu meyakinkan masyarakat atas kebijakan yang diambilnya tersebut,&quot; tukasnya.Lebih lanjut, Anggota Fraksi PDI-P tersebut menambahkan, kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi ini terlihat sebagai sikap pemerintah yang tetap mempertahankan jumlah orang miskin sebanyak 55 juta orang. &quot;Kebijakan inikan sama saja pemerintah dalam mempertahankan orang miskin yang sudah 55 juta dan tidak berupaya menyelesaikannya,&quot; ucapnya.Sementara Sejauh ini, pemerintah terus memperlihatkan kegagalan pencapaian asumsi makro ekonomi pada perlambatan ekonomi global.&amp;nbsp; &quot;Pemerintah itu selalu menyalahkan kegagalannya pada global. Apa pertangunggung jawaban pemerintah terhadap ketidaktercapaian semua ini,&quot; papar Dolfie.Sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat berjanji kepada masyarakat bahwa target penerimaan pajak di tahun ini sebesar 13,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sebesar Rp1.281 triliun.&quot;Janji Pak SBY, tahun ini target penerimaan kita dari sektor pajak seharusnya 13,6 persen PDB. Artinya apa? Pemerintah sendiri defisit janji terhadap masyarakat Indonesia sebesar Rp140 triliun,&quot; tutup Dolfie. (wan)</description><content:encoded>JAKARTA - Adanya kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, mendapat penolakan. Pasalnya langkah yang akan ditempuh pemerintah tersebut dianggap akan menciptakan masyarakat miskin baru.&quot;Memang menurut Pasal 8 ayat 10 UU APBN 2013, pemerintah mempunyai kewenangan untuk menaikan harga BBM bersubsidi, tapi dalam hal&amp;nbsp; kami tidak setuju dengan cara pemerintah yang mempertahankan kemiskinan dan menambah orang miskin baru,&quot; ujar Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR Dolfie Of Palit dalam Rapat Badan Anggaran DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (22/5/13).Sedangkan pada draf RAPBN-P 2013, Dolfie beranggapan, keinginan utama pemerintah ada pada upaya menaikkan harga BBM bersubsidi, maka pada akhirnya terjadi sejumlah penyesuaian terhadap ketidakberhasilan pencapaian target makro ekonomi. &quot;Kami malah tidak mendapatkan kejelasan alasan pemerintah yang ingin menaikkan harga BBM. Pemerintahkan juga harus mampu meyakinkan masyarakat atas kebijakan yang diambilnya tersebut,&quot; tukasnya.Lebih lanjut, Anggota Fraksi PDI-P tersebut menambahkan, kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi ini terlihat sebagai sikap pemerintah yang tetap mempertahankan jumlah orang miskin sebanyak 55 juta orang. &quot;Kebijakan inikan sama saja pemerintah dalam mempertahankan orang miskin yang sudah 55 juta dan tidak berupaya menyelesaikannya,&quot; ucapnya.Sementara Sejauh ini, pemerintah terus memperlihatkan kegagalan pencapaian asumsi makro ekonomi pada perlambatan ekonomi global.&amp;nbsp; &quot;Pemerintah itu selalu menyalahkan kegagalannya pada global. Apa pertangunggung jawaban pemerintah terhadap ketidaktercapaian semua ini,&quot; papar Dolfie.Sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat berjanji kepada masyarakat bahwa target penerimaan pajak di tahun ini sebesar 13,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sebesar Rp1.281 triliun.&quot;Janji Pak SBY, tahun ini target penerimaan kita dari sektor pajak seharusnya 13,6 persen PDB. Artinya apa? Pemerintah sendiri defisit janji terhadap masyarakat Indonesia sebesar Rp140 triliun,&quot; tutup Dolfie. (wan)</content:encoded></item></channel></rss>
