<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Karya Arsitektur Tak Boleh Egois</title><description>Modern adalah konsep kekinian dan mengarah ke masa depan. Dalam karya  arsitektur, konsep modern mengusung sesuatu yang baru dan digabungkan  dengan material baru.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2013/12/17/471/913366/karya-arsitektur-tak-boleh-egois</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2013/12/17/471/913366/karya-arsitektur-tak-boleh-egois"/><item><title>Karya Arsitektur Tak Boleh Egois</title><link>https://economy.okezone.com/read/2013/12/17/471/913366/karya-arsitektur-tak-boleh-egois</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2013/12/17/471/913366/karya-arsitektur-tak-boleh-egois</guid><pubDate>Selasa 17 Desember 2013 11:39 WIB</pubDate><dc:creator>Yuni Astutik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/12/17/471/913366/Bn2Vbr3SWA.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/12/17/471/913366/Bn2Vbr3SWA.JPG</image><title>Ilustrasi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Modern adalah konsep kekinian dan mengarah ke masa depan. Dalam karya arsitektur, konsep modern mengusung sesuatu yang baru dan digabungkan dengan material baru.Arsitek Cosmas D Gozali misalnya, merupakan salah satu arsitek Indonesia yang mengusung tema modern dalam setiap karyanya.&quot;Misalnya, saya banyak menggunakan atap datar. Padahal kita kan negara tropis yang harusnya menggunakan atap miring,&quot; katanya saat ditemui Okezone di kantornya, beberapa waktu lalu.Selain mengusung tema modern, dia menyebut karya arsitektur buatannya adalah karya yang unik. Sebab, setiap karya arsitektur yang dibuatnya memiliki karakter masing-masing.&quot;Karena semua saya buat berdasarkan klien. Dan setiap klien kan punya karakter yang berbeda-beda,&quot; ujarnya.Dia juga menyebut, setiap karya arsitektur yang dibuat memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya. Hal itu pula yang membuat karyanya memiliki keunikan serta ciri khas.&quot;Orang yang sudah mengenal saya akan tahu, kalau yang saya buat ada benang merahnya,&quot; katanya kemudian.Selanjutnya, jika dilihat secara kasat mata, karya yang dibuat Cosmas identik dengan warna putih. Saat ditanya lebih jauh, apa maksud dari warna putih, secara personal, lelaki lulusan Universitas di Wina, Austria ini memang menyukai putih.&quot;Putih itu bersih, clean, simple, sederhana,&quot; kata Cosmas.Saat membuat karya arsitektur, menurutnya tidak boleh egois. Egois maksudnya adalah, harus bisa melihat segi bangunan dari fungsinya. Putih melambangkan kanvas. Sehingga nantinya, si empunya rumah bisa memberikan warna sesuai keinginan dan gaya pemilik rumah.&quot;Saya memberikan kanvas, penghuninya nanti yang akan memberikan warna,&quot; lanjutnya.lebih jauh dia juga menyebut, putih merupakan warna yang terang. Warna ini juga memantulkan cahaya lebih luas.Tradisional vs ModernBerbicara mengenai desain modern, dia menyebut jika tema itu bisa disatukan dengan desain tradisional. Contoh yang sudah pernah dibuatnya adalah hunian Duta Besar (Dubes) Swiss di Menteng. Dia mengaku mencampurkan unsur lokal dengan budaya Swiss.&quot;Saya pakai material sederhana, batu Kerawang, batu bata biasa dan juga batu andesit. Sempat ada yang bertanya, kenapa tidak pakai marmer dari Eropa? Tetapi saya tetap memilih unsur lokal,&quot;&amp;nbsp; terangnya.Material-material itu, lanjutnya, merupakan material yang murah dan mudah didapat. Yang membuatnya berbeda adalah teknik dana cara pengolahan agar hasil akhirnya menjadi sesuatu yang memiliki ciri khas dan terkesan mahal.&quot;Tapi dalam mengolah, kita membuat sesuatu yang berbeda sehingga hasilnya bagus. Setelah jadi, ternyata material murah jadi bagus,&quot; bebernya.Terakhir dia menyatakan, untuk membuat hasil akhir yang bagus dan memiliki nilai yang tinggi tidak selalu menggunakan bahan-bahan mahal. Untuk itu, kejelian dalam memanfaatkan bahan lokal harus terus diasah.&quot;(Arsitek Indonesia) bisa bersaing dengan luar. Problemnya hanya penggunaan material yang belum maksimal dan pemahaman terhadap material dan mengombinasikan teknologinya,&quot; tandasnya.Menurutnya, itulah yang perlu dilakukan oleh arsitek muda. Dia pun terpanggil untuk menyelamatkan mahasiswa yang baru lulus menjadi arsitek dengan menerbitkan buku berjudul Soul of Space. Isinya adalah kiat sukses menjadi arsitek. Tujuannya supaya aristek muda memiliki gambaran dan memiliki panutan, bahwa arsitek Indonesia bisa go international, walaupun ukuran kesuksesan bukan hanya materi.