<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Petral Merajalela, Dahlan Cuma Diam Seribu Bahasa&quot;</title><description>Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah berjanji untuk bereskan Petral. Tapi  sampai saat ini, Dahlan Cuma diam seribu bahasa untuk masalah Petra ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/06/22/19/826041/petral-merajalela-dahlan-cuma-diam-seribu-bahasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/06/22/19/826041/petral-merajalela-dahlan-cuma-diam-seribu-bahasa"/><item><title>&quot;Petral Merajalela, Dahlan Cuma Diam Seribu Bahasa&quot;</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/06/22/19/826041/petral-merajalela-dahlan-cuma-diam-seribu-bahasa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/06/22/19/826041/petral-merajalela-dahlan-cuma-diam-seribu-bahasa</guid><pubDate>Sabtu 22 Juni 2013 17:15 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/06/22/19/826041/qenBOYrAR5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Forbes)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/06/22/19/826041/qenBOYrAR5.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Forbes)</title></images><description>JAKARTA - Pengamat ekonomi Faisal Basri mempertanyakan langkah pemerintah yang membeli minyak mentah dan produk BBM dari luar negeri dengan harga yang mahal. &quot;Minyak light sweet itu rata-rata tidak di atas USD100 per barel. Kenapa kita beli minyak yang mahal di atas USD100 per barel dan kenapa selalu harus melalui Petral (Anak Usaha PT Pertamina),&amp;rdquo; ungkap Faisal di Jakarta, Sabtu (22/6/2013).Menurut Faisal, dengan mengimpor minyak keluar negeri melalui Petral, jarak harga beli dan jarak harga jual terlalu jauh.&quot;Ini marginnya kelewatan. Kenapa enggak beli di Irak, Iran, Nigeria ataupun Angola yang harga minyaknya lebih murah,&quot; jelas Faisal.Dia menambahkan, ini seharusnya di audit oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) mengenai ongkos pembelian minyak keluar negeri. Dia pun mempertanyakan kenapa waktu pembuatan kilang itu untuk minyak yang mahal.&quot;Mengapa kita enggak pernah minta BPK untuk audit ongkos minyak, sehingga nilai subsidinya bisa ditekan. Saya takut ini diotak-atik ongkos auditnya. Dan untuk kilang, kenapa pas pembuatan kilang tidak bikin yang murah saja?&quot; tegas Faisal.Padahal, Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah berjanji untuk bereskan Petral. Tapi sampai saat ini, kata Faisal, Dahlan Cuma diam seribu bahasa untuk masalah Petral.&quot;Ini kita harus minta untuk buat tim invetigasi netral untuk mengetahui boroknya bisnis perminyakan ini mulai dari pengadaan minyak mentah hingga produk BBM-nya dan dijual sampai di SPBU. Kalau bisa beli langsung kenapa harus pakai calo. Ini harus dibasmi, mudah-mudahan penderitaan kita kurang,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pengamat ekonomi Faisal Basri mempertanyakan langkah pemerintah yang membeli minyak mentah dan produk BBM dari luar negeri dengan harga yang mahal. &quot;Minyak light sweet itu rata-rata tidak di atas USD100 per barel. Kenapa kita beli minyak yang mahal di atas USD100 per barel dan kenapa selalu harus melalui Petral (Anak Usaha PT Pertamina),&amp;rdquo; ungkap Faisal di Jakarta, Sabtu (22/6/2013).Menurut Faisal, dengan mengimpor minyak keluar negeri melalui Petral, jarak harga beli dan jarak harga jual terlalu jauh.&quot;Ini marginnya kelewatan. Kenapa enggak beli di Irak, Iran, Nigeria ataupun Angola yang harga minyaknya lebih murah,&quot; jelas Faisal.Dia menambahkan, ini seharusnya di audit oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) mengenai ongkos pembelian minyak keluar negeri. Dia pun mempertanyakan kenapa waktu pembuatan kilang itu untuk minyak yang mahal.&quot;Mengapa kita enggak pernah minta BPK untuk audit ongkos minyak, sehingga nilai subsidinya bisa ditekan. Saya takut ini diotak-atik ongkos auditnya. Dan untuk kilang, kenapa pas pembuatan kilang tidak bikin yang murah saja?&quot; tegas Faisal.Padahal, Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah berjanji untuk bereskan Petral. Tapi sampai saat ini, kata Faisal, Dahlan Cuma diam seribu bahasa untuk masalah Petral.&quot;Ini kita harus minta untuk buat tim invetigasi netral untuk mengetahui boroknya bisnis perminyakan ini mulai dari pengadaan minyak mentah hingga produk BBM-nya dan dijual sampai di SPBU. Kalau bisa beli langsung kenapa harus pakai calo. Ini harus dibasmi, mudah-mudahan penderitaan kita kurang,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
