<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Volatilitas Rupiah Naikkan Risiko Nilai Tukar</title><description>Volatilitas nilai tukar yang meningkat dalam dua tahun terakhir menaikkan risiko nilai tukar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2014/10/29/20/1058280/volatilitas-rupiah-naikkan-risiko-nilai-tukar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2014/10/29/20/1058280/volatilitas-rupiah-naikkan-risiko-nilai-tukar"/><item><title>Volatilitas Rupiah Naikkan Risiko Nilai Tukar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2014/10/29/20/1058280/volatilitas-rupiah-naikkan-risiko-nilai-tukar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2014/10/29/20/1058280/volatilitas-rupiah-naikkan-risiko-nilai-tukar</guid><pubDate>Rabu 29 Oktober 2014 09:47 WIB</pubDate><dc:creator>Widi Agustian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/10/29/20/1058280/volatilitas-rupiah-naikkan-risiko-nilai-tukar-YUTNcpXtsz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Rupiah. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/10/29/20/1058280/volatilitas-rupiah-naikkan-risiko-nilai-tukar-YUTNcpXtsz.jpg</image><title>Ilustrasi Rupiah. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Volatilitas nilai tukar Rupiah yang meningkat dalam dua tahun terakhir menaikkan risiko nilai tukar sehingga ikut mengurangi utang luar negeri (ULN).

Dapat dicatat bahwa ULN Indonesia pada Agustus 2014 tumbuh sebesar 11,2 persen (yoy) mencapai USD290,37 miliar. Demikian terungkap dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Kenaikan ULN tersebut terutama terjadi di sektor swasta yang selama dua tahun terakhir melonjak dari sekitar USD126,25 miliar pada tahun 2012 menjadi USD156,16 miliar pada Agustus 2014 sehingga pangsa ULN sektor swasta telah mencapai 54 persen dari total ULN Indonesia.

Memperhatikan perkembangan tersebut, Bank Indonesia (BI) mengelola pergerakan siklus keuangan melalui kebijakan makroprudensial. Sebagian dari kebijakan makroprudensial yang telah diterapkan selama ini sudah mulai tampak hasilnya pada perilaku amplitudo siklus keuangan.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/10/27/16925/105438_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Volatilitas Rupiah Naikkan Risiko Nilai Tukar

Sebagai contoh kedalaman penurunan siklus keuangan 2005-2009 lebih rendah dibandingkan dengan krisis sekitar 1998. Begitu pula dengan durasi peak-through pada siklus keuangan 2005-2009 yang lebih pendek dari durasi siklus ketika terjadi krisis ekonomi-moneter 1997-1998.
</description><content:encoded>JAKARTA - Volatilitas nilai tukar Rupiah yang meningkat dalam dua tahun terakhir menaikkan risiko nilai tukar sehingga ikut mengurangi utang luar negeri (ULN).

Dapat dicatat bahwa ULN Indonesia pada Agustus 2014 tumbuh sebesar 11,2 persen (yoy) mencapai USD290,37 miliar. Demikian terungkap dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (29/10/2014).

Kenaikan ULN tersebut terutama terjadi di sektor swasta yang selama dua tahun terakhir melonjak dari sekitar USD126,25 miliar pada tahun 2012 menjadi USD156,16 miliar pada Agustus 2014 sehingga pangsa ULN sektor swasta telah mencapai 54 persen dari total ULN Indonesia.

Memperhatikan perkembangan tersebut, Bank Indonesia (BI) mengelola pergerakan siklus keuangan melalui kebijakan makroprudensial. Sebagian dari kebijakan makroprudensial yang telah diterapkan selama ini sudah mulai tampak hasilnya pada perilaku amplitudo siklus keuangan.

&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/10/27/16925/105438_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Volatilitas Rupiah Naikkan Risiko Nilai Tukar

Sebagai contoh kedalaman penurunan siklus keuangan 2005-2009 lebih rendah dibandingkan dengan krisis sekitar 1998. Begitu pula dengan durasi peak-through pada siklus keuangan 2005-2009 yang lebih pendek dari durasi siklus ketika terjadi krisis ekonomi-moneter 1997-1998.
</content:encoded></item></channel></rss>
