<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menperin Malas Tanggapi Isu Reshuffle</title><description>Ada beberapa menteri yang dianggap perform dalam melakukan tugasnya, namun tidak sedikit juga yang dianggap gagal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/02/06/320/1102322/menperin-malas-tanggapi-isu-reshuffle</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/02/06/320/1102322/menperin-malas-tanggapi-isu-reshuffle"/><item><title>Menperin Malas Tanggapi Isu Reshuffle</title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/02/06/320/1102322/menperin-malas-tanggapi-isu-reshuffle</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/02/06/320/1102322/menperin-malas-tanggapi-isu-reshuffle</guid><pubDate>Jum'at 06 Februari 2015 14:53 WIB</pubDate><dc:creator>Meutia Febrina Anugrah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/02/06/320/1102322/menperin-malas-tanggapi-isu-resuffle-P8Ad450qGF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Perindustrian Saleh Husein. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/02/06/320/1102322/menperin-malas-tanggapi-isu-resuffle-P8Ad450qGF.jpg</image><title>Menteri Perindustrian Saleh Husein. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) sudah berlangsung selama 100 hari memang cukup menjadi sorotan. Ada beberapa menteri yang dianggap perform dalam melakukan tugasnya, namun tidak sedikit juga yang dianggap gagal.


Akibatnya, isu reshuffle kabinet pun mulai berhembus menyerang menteri-menteri dalam kabinet yang dibentuk Jokowi. Salah satunya adalah Menteri Perindustrian Saleh Husin.
Meski demikian, dia mengatakan belum mengetahui adanya isu ini. &quot;Wah saya enggak tahu itu,&quot; kata dia pada Okezone usai ditemui rapat kerja dengan Komisi II DPP RI, Jumat (6/2/2015).
Menperin terlihat enggan mengomentari isu ini dan memilih untuk melakukan tugasnya seperti menteri seperti biasa. &quot;Pokoknya kita kerja, kerja, dan kerja sajalah,&quot; tukasnya.
Seperti diketahui, dalam survei yang dilakukan oleh Lembaga Klimatologi Politik (LKP), hanya ada lima menteri dalam kabinet Jokowi-JK yang mendapat rapor biru alias nilai positif. Adapun kelima menteri yang mendapat rapor biru tersebut secara berurutan adalah Susi Pudjiastuti, Yuddy Chrisnandi, Marwan Djafar, Rachmat Gobel, dan Anies Baswedan.
LKP melakukan riset ini dengan menggunakan metode media monitoring terhadap 10 surat kabar nasional terkemuka, dan 10 media online yang paling banyak diakses publik. Riset dilakukan sejak 1 November 2014 hingga 31 Januari 2015 dengan margin error lebih kurang 3,5 persen.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) sudah berlangsung selama 100 hari memang cukup menjadi sorotan. Ada beberapa menteri yang dianggap perform dalam melakukan tugasnya, namun tidak sedikit juga yang dianggap gagal.


Akibatnya, isu reshuffle kabinet pun mulai berhembus menyerang menteri-menteri dalam kabinet yang dibentuk Jokowi. Salah satunya adalah Menteri Perindustrian Saleh Husin.
Meski demikian, dia mengatakan belum mengetahui adanya isu ini. &quot;Wah saya enggak tahu itu,&quot; kata dia pada Okezone usai ditemui rapat kerja dengan Komisi II DPP RI, Jumat (6/2/2015).
Menperin terlihat enggan mengomentari isu ini dan memilih untuk melakukan tugasnya seperti menteri seperti biasa. &quot;Pokoknya kita kerja, kerja, dan kerja sajalah,&quot; tukasnya.
Seperti diketahui, dalam survei yang dilakukan oleh Lembaga Klimatologi Politik (LKP), hanya ada lima menteri dalam kabinet Jokowi-JK yang mendapat rapor biru alias nilai positif. Adapun kelima menteri yang mendapat rapor biru tersebut secara berurutan adalah Susi Pudjiastuti, Yuddy Chrisnandi, Marwan Djafar, Rachmat Gobel, dan Anies Baswedan.
LKP melakukan riset ini dengan menggunakan metode media monitoring terhadap 10 surat kabar nasional terkemuka, dan 10 media online yang paling banyak diakses publik. Riset dilakukan sejak 1 November 2014 hingga 31 Januari 2015 dengan margin error lebih kurang 3,5 persen.
</content:encoded></item></channel></rss>
