<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kenaikan BBM Bakal Kurangi Disparitas Harga</title><description>Nantinya harga yang dijual yakni Premium Rp6.500 per liter, dan Solar  menjadi Rp5.500 per liter. </description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810911/kenaikan-bbm-bakal-kurangi-disparitas-harga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810911/kenaikan-bbm-bakal-kurangi-disparitas-harga"/><item><title>Kenaikan BBM Bakal Kurangi Disparitas Harga</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810911/kenaikan-bbm-bakal-kurangi-disparitas-harga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/05/22/19/810911/kenaikan-bbm-bakal-kurangi-disparitas-harga</guid><pubDate>Rabu 22 Mei 2013 15:04 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/22/19/810911/RJ8LbZTXjc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/22/19/810911/RJ8LbZTXjc.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Guna menekan beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang terus membebani APBN, pemerintah akan menaikan harga BBM bersubsidi. Nantinya harga yang dijual yakni Premium Rp6.500 per liter, dan Solar menjadi Rp5.500 per liter. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng, mengatakan kenaikan terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi merupakan satu hal yang baik karena akan mengurangi disparitas harga.&quot;Kenaikan harga itu hal yang baik karena mengurangi disparitas. Orang untuk melakukan penyalahgunaan akan semakin berkurang kalau disparitas harga itu berkurang,&quot; ujar Andy kepada wartawan di Jakarta, Rabu (15/5/2013).Andy menjelaskan, tingginya disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi menimbulkan para spekulan. Orang lebih baik bolak balik ke SPBU beli bensin terus bensinnya dimasukkan ke botol-botol kemudian kembali dijual.&quot;Dia (orang) beli Rp4.500 per liter kemudian dijual Rp6.000 per liter, sudah lumayan. Apalagi kalau di pinggiran ada industri yang juga haus minyak Solar,&quot; tambahnya.Menurut Andy, jika subsidi hanya kepada BBM dengan disparitas yang cukup tinggi, maka akan sulit untuk mencapai sasaran. Subsidi seharusnya kepada orang untuk produktivitas. Sehingga orang yang tadinya tidak mampu dengan adanya subsidi bisa berproduksi.&quot;Jadi bagi BPH Migas, dengan disparitas yang semakin kecil itu semakin baik karena pengawasannya akan lebih baik dan tepat sasaran kepada sektor pengguna yang lebih berhak,&quot; tandas Andy.</description><content:encoded>JAKARTA - Guna menekan beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang terus membebani APBN, pemerintah akan menaikan harga BBM bersubsidi. Nantinya harga yang dijual yakni Premium Rp6.500 per liter, dan Solar menjadi Rp5.500 per liter. Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Sommeng, mengatakan kenaikan terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi merupakan satu hal yang baik karena akan mengurangi disparitas harga.&quot;Kenaikan harga itu hal yang baik karena mengurangi disparitas. Orang untuk melakukan penyalahgunaan akan semakin berkurang kalau disparitas harga itu berkurang,&quot; ujar Andy kepada wartawan di Jakarta, Rabu (15/5/2013).Andy menjelaskan, tingginya disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi menimbulkan para spekulan. Orang lebih baik bolak balik ke SPBU beli bensin terus bensinnya dimasukkan ke botol-botol kemudian kembali dijual.&quot;Dia (orang) beli Rp4.500 per liter kemudian dijual Rp6.000 per liter, sudah lumayan. Apalagi kalau di pinggiran ada industri yang juga haus minyak Solar,&quot; tambahnya.Menurut Andy, jika subsidi hanya kepada BBM dengan disparitas yang cukup tinggi, maka akan sulit untuk mencapai sasaran. Subsidi seharusnya kepada orang untuk produktivitas. Sehingga orang yang tadinya tidak mampu dengan adanya subsidi bisa berproduksi.&quot;Jadi bagi BPH Migas, dengan disparitas yang semakin kecil itu semakin baik karena pengawasannya akan lebih baik dan tepat sasaran kepada sektor pengguna yang lebih berhak,&quot; tandas Andy.</content:encoded></item></channel></rss>
