<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Petani Sawit Harus Dibekali Fasilitas Memadai</title><description>Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) menyatakan Indonesia berpotensi  menjadi salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/07/02/320/830565/petani-sawit-harus-dibekali-fasilitas-memadai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/07/02/320/830565/petani-sawit-harus-dibekali-fasilitas-memadai"/><item><title> Petani Sawit Harus Dibekali Fasilitas Memadai</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/07/02/320/830565/petani-sawit-harus-dibekali-fasilitas-memadai</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/07/02/320/830565/petani-sawit-harus-dibekali-fasilitas-memadai</guid><pubDate>Selasa 02 Juli 2013 11:38 WIB</pubDate><dc:creator>Hendra Kusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/07/02/320/830565/SE3SCeRFf6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/07/02/320/830565/SE3SCeRFf6.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) menyatakan Indonesia berpotensi menjadi salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Produksi tersebut disebabkan terutama dari deforestasi, karena buruknya tata kelola penggunaan lahan.Kepala Sekretaris DNPI Agus Purnomo mengatakan, butuh dukungan dari semua pihak yang terkait, baik dari dalam maupun luar negeri, agar dapat menerapkan pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan.&quot;Dengan aspek keselamatan, sebagai bagian yang tidak terlepaskan dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan. Mau tidak mau memasukan aspek keselamatan, tidak mudah mengubah paradigma pembangunan yang kuno,&quot; kata Agus di Hotel Alila, Jakarta, Selasa (2/7/2013).Menurut Agus, Indonesia telah menetapkan target untuk meningkatkan produksi kelapa sawit dari 25 juta ton pada 2012, menjadi 40 juta ton pada 2020. Pencapaian target nasional kelapa sawit bisa dilakukan Indonesia dengan mendorong peningkatan produktivitas perkebunan sawit.&quot;Bisa juga menerapkan praktek pengelolaan perkebunan yang ramah lingkungan, dan menghindari ekspansi yang berakibat deforestasi,&quot; tambahnya.Agus mengungkapkan, praktik pengelolaan perkebunan yang dilakukan oleh petani sawit mandiri yang memilih untuk meningkatkan produktivitas kebun yang telah ada tanpa harus merusak hutan. &quot;Kemandirian petani yang bisa mendapat dukungan dari berbagai pihak dan membuktikan bahwa peningkatan ekonomi masyarakat harus sejalan dengan perlindungan hutan,&quot; tandasnya.Oleh karena itu, Agus berharap agar para petani dibekali berbagai fasilitas untuk meningkatkan kapasitas teknis dan manajemen pengelolaan perkebunan dengan menerapkan standar-standar ramah lingkungan di setiap perkebunan.</description><content:encoded>JAKARTA - Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) menyatakan Indonesia berpotensi menjadi salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Produksi tersebut disebabkan terutama dari deforestasi, karena buruknya tata kelola penggunaan lahan.Kepala Sekretaris DNPI Agus Purnomo mengatakan, butuh dukungan dari semua pihak yang terkait, baik dari dalam maupun luar negeri, agar dapat menerapkan pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan.&quot;Dengan aspek keselamatan, sebagai bagian yang tidak terlepaskan dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan. Mau tidak mau memasukan aspek keselamatan, tidak mudah mengubah paradigma pembangunan yang kuno,&quot; kata Agus di Hotel Alila, Jakarta, Selasa (2/7/2013).Menurut Agus, Indonesia telah menetapkan target untuk meningkatkan produksi kelapa sawit dari 25 juta ton pada 2012, menjadi 40 juta ton pada 2020. Pencapaian target nasional kelapa sawit bisa dilakukan Indonesia dengan mendorong peningkatan produktivitas perkebunan sawit.&quot;Bisa juga menerapkan praktek pengelolaan perkebunan yang ramah lingkungan, dan menghindari ekspansi yang berakibat deforestasi,&quot; tambahnya.Agus mengungkapkan, praktik pengelolaan perkebunan yang dilakukan oleh petani sawit mandiri yang memilih untuk meningkatkan produktivitas kebun yang telah ada tanpa harus merusak hutan. &quot;Kemandirian petani yang bisa mendapat dukungan dari berbagai pihak dan membuktikan bahwa peningkatan ekonomi masyarakat harus sejalan dengan perlindungan hutan,&quot; tandasnya.Oleh karena itu, Agus berharap agar para petani dibekali berbagai fasilitas untuk meningkatkan kapasitas teknis dan manajemen pengelolaan perkebunan dengan menerapkan standar-standar ramah lingkungan di setiap perkebunan.</content:encoded></item></channel></rss>
