<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Defisit Primary Balance Bakal Tekan Rasio Utang</title><description>Defisit keseimbangan primer terjadi karena short fall pajak dan  struktur pengeluaran Belanja di APBN-Perubahan 2013 mengalami  peningkatan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/05/23/20/811606/defisit-primary-balance-bakal-tekan-rasio-utang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/05/23/20/811606/defisit-primary-balance-bakal-tekan-rasio-utang"/><item><title>Defisit Primary Balance Bakal Tekan Rasio Utang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/05/23/20/811606/defisit-primary-balance-bakal-tekan-rasio-utang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/05/23/20/811606/defisit-primary-balance-bakal-tekan-rasio-utang</guid><pubDate>Kamis 23 Mei 2013 16:43 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/23/20/811606/fmJl4qaZsa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/23/20/811606/fmJl4qaZsa.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan defisit keseimbangan primer (primary balance), yakni realisasi pendapatan negara dikurangi dengan realisasi belanja negara di luar pembayaran utang, dalam jangka pendek dapat memberi tekanan pada rasio utang Indonesia. Pasalnya, saat ini terjadi ketidaksesuaian penerimaan dan pengeluaran.&amp;nbsp;&quot;Nanti dalam jangka pendek ada kemungkinan pressure pada rasio utang, walaupun sekarang sih sebetulnya kita oke di 24 persen,&quot; ujar Menteri Keuangan Chatib Basri, di DPR RI, Jakarta, Kamis (23/5/2013).Chatib menjelaskan, defisit keseimbangan primer terjadi karena short fall pajak dan struktur pengeluaran Belanja di APBN-Perubahan 2013 mengalami peningkatan. &quot;Belanja pendidikan juga harus meningkat, jadi apapun yang terjadi, APBN-nya di satu sisi tidak fleksibel karena dikunci di 20 persen,&quot; katanya.Sedangkan di sisi penerimaan, lanjut Chatib, harga komoditas menurun, dan sumber pajak dari perusahaan tambang juga mengalami menurun. Oleh karena itu, ada permasalahan di keseimbangan primer.Di kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Bambang PS Brojonegoro mengatakan, primary balance masih bisa mengalami surplus. Meski demikian, dia mengatakan masih ada Break Event Point (BEP). &quot;Mungkin 2016-2017 kita baru bisa surplus,&quot; katanya.Bambang mengatakan, keseimbangan primer sedang menuju titik nol terlebih dahulu. &quot;Karena itu butuh defisit bisa ditekan dan penerimaan juga harus tetap solid,&quot; ujar Bambang.Dia melanjutkan, hal tersebut sangat mungkin tercapai jika Indonesia dapat menjaga subsidi tidak melonjak terlalu tinggi dan defisitnya bisa di 1,2 persen. &quot;Makanya kita taruh di 1,2-1,5 persen, karena itu untuk menekan keseimbangan primer,&quot; tukas dia.Sekadar informasi, dalam APBN 2013 defisit keseimbangan primer Rp40,1 triliun, dan pada Rancangan APBN 2014 target defisitnya turun menjadi Rp30 triliun. Ditargetkan, pada 2016 sudah mencapai surplus.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan defisit keseimbangan primer (primary balance), yakni realisasi pendapatan negara dikurangi dengan realisasi belanja negara di luar pembayaran utang, dalam jangka pendek dapat memberi tekanan pada rasio utang Indonesia. Pasalnya, saat ini terjadi ketidaksesuaian penerimaan dan pengeluaran.&amp;nbsp;&quot;Nanti dalam jangka pendek ada kemungkinan pressure pada rasio utang, walaupun sekarang sih sebetulnya kita oke di 24 persen,&quot; ujar Menteri Keuangan Chatib Basri, di DPR RI, Jakarta, Kamis (23/5/2013).Chatib menjelaskan, defisit keseimbangan primer terjadi karena short fall pajak dan struktur pengeluaran Belanja di APBN-Perubahan 2013 mengalami peningkatan. &quot;Belanja pendidikan juga harus meningkat, jadi apapun yang terjadi, APBN-nya di satu sisi tidak fleksibel karena dikunci di 20 persen,&quot; katanya.Sedangkan di sisi penerimaan, lanjut Chatib, harga komoditas menurun, dan sumber pajak dari perusahaan tambang juga mengalami menurun. Oleh karena itu, ada permasalahan di keseimbangan primer.Di kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Bambang PS Brojonegoro mengatakan, primary balance masih bisa mengalami surplus. Meski demikian, dia mengatakan masih ada Break Event Point (BEP). &quot;Mungkin 2016-2017 kita baru bisa surplus,&quot; katanya.Bambang mengatakan, keseimbangan primer sedang menuju titik nol terlebih dahulu. &quot;Karena itu butuh defisit bisa ditekan dan penerimaan juga harus tetap solid,&quot; ujar Bambang.Dia melanjutkan, hal tersebut sangat mungkin tercapai jika Indonesia dapat menjaga subsidi tidak melonjak terlalu tinggi dan defisitnya bisa di 1,2 persen. &quot;Makanya kita taruh di 1,2-1,5 persen, karena itu untuk menekan keseimbangan primer,&quot; tukas dia.Sekadar informasi, dalam APBN 2013 defisit keseimbangan primer Rp40,1 triliun, dan pada Rancangan APBN 2014 target defisitnya turun menjadi Rp30 triliun. Ditargetkan, pada 2016 sudah mencapai surplus.</content:encoded></item></channel></rss>
