<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Green Construction 15% Lebih Mahal</title><description>Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyadari jika proyek-proyek  Infrastruktur yang digarapnya mengakibatkan perubahan kondisi alam dalam  daur hidupnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2014/03/12/320/953695/green-construction-15-lebih-mahal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2014/03/12/320/953695/green-construction-15-lebih-mahal"/><item><title>Green Construction 15% Lebih Mahal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2014/03/12/320/953695/green-construction-15-lebih-mahal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2014/03/12/320/953695/green-construction-15-lebih-mahal</guid><pubDate>Rabu 12 Maret 2014 09:54 WIB</pubDate><dc:creator>Widi Agustian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/03/12/320/953695/36il26Exyp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/03/12/320/953695/36il26Exyp.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyadari jika proyek-proyek Infrastruktur yang digarapnya mengakibatkan perubahan kondisi alam dalam daur hidupnya. Oleh karena itu Kementerian PU terus berupaya mencari inovasi untuk mengurangi dampak tersebut.Kepala BP Konstruksi Hediyanto W Husaini mengatakan, salah satu upaya tersebut adalah penerapan konsep konstruksi berkelanjutan atau lebih dikenal dengan istilah green construction.&quot;Konsep ini diyakini mampu mereduksi terjadinya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai aktivitas pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia,&quot; kata dia dilansir dari laman Setkab, Rabu (12/3/2014).Dia melanjutkan, green construction dinilai memang lebih mahal 15 persen jika dibandingkan dengan pembangunan konvensional.&quot;Hal ini diakibatkan karena kita terbiasa mengukur biaya pembangunan infrastruktur untuk periode yang relatif pendek dan tidak memperhitungkan biaya berdasarkan siklus hidup yang memberikan persepektif jangka panjang,&amp;rdquo; jelas Hediyanto.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyadari jika proyek-proyek Infrastruktur yang digarapnya mengakibatkan perubahan kondisi alam dalam daur hidupnya. Oleh karena itu Kementerian PU terus berupaya mencari inovasi untuk mengurangi dampak tersebut.Kepala BP Konstruksi Hediyanto W Husaini mengatakan, salah satu upaya tersebut adalah penerapan konsep konstruksi berkelanjutan atau lebih dikenal dengan istilah green construction.&quot;Konsep ini diyakini mampu mereduksi terjadinya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh berbagai aktivitas pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia,&quot; kata dia dilansir dari laman Setkab, Rabu (12/3/2014).Dia melanjutkan, green construction dinilai memang lebih mahal 15 persen jika dibandingkan dengan pembangunan konvensional.&quot;Hal ini diakibatkan karena kita terbiasa mengukur biaya pembangunan infrastruktur untuk periode yang relatif pendek dan tidak memperhitungkan biaya berdasarkan siklus hidup yang memberikan persepektif jangka panjang,&amp;rdquo; jelas Hediyanto.</content:encoded></item></channel></rss>
