<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mata Uang Dunia Terjungkal Mirip Krisis 1998</title><description>Pelaku ekonomi tengah waswas dengan situasi ekonomi saat ini. Sebab, keadaannya mirip dengan krisis 1998.
&amp;nbsp;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2014/12/16/278/1079987/mata-uang-dunia-terjungkal-mirip-krisis-1998</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2014/12/16/278/1079987/mata-uang-dunia-terjungkal-mirip-krisis-1998"/><item><title>Mata Uang Dunia Terjungkal Mirip Krisis 1998</title><link>https://economy.okezone.com/read/2014/12/16/278/1079987/mata-uang-dunia-terjungkal-mirip-krisis-1998</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2014/12/16/278/1079987/mata-uang-dunia-terjungkal-mirip-krisis-1998</guid><pubDate>Selasa 16 Desember 2014 15:27 WIB</pubDate><dc:creator>Rani Hardjanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/12/16/278/1079987/mata-uang-dunia-terjungkal-mirip-krisis-1998-rG4qeiK20a.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mata Uang Dunia Terjungkal Mirip Krisis 1998 (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/12/16/278/1079987/mata-uang-dunia-terjungkal-mirip-krisis-1998-rG4qeiK20a.jpg</image><title>Mata Uang Dunia Terjungkal Mirip Krisis 1998 (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Pelaku ekonomi tengah waswas dengan situasi ekonomi saat ini. Sebab, keadaannya mirip dengan krisis 1998.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (16/12/2014), ekonomi Venezuela terperosok dalam krisis keuangan. Rusia mengambil kebijakan moneter secara mendadak dengan menaikkan tingkat suku bunga di luar ekspektasi pasar. Bahkan, Negeri Beruang Merah tersebut terancam default dan devaluasi.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/10/31/16990/105840_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Saat ini sejumlah mata uang di emerging market terjungkal akibat penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Rupiah pada perdagangan pagi ini dibuka ke level Rp12.791 per USD, lalu terus melemah ke Rp12.937 per USD. Posisi tersebut merupakan rekor terburuk sepanjang perjalanan Rupiah, bahkan saat krisis 1998, Rupiah hanya di level Rp16.800 per USD.

Namun, Bank Indonesia (BI) langsung turun ke pasar valuta asing siang ini, dengan melakukan intervensi. Alhasil, Rupiah pada pukul 14.47 WIB dipukul mundur 236 poin ke level Rp12.701 per USD.

Berdasarkan data Litbang Okezone, jatuhnya nilai tukar Rupiah tidak sendiri. Tercatat peso Filipina melemah 0,35 persen, bath Thailand melemah 0,50 persen, ringgit Malaysia melemah 0,56 persen, Rupiah melemah 1,34 persen, won Korea 4,05 persen, dolar Australia melemah 20,48 persen, rupee India melemah 39,14 persen, dan yen Jepang melemah hingga 41,69 persen.
&amp;nbsp;
 
Sekelumit cerita krismon 1998 di Indonesia

Pada Oktober 2014, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Sudibjo pernah menyatakan, bahwa potensi krisis di Indonesia ada tapi tidak sebesar 1998. Hal itu dikarenakan kondisi Indonesia saat ini dengan 1998 sangat berbeda.

Namun yang membedakan, krisis 1998 itu tidak semata-mata akibat moneter dan ekonomi. Namun ada nuansa politik. Saat itu, cerita Bambang, Presiden Soeharto merupakan pelindung bisnis-bisnis besar di Indonesia. Ketika pelindungnya sudah tua, lanjut Bambang, pebisnis besar mulai takut dan berencana menarik uangnya dari Indonesia ke luar negeri.

&quot;Pasar sudah tahu kalau Soeharto tidak akan lama lagi akan lengser. Bisnisnya ketakutan, lalu uangnya mereka dipindahkan ke luar negeri,&quot; jelas dia.

Ketika secara serentak dilakukan penarikan uang, keseimbangan makroekonomi Indonesia saat itu seketika goyang.

&quot;Kondisi sekarang tidak separah itu. Potensi ada tapi tidak sebesar 1998. Selalu akan ada cara asal dilakukan dengan benar karena Tuhan berpihak dengan orang benar. Kalau Jokowi konsisten melakukan yang benar, Tuhan akan bersama kita,&quot; ungkap dia.

Boediono Pernah Memberikan Sinyal

Sekadar diketahui, perekonomian Indonesia pernah mengalami goncangan yang cukup signifikan pada 1998 dan 2008 yang ditunjukkan dengan jatuhnya nilai tukar Rupiah.

Pada 2014 ini Rupiah kembali menoreh sejarah kelam. Meskipun demikian, pelemahan Rupiah didominasi faktor eksternal.  Situasi yang terjadi saat ini pernah diprediksi oleh Wakil Presiden Boediono. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) the Fed telah memutuskan untuk melakukan pengurangan stimulus secara bertahap dari USD85 miliar menjadi USD75 miliar.

Mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono menjelaskan, kondisi pada tahun 2008 tersebut sangat berbeda karakteristiknya 2014.

&quot;Bedanya sangat besar, bahwa tapering off trigger-nya bukan bangkrutnya perusahaan finansial. Ini timbul karena recovery negara maju seperti Amerika, dan ini ada waktu untuk respons. Beda tahun lalu ada ledakannya, sehingga semua tidak siap menghadapinya. Dengan itu saya pikir kita tidak terlalu kaget menghadapi ini,&quot; ucap Boediono saat acara Pembukaan Perdagangan Pasar Modal Tahun 2014, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 2 Januari 2014.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pelaku ekonomi tengah waswas dengan situasi ekonomi saat ini. Sebab, keadaannya mirip dengan krisis 1998.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (16/12/2014), ekonomi Venezuela terperosok dalam krisis keuangan. Rusia mengambil kebijakan moneter secara mendadak dengan menaikkan tingkat suku bunga di luar ekspektasi pasar. Bahkan, Negeri Beruang Merah tersebut terancam default dan devaluasi.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/10/31/16990/105840_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Saat ini sejumlah mata uang di emerging market terjungkal akibat penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Rupiah pada perdagangan pagi ini dibuka ke level Rp12.791 per USD, lalu terus melemah ke Rp12.937 per USD. Posisi tersebut merupakan rekor terburuk sepanjang perjalanan Rupiah, bahkan saat krisis 1998, Rupiah hanya di level Rp16.800 per USD.

Namun, Bank Indonesia (BI) langsung turun ke pasar valuta asing siang ini, dengan melakukan intervensi. Alhasil, Rupiah pada pukul 14.47 WIB dipukul mundur 236 poin ke level Rp12.701 per USD.

Berdasarkan data Litbang Okezone, jatuhnya nilai tukar Rupiah tidak sendiri. Tercatat peso Filipina melemah 0,35 persen, bath Thailand melemah 0,50 persen, ringgit Malaysia melemah 0,56 persen, Rupiah melemah 1,34 persen, won Korea 4,05 persen, dolar Australia melemah 20,48 persen, rupee India melemah 39,14 persen, dan yen Jepang melemah hingga 41,69 persen.
&amp;nbsp;
 
Sekelumit cerita krismon 1998 di Indonesia

Pada Oktober 2014, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Sudibjo pernah menyatakan, bahwa potensi krisis di Indonesia ada tapi tidak sebesar 1998. Hal itu dikarenakan kondisi Indonesia saat ini dengan 1998 sangat berbeda.

Namun yang membedakan, krisis 1998 itu tidak semata-mata akibat moneter dan ekonomi. Namun ada nuansa politik. Saat itu, cerita Bambang, Presiden Soeharto merupakan pelindung bisnis-bisnis besar di Indonesia. Ketika pelindungnya sudah tua, lanjut Bambang, pebisnis besar mulai takut dan berencana menarik uangnya dari Indonesia ke luar negeri.

&quot;Pasar sudah tahu kalau Soeharto tidak akan lama lagi akan lengser. Bisnisnya ketakutan, lalu uangnya mereka dipindahkan ke luar negeri,&quot; jelas dia.

Ketika secara serentak dilakukan penarikan uang, keseimbangan makroekonomi Indonesia saat itu seketika goyang.

&quot;Kondisi sekarang tidak separah itu. Potensi ada tapi tidak sebesar 1998. Selalu akan ada cara asal dilakukan dengan benar karena Tuhan berpihak dengan orang benar. Kalau Jokowi konsisten melakukan yang benar, Tuhan akan bersama kita,&quot; ungkap dia.

Boediono Pernah Memberikan Sinyal

Sekadar diketahui, perekonomian Indonesia pernah mengalami goncangan yang cukup signifikan pada 1998 dan 2008 yang ditunjukkan dengan jatuhnya nilai tukar Rupiah.

Pada 2014 ini Rupiah kembali menoreh sejarah kelam. Meskipun demikian, pelemahan Rupiah didominasi faktor eksternal.  Situasi yang terjadi saat ini pernah diprediksi oleh Wakil Presiden Boediono. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) the Fed telah memutuskan untuk melakukan pengurangan stimulus secara bertahap dari USD85 miliar menjadi USD75 miliar.

Mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono menjelaskan, kondisi pada tahun 2008 tersebut sangat berbeda karakteristiknya 2014.

&quot;Bedanya sangat besar, bahwa tapering off trigger-nya bukan bangkrutnya perusahaan finansial. Ini timbul karena recovery negara maju seperti Amerika, dan ini ada waktu untuk respons. Beda tahun lalu ada ledakannya, sehingga semua tidak siap menghadapinya. Dengan itu saya pikir kita tidak terlalu kaget menghadapi ini,&quot; ucap Boediono saat acara Pembukaan Perdagangan Pasar Modal Tahun 2014, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 2 Januari 2014.
</content:encoded></item></channel></rss>
