<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> BI: Impor Baru Kencang di Kuartal II &amp; III</title><description>Bank Indonesia (BI) menghimbau kepada pemerintah agar serius melakukan diversifikasi energi dalam jangka panjang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2014/05/02/20/979136/bi-impor-baru-kencang-di-kuartal-ii-iii</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2014/05/02/20/979136/bi-impor-baru-kencang-di-kuartal-ii-iii"/><item><title> BI: Impor Baru Kencang di Kuartal II &amp; III</title><link>https://economy.okezone.com/read/2014/05/02/20/979136/bi-impor-baru-kencang-di-kuartal-ii-iii</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2014/05/02/20/979136/bi-impor-baru-kencang-di-kuartal-ii-iii</guid><pubDate>Jum'at 02 Mei 2014 15:01 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/05/02/20/979136/cda0RcDObk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/05/02/20/979136/cda0RcDObk.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menghimbau kepada pemerintah agar serius melakukan diversifikasi energi dalam jangka panjang. Hal ini tidak terlepas dari masih tingginya impor minyak dan gas bumi (migas). Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS-BI) Mirza Adityaswara mengatakan, memang saat ini impor migas yang masih tinggi di level USD3,5-USD3,9 miliar dan memang masih kategori tinggi. Walaupun pada Maret, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD680 juta.&quot;Memang mau tidak mau Indonesia jangka panjang harus ada diversifikasi energi. Karena kalau tidak, kita ini akan impor minyak terus. Kalau impor minyak kan akan membebani neraca perdagangan, neraca pembayaran,&quot; ucap Mirza di Gedung BI, Jakarta, Jumat (2/5/2014).Menurutnya, banyak langkah diversifikasi energi seperti panas bumi (geothermal), masif menggunakan gas, energi matahari dan ini harus dapat dilakukan secara serius.&quot;Walaupun secara umum neraca perdagangan Februari itu surplus. Maret juga surplus. Jadi Current Account Defisit (CAD) harusnya di kuartal I-2014 ini masih sekitar dua persen. Mungkin sedikit lebih tinggi dari dua persen tapi enggak jauh dari perkiraan BI,&quot; sambungnya.Mirza mengungkapkan, yang harus tetap diwaspadai adalah di kuartal II dan kuartal III-2014 karena aktivitas ekonomi kuartal I seasonalitynya lebih rendah dibanding kuartal II dan III, namun di kuartal IV akan turun lagi.&quot;Biasanya aktivitas impor lebih tinggi di kuartal II dan III. Aktivitas ekonomi kuartal I, orang baru mulai aktivitas, Januari-Februari-Maret mulai jalan, baru April baru kenceng. Kalau kita tidak ada kenaikan ekspor yang signifikan, maka itu bisa menjadi tantangan bagi neraca perdagangan,&quot; tegas Mirza.Menurut dia, secara umum kinerja impor non-migas akan lebih rendah dibanding tahun lalu, asal tidak ada akselerasi. Pasalnya, akselerasi akan membebani neraca pembayaran.&quot;Kalau impor migas memang kelihatan tidak turun. Yang turun kan impor non-migas. Kalau di kuartal II dan III ini kemungkinan akselerasi lagi karena seasonalitynya. Maka bagi BI, kita masih harus selalu waspada dan prudent monetary policy, growth,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menghimbau kepada pemerintah agar serius melakukan diversifikasi energi dalam jangka panjang. Hal ini tidak terlepas dari masih tingginya impor minyak dan gas bumi (migas). Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS-BI) Mirza Adityaswara mengatakan, memang saat ini impor migas yang masih tinggi di level USD3,5-USD3,9 miliar dan memang masih kategori tinggi. Walaupun pada Maret, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD680 juta.&quot;Memang mau tidak mau Indonesia jangka panjang harus ada diversifikasi energi. Karena kalau tidak, kita ini akan impor minyak terus. Kalau impor minyak kan akan membebani neraca perdagangan, neraca pembayaran,&quot; ucap Mirza di Gedung BI, Jakarta, Jumat (2/5/2014).Menurutnya, banyak langkah diversifikasi energi seperti panas bumi (geothermal), masif menggunakan gas, energi matahari dan ini harus dapat dilakukan secara serius.&quot;Walaupun secara umum neraca perdagangan Februari itu surplus. Maret juga surplus. Jadi Current Account Defisit (CAD) harusnya di kuartal I-2014 ini masih sekitar dua persen. Mungkin sedikit lebih tinggi dari dua persen tapi enggak jauh dari perkiraan BI,&quot; sambungnya.Mirza mengungkapkan, yang harus tetap diwaspadai adalah di kuartal II dan kuartal III-2014 karena aktivitas ekonomi kuartal I seasonalitynya lebih rendah dibanding kuartal II dan III, namun di kuartal IV akan turun lagi.&quot;Biasanya aktivitas impor lebih tinggi di kuartal II dan III. Aktivitas ekonomi kuartal I, orang baru mulai aktivitas, Januari-Februari-Maret mulai jalan, baru April baru kenceng. Kalau kita tidak ada kenaikan ekspor yang signifikan, maka itu bisa menjadi tantangan bagi neraca perdagangan,&quot; tegas Mirza.Menurut dia, secara umum kinerja impor non-migas akan lebih rendah dibanding tahun lalu, asal tidak ada akselerasi. Pasalnya, akselerasi akan membebani neraca pembayaran.&quot;Kalau impor migas memang kelihatan tidak turun. Yang turun kan impor non-migas. Kalau di kuartal II dan III ini kemungkinan akselerasi lagi karena seasonalitynya. Maka bagi BI, kita masih harus selalu waspada dan prudent monetary policy, growth,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
