<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>1 Januari, Harga LPG 12 Kg Naik</title><description>Terhitung mulai 1 Januari 2014, Pertamina  memberlakukan harga baru Elpiji non subsidi kemasan 12 kg secara  serentak di seluruh Indonesia dengan rata-rata kenaikan di tingkat  konsumen sebesar Rp3.959 per kg.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2014/01/01/19/920148/1-januari-harga-lpg-12-kg-naik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2014/01/01/19/920148/1-januari-harga-lpg-12-kg-naik"/><item><title>1 Januari, Harga LPG 12 Kg Naik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2014/01/01/19/920148/1-januari-harga-lpg-12-kg-naik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2014/01/01/19/920148/1-januari-harga-lpg-12-kg-naik</guid><pubDate>Rabu 01 Januari 2014 11:02 WIB</pubDate><dc:creator>Rizkie Fauzian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/01/01/19/920148/gxJwVFJRmz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tabung Gas Elpiji 12 Kg (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/01/01/19/920148/gxJwVFJRmz.jpg</image><title>Tabung Gas Elpiji 12 Kg (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; PT Pertamina (Persero)  memutuskan untuk menaikkan harga Elpiji non subsidi kemasan 12 kg.  Kenaikan tersebut menyusul tingginya harga pokok LPG di pasar dan  turunnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan kerugian perusahaan semakin  besar. Dengan konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12 kg selama  2013 yang mencapai 977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan  elpiji rata-rata meningkat menjadi USD873, serta nilai tukar rupiah yang  melemah terhadap dolar, maka kerugian Pertamina sepanjang tahun ini  diperkirakan mencapai lebih dari Rp5,7 triliun. Kerugian tersebut timbul  sebagai akibat dari harga jual Elpiji non subsidi 12 kg yang masih jauh  di bawah harga pokok perolehan.Harga yang berlaku saat ini  merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 2009 yaitu Rp5.850 per kg,  sedangkan harga pokok perolehan kini telah mencapai Rp10.785 per kg.  Dengan kondisi ini maka Pertamina selama ini telah &quot;jual rugi&quot; dan  menanggung selisihnya sehingga akumulasi nilai kerugian mencapai Rp22  triliun dalam 6 tahun terakhir.&quot;Kondisi ini tentunya tidak sehat  secara korporasi karena tidak mendukung Pertamina dalam menjamin  keberlangsungan pasokan elpiji kepada masyarakat,&quot; tutur Vice President  Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir dalam siaran pers, Rabu  (1/1/2014).Terhitung mulai 1 Januari 2014, Pertamina  memberlakukan harga baru Elpiji non subsidi kemasan 12 kg secara  serentak di seluruh Indonesia dengan rata-rata kenaikan di tingkat  konsumen sebesar Rp3.959 per kg. Besaran kenaikan ditingkat konsumen  akan bervariasi berdasarkan jarak SPBBE ke titik serah (supply point).  Dengan kenaikan inipun, Pertamina masih &quot;jual rugi&quot; kepada konsumen  elpiji non subsidi kemasan 12kg sebesar Rp2.100 per kg.Dengan  pola konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12 kg di masyarakat yang  umumnya dapat digunakan untuk 1 hingga 1,5 bulan, kenaikan harga  tersebut akan memberikan dampak tambahan pengeluaran sampai dengan  Rp47.000 per bulan atau Rp1.566 per hari. Kondisi ini diyakini tidak  akan banyak berpengaruh pada daya beli masyarakat mengingat konsumen  Elpiji non subsidi kemasan 12 kg adalah kalangan mampu. Untuk masyarakat  konsumen ekonomi lemah dan usaha mikro, Pemerintah telah menyediakan  LPG 3 kg bersubsidi yang harganya lebih murah. (kie)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; PT Pertamina (Persero)  memutuskan untuk menaikkan harga Elpiji non subsidi kemasan 12 kg.  Kenaikan tersebut menyusul tingginya harga pokok LPG di pasar dan  turunnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan kerugian perusahaan semakin  besar. Dengan konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12 kg selama  2013 yang mencapai 977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan  elpiji rata-rata meningkat menjadi USD873, serta nilai tukar rupiah yang  melemah terhadap dolar, maka kerugian Pertamina sepanjang tahun ini  diperkirakan mencapai lebih dari Rp5,7 triliun. Kerugian tersebut timbul  sebagai akibat dari harga jual Elpiji non subsidi 12 kg yang masih jauh  di bawah harga pokok perolehan.Harga yang berlaku saat ini  merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 2009 yaitu Rp5.850 per kg,  sedangkan harga pokok perolehan kini telah mencapai Rp10.785 per kg.  Dengan kondisi ini maka Pertamina selama ini telah &quot;jual rugi&quot; dan  menanggung selisihnya sehingga akumulasi nilai kerugian mencapai Rp22  triliun dalam 6 tahun terakhir.&quot;Kondisi ini tentunya tidak sehat  secara korporasi karena tidak mendukung Pertamina dalam menjamin  keberlangsungan pasokan elpiji kepada masyarakat,&quot; tutur Vice President  Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir dalam siaran pers, Rabu  (1/1/2014).Terhitung mulai 1 Januari 2014, Pertamina  memberlakukan harga baru Elpiji non subsidi kemasan 12 kg secara  serentak di seluruh Indonesia dengan rata-rata kenaikan di tingkat  konsumen sebesar Rp3.959 per kg. Besaran kenaikan ditingkat konsumen  akan bervariasi berdasarkan jarak SPBBE ke titik serah (supply point).  Dengan kenaikan inipun, Pertamina masih &quot;jual rugi&quot; kepada konsumen  elpiji non subsidi kemasan 12kg sebesar Rp2.100 per kg.Dengan  pola konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12 kg di masyarakat yang  umumnya dapat digunakan untuk 1 hingga 1,5 bulan, kenaikan harga  tersebut akan memberikan dampak tambahan pengeluaran sampai dengan  Rp47.000 per bulan atau Rp1.566 per hari. Kondisi ini diyakini tidak  akan banyak berpengaruh pada daya beli masyarakat mengingat konsumen  Elpiji non subsidi kemasan 12 kg adalah kalangan mampu. Untuk masyarakat  konsumen ekonomi lemah dan usaha mikro, Pemerintah telah menyediakan  LPG 3 kg bersubsidi yang harganya lebih murah. (kie)</content:encoded></item></channel></rss>
