<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daerah Tertinggal Butuh Anggaran Rp7 Triliun</title><description>Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini mengaku  sepanjang orde baru (orba) dana alokasi untuk daerah tertinggal sebesar  Rp7 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/06/05/20/817961/daerah-tertinggal-butuh-anggaran-rp7-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/06/05/20/817961/daerah-tertinggal-butuh-anggaran-rp7-triliun"/><item><title>Daerah Tertinggal Butuh Anggaran Rp7 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/06/05/20/817961/daerah-tertinggal-butuh-anggaran-rp7-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/06/05/20/817961/daerah-tertinggal-butuh-anggaran-rp7-triliun</guid><pubDate>Rabu 05 Juni 2013 17:18 WIB</pubDate><dc:creator>Rachmad Faisal Harahap</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/06/05/20/817961/CgMEUu56lP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/06/05/20/817961/CgMEUu56lP.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini mengaku sepanjang orde baru (orba) dana alokasi untuk daerah tertinggal sebesar Rp7 triliun.&quot;Sepanjang orba, penghitungan dana alokasi khusus ini tidak afirmatif, kita perlu Rp6 triliun, kalau ke daerah tertinggal hanya Rp7 triliun,&quot; tukasnya saat berkunjung ke Redaksi Koran Sindo, di Jakarta, Rabu (5/6/2013).Menurut dia, kabupaten tertinggal membutuhkan 2.000 waduk air. Pada 2012 akhirnya disetujui sebesar Rp15 triliun, seharusnya untuk daerah tertinggal.&quot;Sudah menggeser 180 miliar untuk 58 kabupaten. Bahwa membuat kebijakan sosial tidak memiskinkan daerah yang tertinggal,&quot; jelasnya.Dia menambahkan, banyak potensi di daerah tertinggal yang dimiliki Indonesia, seperti penghasil kopi. Namun potensi ini kurang digarap dengan baik. Sehingga pemerintah harus memanfaatkan lahan tidur.&quot;Kita memanfaatkan lahan tidur, tidak banyak yang tahu. Untuk lahan tidur, saya tahu banyak potensi yang dimiliki, penghasil kopi terbaik dunia, kalau cokelat Swiss,&quot; tuturnya.Namun bagi pencinta kopi, baru 20-27 persen lahan yang hilirnya digarap dengan baik. &quot;Sehebat apa pun kita, kalau hilirnya tidak dijaga dengan kuat, maka tidak akan jalan. Program-program di PDT itu akhirnya saya ubah, satu produk unggulan kabupaten (pukab), dua untuk infrastruktur desa,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini mengaku sepanjang orde baru (orba) dana alokasi untuk daerah tertinggal sebesar Rp7 triliun.&quot;Sepanjang orba, penghitungan dana alokasi khusus ini tidak afirmatif, kita perlu Rp6 triliun, kalau ke daerah tertinggal hanya Rp7 triliun,&quot; tukasnya saat berkunjung ke Redaksi Koran Sindo, di Jakarta, Rabu (5/6/2013).Menurut dia, kabupaten tertinggal membutuhkan 2.000 waduk air. Pada 2012 akhirnya disetujui sebesar Rp15 triliun, seharusnya untuk daerah tertinggal.&quot;Sudah menggeser 180 miliar untuk 58 kabupaten. Bahwa membuat kebijakan sosial tidak memiskinkan daerah yang tertinggal,&quot; jelasnya.Dia menambahkan, banyak potensi di daerah tertinggal yang dimiliki Indonesia, seperti penghasil kopi. Namun potensi ini kurang digarap dengan baik. Sehingga pemerintah harus memanfaatkan lahan tidur.&quot;Kita memanfaatkan lahan tidur, tidak banyak yang tahu. Untuk lahan tidur, saya tahu banyak potensi yang dimiliki, penghasil kopi terbaik dunia, kalau cokelat Swiss,&quot; tuturnya.Namun bagi pencinta kopi, baru 20-27 persen lahan yang hilirnya digarap dengan baik. &quot;Sehebat apa pun kita, kalau hilirnya tidak dijaga dengan kuat, maka tidak akan jalan. Program-program di PDT itu akhirnya saya ubah, satu produk unggulan kabupaten (pukab), dua untuk infrastruktur desa,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