&amp;nbsp;&quot;Saya pun ditegur oleh rekan saya, kenapa you lakukan itu? Itukan you punya rahasia. Nanti dicontek orang. Saya jawab, ah ini sama saja dengan resep bumbu nasi goreng. Semua orang tahu bumbu nasi goreng pakai bawang, kecap, dan garam. Tetapi kenapa si Mamat yang jualan nasi gorengnya paling laku? Pasti dia punya rezekinya sendiri. Saya berprinsip, rezeki dan kebahagiaan semua sudah ada yang mengatur,&quot; ceritanya. Buku yang dia publikasikan itu tak lantas masuk ke dalam kantong pribadinya. Dia menyumbangkan hasil penjualan kepapda 70 universitas yang memiliki fakultas Arsitek. (Bersambung)</description><content:encoded>JAKARTA - Modern adalah konsep kekinian dan mengarah ke masa depan. Dalam karya arsitektur, konsep modern mengusung sesuatu yang baru dan digabungkan dengan material baru.Arsitek Cosmas D Gozali misalnya, merupakan salah satu arsitek Indonesia yang mengusung tema modern dalam setiap karyanya.&quot;Misalnya, saya banyak menggunakan atap datar. Padahal kita kan negara tropis yang harusnya menggunakan atap miring,&quot; katanya saat ditemui Okezone di kantornya, beberapa waktu lalu.Selain mengusung tema modern, dia menyebut karya arsitektur buatannya adalah karya yang unik. Sebab, setiap karya arsitektur yang dibuatnya memiliki karakter masing-masing.&quot;Karena semua saya buat berdasarkan klien. Dan setiap klien kan punya karakter yang berbeda-beda,&quot; ujarnya.Dia juga menyebut, setiap karya arsitektur yang dibuat memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya. Hal itu pula yang membuat karyanya memiliki keunikan serta ciri khas.&quot;Orang yang sudah mengenal saya akan tahu, kalau yang saya buat ada benang merahnya,&quot; katanya kemudian.Selanjutnya, jika dilihat secara kasat mata, karya yang dibuat Cosmas identik dengan warna putih. Saat ditanya lebih jauh, apa maksud dari warna putih, secara personal, lelaki lulusan Universitas di Wina, Austria ini memang menyukai putih.&quot;Putih itu bersih, clean, simple, sederhana,&quot; kata Cosmas.Saat membuat karya arsitektur, menurutnya tidak boleh egois. Egois maksudnya adalah, harus bisa melihat segi bangunan dari fungsinya. Putih melambangkan kanvas. Sehingga nantinya, si empunya rumah bisa memberikan warna sesuai keinginan dan gaya pemilik rumah.&quot;Saya memberikan kanvas, penghuninya nanti yang akan memberikan warna,&quot; lanjutnya.lebih jauh dia juga menyebut, putih merupakan warna yang terang. Warna ini juga memantulkan cahaya lebih luas.Tradisional vs ModernBerbicara mengenai desain modern, dia menyebut jika tema itu bisa disatukan dengan desain tradisional. Contoh yang sudah pernah dibuatnya adalah hunian Duta Besar (Dubes) Swiss di Menteng. Dia mengaku mencampurkan unsur lokal dengan budaya Swiss.&quot;Saya pakai material sederhana, batu Kerawang, batu bata biasa dan juga batu andesit. Sempat ada yang bertanya, kenapa tidak pakai marmer dari Eropa? Tetapi saya tetap memilih unsur lokal,&quot;&amp;nbsp; terangnya.Material-material itu, lanjutnya, merupakan material yang murah dan mudah didapat. Yang membuatnya berbeda adalah teknik dana cara pengolahan agar hasil akhirnya menjadi sesuatu yang memiliki ciri khas dan terkesan mahal.&quot;Tapi dalam mengolah, kita membuat sesuatu yang berbeda sehingga hasilnya bagus. Setelah jadi, ternyata material murah jadi bagus,&quot; bebernya.Terakhir dia menyatakan, untuk membuat hasil akhir yang bagus dan memiliki nilai yang tinggi tidak selalu menggunakan bahan-bahan mahal. Untuk itu, kejelian dalam memanfaatkan bahan lokal harus terus diasah.&quot;(Arsitek Indonesia) bisa bersaing dengan luar. Problemnya hanya penggunaan material yang belum maksimal dan pemahaman terhadap material dan mengombinasikan teknologinya,&quot; tandasnya.Menurutnya, itulah yang perlu dilakukan oleh arsitek muda. Dia pun terpanggil untuk menyelamatkan mahasiswa yang baru lulus menjadi arsitek dengan menerbitkan buku berjudul Soul of Space. Isinya adalah kiat sukses menjadi arsitek. Tujuannya supaya aristek muda memiliki gambaran dan memiliki panutan, bahwa arsitek Indonesia bisa go international, walaupun ukuran kesuksesan bukan hanya materi.&amp;nbsp;&quot;Saya pun ditegur oleh rekan saya, kenapa you lakukan itu? Itukan you punya rahasia. Nanti dicontek orang. Saya jawab, ah ini sama saja dengan resep bumbu nasi goreng. Semua orang tahu bumbu nasi goreng pakai bawang, kecap, dan garam. Tetapi kenapa si Mamat yang jualan nasi gorengnya paling laku? Pasti dia punya rezekinya sendiri. Saya berprinsip, rezeki dan kebahagiaan semua sudah ada yang mengatur,&quot; ceritanya. Buku yang dia publikasikan itu tak lantas masuk ke dalam kantong pribadinya. Dia menyumbangkan hasil penjualan kepapda 70 universitas yang memiliki fakultas Arsitek. (Bersambung)</content:encoded></item></channel></rss>
