<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anjloknya Rupiah Gerus Daya Saing Manufaktur</title><description>&quot;Kalau bahan bakunya diimpor dari sisi bahan baku tidak ada gain. Tapi  manufacturing cost-nya kan banyak komponen rupiah. Listrik (dalam)  rupiah, buruh rupiah. Ya kan,&quot; ujar Ketua GPEI Beni Sutrisno, di Kantor  Menko Perekonomian, Jakarta, Kamis (22/8/2013).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/08/22/320/854102/anjloknya-rupiah-gerus-daya-saing-manufaktur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/08/22/320/854102/anjloknya-rupiah-gerus-daya-saing-manufaktur"/><item><title>Anjloknya Rupiah Gerus Daya Saing Manufaktur</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/08/22/320/854102/anjloknya-rupiah-gerus-daya-saing-manufaktur</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/08/22/320/854102/anjloknya-rupiah-gerus-daya-saing-manufaktur</guid><pubDate>Kamis 22 Agustus 2013 19:13 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhri Rezy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/08/22/320/854102/ajrzIFLrTB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi: (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/08/22/320/854102/ajrzIFLrTB.jpg</image><title>ilustrasi: (foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) mengatakan, pengaruh melemahnya rupiah akan berdampak pada biaya manufaktur. Pasalnya, tiap rupiah turun 10 persen, akan berpengaruh ke competitivenes sekira 3 persen.&quot;Kalau bahan bakunya diimpor dari sisi bahan baku tidak ada gain. Tapi manufacturing cost-nya kan banyak komponen rupiah. Listrik (dalam) rupiah, buruh rupiah. Ya kan,&quot; ujar Ketua GPEI Beni Sutrisno, di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Kamis (22/8/2013).Beni mengatakan, bila biaya bahan baku 60 persen dan biaya domestik 40 persen, maka terjadi penurunan domestik sebesar 30 persen. &quot;Kalau 30 persen merosotnya 10 persen, jadi cuma 3 persen dapatnya competitiveness-nya,&quot; ujarnya.Dia mengatakan, oleh sebab itu perlu kebijakan seperti industri padat karya diberi insentif supaya bergairah. Kalau ekspor dibebankan banyak, termasuk BI membebankan hasil devisa ekspor. &quot;Kalau kita impor, kita tidak dibebankan apa-apa kira-kira begitu. apalagi yang impor menyelundup lagi. Kirim uang ke luar tidak ada beban administrasi apa-apa,&quot; ujar Beni. (wan)</description><content:encoded>JAKARTA - Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) mengatakan, pengaruh melemahnya rupiah akan berdampak pada biaya manufaktur. Pasalnya, tiap rupiah turun 10 persen, akan berpengaruh ke competitivenes sekira 3 persen.&quot;Kalau bahan bakunya diimpor dari sisi bahan baku tidak ada gain. Tapi manufacturing cost-nya kan banyak komponen rupiah. Listrik (dalam) rupiah, buruh rupiah. Ya kan,&quot; ujar Ketua GPEI Beni Sutrisno, di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Kamis (22/8/2013).Beni mengatakan, bila biaya bahan baku 60 persen dan biaya domestik 40 persen, maka terjadi penurunan domestik sebesar 30 persen. &quot;Kalau 30 persen merosotnya 10 persen, jadi cuma 3 persen dapatnya competitiveness-nya,&quot; ujarnya.Dia mengatakan, oleh sebab itu perlu kebijakan seperti industri padat karya diberi insentif supaya bergairah. Kalau ekspor dibebankan banyak, termasuk BI membebankan hasil devisa ekspor. &quot;Kalau kita impor, kita tidak dibebankan apa-apa kira-kira begitu. apalagi yang impor menyelundup lagi. Kirim uang ke luar tidak ada beban administrasi apa-apa,&quot; ujar Beni. (wan)</content:encoded></item></channel></rss>
