<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Dicap Neoliberal, Karen Ber-Image Pahlawan</title><description>Citra Sri Mulyani yang terbentuk adalah sosok neoliberal, sementara Karen Agustiawan dinilai sebagai pahlawan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2014/10/23/20/1056056/sri-mulyani-dicap-neoliberal-karen-ber-image-pahlawan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2014/10/23/20/1056056/sri-mulyani-dicap-neoliberal-karen-ber-image-pahlawan"/><item><title>Sri Mulyani Dicap Neoliberal, Karen Ber-Image Pahlawan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2014/10/23/20/1056056/sri-mulyani-dicap-neoliberal-karen-ber-image-pahlawan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2014/10/23/20/1056056/sri-mulyani-dicap-neoliberal-karen-ber-image-pahlawan</guid><pubDate>Kamis 23 Oktober 2014 15:42 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/10/23/20/1056056/sri-mulyani-dicap-neoliberal-karen-ber-image-pahlawan-8i8MA2NA14.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani Dicap Neoliberal, Karen Berimage Pahlawan. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/10/23/20/1056056/sri-mulyani-dicap-neoliberal-karen-ber-image-pahlawan-8i8MA2NA14.jpg</image><title>Sri Mulyani Dicap Neoliberal, Karen Berimage Pahlawan. (Foto: Okezone)</title></images><description>DEPOK &amp;ndash; Citra Sri Mulyani yang terbentuk adalah sosok neoliberal, sementara Karen Agustiawan dinilai sebagai pahlawan. Kedua pandangan yang bertolak belakang itu mewarnai opini publik dalam bursa calon menteri di kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Donni Edwin, mengatakan, selama ini Sri Mulyani dicap publik pro-neoliberal. Selain itu, image atau opini publik atas namanya juga sempat dikaitkan dengan kasus bailout Bank Century.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/05/02/14485/91228_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

&quot;Sri Mulyani resistensinya karena dianggap pendukung gagasan neolib dan kasus Century. Lebih banyak pada opini publik yang dibangun selama ini di kasus Century yang juga masih berlangsung,&quot; tegasnya saat berbincang di Kampus FISIP UI, Kamis (23/10/2014).

Donni menambahkan, resistensi paling besar terutama ada pada kelas menengah ke atas yang umumnya lebih terdidik. &quot;Opini masyarakat kelas menengah seperti itu,&quot; ungkapnya.

&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNC8wNS8wMi8yMi81MzU0Nw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;

Namun di satu sisi, keputusan Sri Mulyani mundur dari kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu bukan menjadi satu ganjalan. Budaya mundur di Indonesia, kata dia, justru dianggap sebagai sikap positif. Nama lain yakni Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan.

&quot;Budaya mundur dan tidak mundur apakah negatif dan positif. Tapi bagi sebagian orang mundur itu positif, bisa tingkatkan citra. Memang dulu di Zaman Orde Baru mundur itu sebagai hukuman. Tetapi saat ini justru kalau mundur kan berarti kesatria, seperti Karen justru dianggap sebagai pahlawan,&quot; paparnya.</description><content:encoded>DEPOK &amp;ndash; Citra Sri Mulyani yang terbentuk adalah sosok neoliberal, sementara Karen Agustiawan dinilai sebagai pahlawan. Kedua pandangan yang bertolak belakang itu mewarnai opini publik dalam bursa calon menteri di kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Donni Edwin, mengatakan, selama ini Sri Mulyani dicap publik pro-neoliberal. Selain itu, image atau opini publik atas namanya juga sempat dikaitkan dengan kasus bailout Bank Century.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/05/02/14485/91228_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;

&quot;Sri Mulyani resistensinya karena dianggap pendukung gagasan neolib dan kasus Century. Lebih banyak pada opini publik yang dibangun selama ini di kasus Century yang juga masih berlangsung,&quot; tegasnya saat berbincang di Kampus FISIP UI, Kamis (23/10/2014).

Donni menambahkan, resistensi paling besar terutama ada pada kelas menengah ke atas yang umumnya lebih terdidik. &quot;Opini masyarakat kelas menengah seperti itu,&quot; ungkapnya.

&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNC8wNS8wMi8yMi81MzU0Nw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;

Namun di satu sisi, keputusan Sri Mulyani mundur dari kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu bukan menjadi satu ganjalan. Budaya mundur di Indonesia, kata dia, justru dianggap sebagai sikap positif. Nama lain yakni Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan.

&quot;Budaya mundur dan tidak mundur apakah negatif dan positif. Tapi bagi sebagian orang mundur itu positif, bisa tingkatkan citra. Memang dulu di Zaman Orde Baru mundur itu sebagai hukuman. Tetapi saat ini justru kalau mundur kan berarti kesatria, seperti Karen justru dianggap sebagai pahlawan,&quot; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
