<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Miliarder Rusia Khawatirkan Kebijakan Smelter RI</title><description>Rencana investasi Rusia Aluminium (UC RUSAL), perusahaan bauksit raksasa  milik miliarder Rusia Oleg Deripaska, di Indonesia menghadapi beberapa  kekhawatiran</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/11/19/20/899458/miliarder-rusia-khawatirkan-kebijakan-smelter-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/11/19/20/899458/miliarder-rusia-khawatirkan-kebijakan-smelter-ri"/><item><title>Miliarder Rusia Khawatirkan Kebijakan Smelter RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/11/19/20/899458/miliarder-rusia-khawatirkan-kebijakan-smelter-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/11/19/20/899458/miliarder-rusia-khawatirkan-kebijakan-smelter-ri</guid><pubDate>Selasa 19 November 2013 17:49 WIB</pubDate><dc:creator>Petrus Paulus Lelyemin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/11/19/20/899458/tgEMKm8IqU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/11/19/20/899458/tgEMKm8IqU.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Rencana investasi Rusia Aluminium (UC RUSAL), perusahaan bauksit raksasa milik miliarder Rusia Oleg Deripaska, di Indonesia menghadapi beberapa kekhawatiran. Pasalnya, pihak Rusia khawatir kebijakan hilirisasi pemerintah sesuai Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 bisa berubah ke depannya.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengungkapkan pihak UC RUSAL khawatir, ke depannya pemerintah Indonesia bisa saja mengubah kebijakan tersebut. Karena, lanjut Hatta, hal tersebut nantinya dapat merugikan UC RUSAL yang akan berinvestasi di industri hilirisasi aluminium.&quot;Mereka masih khawatir kita flip-flop dengan kebijakan ini. Kalau besok kita ubah lagi, bisa ekspor, mereka kan rugi,&quot; tutur Hatta seusai menemui CEO UC RUSAL, Oleg Deripaska, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta , Selasa (19/11/2013).Hatta mengungkapkan investasi sebesar USD6 miliar tersebut akan dimulai dengan pembangunan pabrik smelater yang akan mengelola bauksit menjadi alumina sebelum diolah menjadi aluminium foil. Angka tersebut lebih awal akan dimulai dengan nominal USD3 miliar, lanjut Hatta.&quot;Mereka akan mulai dengan USD3 miliar untuk awal. Pembangunan smelternya akan segera dilakukan,&quot; tutur Hatta.Selain itu, untuk pengelolaan tembaga, kedua pihak masih harus membahas lebih rinci terkait pembagiannya, mengingat Indonesia kini telah memiliki smelter yang mengelolah kurang lebih 30 persen tembaga.&quot;Untuk tembaga kita masih harus membahas karena kita sudah 30 persen pengelolaannya. Smelter mereka ini direncanakan akan dibangun di Kalimantan,&quot; pungkasnya.(rez)</description><content:encoded>JAKARTA - Rencana investasi Rusia Aluminium (UC RUSAL), perusahaan bauksit raksasa milik miliarder Rusia Oleg Deripaska, di Indonesia menghadapi beberapa kekhawatiran. Pasalnya, pihak Rusia khawatir kebijakan hilirisasi pemerintah sesuai Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 bisa berubah ke depannya.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengungkapkan pihak UC RUSAL khawatir, ke depannya pemerintah Indonesia bisa saja mengubah kebijakan tersebut. Karena, lanjut Hatta, hal tersebut nantinya dapat merugikan UC RUSAL yang akan berinvestasi di industri hilirisasi aluminium.&quot;Mereka masih khawatir kita flip-flop dengan kebijakan ini. Kalau besok kita ubah lagi, bisa ekspor, mereka kan rugi,&quot; tutur Hatta seusai menemui CEO UC RUSAL, Oleg Deripaska, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta , Selasa (19/11/2013).Hatta mengungkapkan investasi sebesar USD6 miliar tersebut akan dimulai dengan pembangunan pabrik smelater yang akan mengelola bauksit menjadi alumina sebelum diolah menjadi aluminium foil. Angka tersebut lebih awal akan dimulai dengan nominal USD3 miliar, lanjut Hatta.&quot;Mereka akan mulai dengan USD3 miliar untuk awal. Pembangunan smelternya akan segera dilakukan,&quot; tutur Hatta.Selain itu, untuk pengelolaan tembaga, kedua pihak masih harus membahas lebih rinci terkait pembagiannya, mengingat Indonesia kini telah memiliki smelter yang mengelolah kurang lebih 30 persen tembaga.&quot;Untuk tembaga kita masih harus membahas karena kita sudah 30 persen pengelolaannya. Smelter mereka ini direncanakan akan dibangun di Kalimantan,&quot; pungkasnya.(rez)</content:encoded></item></channel></rss>
